Thursday, 12 August 2010

BILAL BIN RABAH- MUADDZIN RASULULLAH, LAMBANG PERSAMAAN DERAJAT MANUSIA

Salams Ramadhan Kareem,

Pertamanya, saya mohon sejuta kemaafan diatas segala kekhilafan, mungkin banyak entri saya yang menusuk jiwa hingga tercalar dan menggores hati para pembaca. Sejujurnya, mungkin jua entri saya ditulis dengan sinikal sekali, dengan harapan ada yang berubah, tetapinya, mungkin cara nya itu tidak berhikmah sekali. Dan disini, saya dengan rendah hati sekali lagi memohon maaf, dan semoga Ramadhan ini, adalah Ramadhan yang terbaik sekali buat kita. Syukurlah, kita diberi kesempatan yang sangat mahal menghirup udara Ramadhan.

Kadang-kadang, entri saya enteng-enteng sekali, ngga punya pengajaran buat para pembaca, kadang-kadang ditulis semasa keadaan sangat jemu dan akhirnya penghasilan tulisan yang bukan ditulis kerana-Nya. Sedangkan semua perbuatan kita hendaklah kerana-Nya, hanya kerana-Nya. Nah, sempena Ramadhan al-Mubarak ini, saya ingin persembahkan kisah-kisah sahabat-sahabat Rasulullah saw yang mulia itu, kerana kini saya berjaya menemui buku yang sangat saya cintai ini. Saya membesar dengannya, 'dicuri' dari ayahanda, dan ingin benar sekali saya berkongsi dengan anda. Entri berkenaan dengan Mush'ab bin Umair, Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghifari sudah saya persembahkan (click sahaja pada nama mereka), tetapi kali ini, entrinya akan pendek-pendek, saya persembahkan perenggan yang terbaik hasil karya Khalid Muhammad Khalid ini - Rijal Haolar Rasul. Segala kehebatan dan kedahsyatan peribadi mereka, adalah ditempa lansung dari Mahaguru Teragung - Nabi Muhamad saw, saya ngga bisa berbicara mengenai baginda, kerana ada blog yang lebih mulia dalam merakamkan segala-galanya mengenai baginda. Ya Rasulullah, aku sangat merinduimu.

Dan sayugia diingatkan, mereka ini mewakili ribuan sahabat-sahabat Baginda saw, yang beriman kepadanya, dan tampil sebagai pembelanya. Dalam kisah ini, akan dapat kita nikmati keimanan mereka, keteguhan hati, kepahlawanan dan kecintaan mereka kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Kita lihat derma yang telah mereka baktikan, penderitaan yang mereka tanggungkan dan akhirnya kemenangan yang mereka peroleh. Kita lihat tahap perjuangan yang menarik, di saat mereka bangkit membebaskan seluruh kemanusiaan dari keberhalaan jiwa dan tujuan hidup yang sia-sia.

Semoga hasil perkongsian saya membuahkan pahala yang tidak terkira, menjadi saksi di masa pertimbangan kelak, dan saya harap benar, anda menyebarkannya dengan seluas-luasnya, tanpa di creditkan kepada saya. Makanya, terimalah kisah ke-empat - Bilal bin Rabah - Muaddzin Rasulullah...Lambang Persamaan Derajat Manusia.



1
Bila disebut nama Abu Bakar, maka Umar akan berkata: "Abu BAkar adalah pemimpin kita, yang telah memerdekakan pemimpin kita." Maksudnya ialah Bilal...

Seorang yang diberi gelar oleh Umar "pemimpin kita", tentulah suatu peribadi besar yang layak beroleh kehormatan seperti itu! Tetapi setiap menerima pujian yang ditujukan kepada dirinya, maka laki-laki yang berkulit hitam, kurus kerempeng, tinggi jangkung, berambut lebat dan bercambang tipis - sebagai dilukiskan oleh ahli-ahli riwayat - akan menundukkan kepala dan memejamkan mata, serta denga air mata mengalir membasahi pipinya, akan berkata: "saya hanyalah seorang Habsyi...dan kelmarin saya adalah budak belian!".

Nah, siapakah kiranya orang Habsyi yang kemarin masih jadi budak belian ini....? Itulah dia Bilal b. Rabah, muaddzin Islam dan penggoncang berhala yang dipuja Quraisy sebagai tuhan! Ia merupakan salah satu keajaiban iman dan kebenaran! Salah satu mu'jizat Alam yang maha besar!

Dari tiap sepuluh orang, semenjak munculnya Agama itu sampai sekarang, bahkan sampai kapan saja dikehendaki Allah swt, kita akan menemukan sedikitnya tujuh orang yang kenal terhadap Bilal. Artinya dalam lintasan kurun dan generasi, terdapat jutaan manusia yang mengenal Bilal, hafal akan namanya dan tahu riwayatya secara lengkap, sebagaimana mereka kenal akan dua Khalifah terbesar dalam Islam (Abu Bakar dan Umar).

Anda akan dapat menanyakan kepada setiap anak yang masih merangkak pada tahun-tahun pelajaran dasarnya; baik di Mesir, Pakistan, Indonesia atau China...di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa dan Asia...di Iraq, Syiria, Turki, Iran dan Sudan...pendeknya di seluruh permukaan bumi yang didiami oleh Kaum Muslimin...anda akan dapat menanyakan kepada setiap remaja Islam: "Siapakan Bilal itu, wahai buyung?". Tentulah akan keluar jawapnya yang lancar: "Ia adalah muazin Rasul. Asalnya budak, yang disiksa oleh tuannya dengan batu panas, agar dia meninggalkkan Islam, tetapi jawapnya...Ahad...Ahad...Ahad....Allah Maha Tunggal...Allah Maha Tunggal!"

( Nota editor: Dan saya ngga bisa menghuraikan siksa yang dikenakan oleh majikannya yang terkutuk itu, Umayah b. Khalaf, kerana setiap saat sebelum terbebasnya Bilal, adalah dipenuhi dengan siksaan yang sangat kejam, yang anda sendiri ngga bisa membacanya).



2
Waktu pagi hampir berlalu, waktu dhuhur dekat menjelang, dan Bilal pun dibawa orang ke padang pasir, tetapi tetap shabar dan tabah, tenang tidak tergoyah. Sementara mereka menyiksanya, tiba-tiba datanglah Abu Bakar Shiddiq, serunya: "Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki kerena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah?!" Kemudian katanya kepada Umayah bin Khlaf: "Terimalah ini untuk tebusannya, lebih tinggi dari harganya, dan bebaskanlah ia...!"

Bagai orang yang hampir tenggelam, tiba-tiba diselamatkan oleh sampan penolong, demikianlah halnya Umayah saat itu, hatinya lega dan merasa amat beruntung demi didengarnya Abu Bakar hendak menebus budaknya. Ia telah berputus asa akan dapat menundukkan Bilal. Apalagi mereka adalah orang-orang saudagar, dengan dijualnya Bilal mereka akan melihat keuntungan yang tidak akan diperoleh dengan jalan membunuhnya.

Dijualnya Bilal kepada Abu Bakar yang segera membebaskannya, dan dengan demikian Bilal pun tampillah mengambil tempatnya dalam lingkungan orang-orang merdeka....dan ketika As-Siddiq mengepit Bilal membawanya ke alam bebas, berkatalah Umayah: "Bawalah ia! Demi Lata dan 'Uzza, seandainya harga tebusannya tak lebih dari satu ugia, pastilah ia akan ku lepaskan jua!"

Abu Bakar arif akan keputusannya dan pahitnya kegagalan yang tersirat didalam ucapan itu, hingga lebih baik tidak dilayaninya.

Tetapi kerena ini menyangkut kehormatan seorang laki-laki yang sekarang sudah menjadi saudara yang tak berbeda dengan dirinya, maka jawapnya kepada Umayah: "Demi Allah, seandainya kalian tak hendak menjualnya kecuali seratus ugia, pastilah ku bayar jua!"

Kemudian pergilah Abu Bakar dan shahabatnya itu kepada Rasulullah saw dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasannya, maka saat itu pun tak ubah bagai hari raya besar jua...!



3
Rasulullah saw pergi meninggalkan alam fana dan naik ke rafiqul a'la dengan keadaan redha dan diredhai, dan penanggungjawap Kaum Muslimin sepeninggalan beliau dibebankan di atas pundak khalifahnya Abu Bakar as-Siddiq.

Bilal pergi mendapatkan khalifah Rasulullah, menyampaikan isi hatinya. "Wahai Khalifah Rasulullah, saya mendengar Rasulullah bersabda:

Amal orang Mu'min yang utama adalah jihad fi sabilillah.

"Jadi, apa maksudmu, wahai Bilal?", tanya Abu Bakar.

"Saya ingin berjuang di jalan Allah sampai saya meninggal dunia," ujar Bilal.

"Siapa lagi yang akan menjadi muaddzin bagi kami?", tanya Abu Bakar pula.

Dengan air mata berlinang, Bilal menjawap, "Saya takkan menjadi muadzzin lagi bagi orang lainsetelah Rasulullah."

"Tidak," kata Abu Bakar, "tetaplah tinggal disini hai Bilal, dan menjadi muaddzin kami!"

"Seandainya anda memerdekakan saya dulu adalah untuk kepentingan anda, baiklah saya terima permintaan anda itu. Tetapi bila anda memerdekakan saya kerna Allah, biarlah diri saya untuk Allah sesuai dengan maksud baik anda itu!"

"Tak lain saya memerdekakanmu itu, hai Bilal, semata-mata kerana Allah!"

Kemudian mengenai kelanjutannya terjadi perbedaan pendapat di antara para ahli riwayat. Sebahagian meriwayatkan bahwa ia pergi ke Syria dan menetap di sana sebagai pejuang dan mujahid. Sementara menurut yang lainnya, ia menerima permintaan Abu Bakar untuk tinggal bersamanya di Madinah. Kemudian setelah Abu Bakar wafat dan Umar diangkat sebagai khalifah, barulah Bilal minta idzin dan mohon diri kepadanya, lalu berangkat ke Syria.

Bagaimanapun juga, Bilal telah menadzarkan sisa hidup dan usiannya untuk berjuang menjaga benteng-benteng Islam di perbatasan, dan membulatkan tekadnya untuk dapat menjumpai Allah dan Rsul-Nya, sewaktu ia sedang melakukan amal yang paling disukai oleh keduanya...dan suaranya yang syahdu, dalam dan penuh wibawa itu, tidak lagi mengumandangkan adzan seperti biasa. Sebabnya ialah kerena demi ia membaca " Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah", maka kenangan lamanya bangkit kembali, dan suaranya tertelan oleh kesedihan, digantikan oleh cucuran tangis dan air mata...

Adzannya yang terakhir ialah ketika Umar sebagai Amirul Mu'minin datang ke Syria. Orang-orang menggunakan kesempatan tersebut dengan memohon kepada khalifah untuk meminta Bilal menjadi muaddzin bagi satu sholat sahaja. Amirul Mukminin memanggil Bilal; ketika waktu sholat telah tiba maka dimintanya ia menjadi muaddzin.

Bilal pun naik ke menara dan adzanlah....Shahabat-shahabat yang pernah mendapati Rasulullah di waktu Bilal menjadi muaddzinnya sama-sama menangis mencucurkan air mata, yang tak pernah mereka lakukkan selama ini....sedang yang paling keras tangisnya di antara mereka ialah Umar....!


(Nota editor: nah, ini sebahagin kecil dari kisah indah hidup Bilal, dialu-alukan pada sesiapa yang sudi menokok-nambah cerita-cerita sahabat Nabi ini. Salam Ramadhan.)

Friday, 6 August 2010

Innalillah wa-inna ilaihi raji’un

Salams,

Kata adik saya, dia jahat sekali, menggores kereta yang Abah baru beli dengan hasil jualan kelapa sawit. Sambung adik lagi, dia turut sekali menggores kereta kawan yang dibeli dengan hasil titik peluh ibunya yang berniaga di pasar malam. Kata adik, kalau mahu disenaraikan 'kejahatan' dia, tak terlarat katanya. Bonda dan saya menyabarkan adik, mengatakan mungkin ini kifarah kita, dan moga-moga Sang Maha Pengasih itu mengangkat darjat kita ke tempat yang lebih tinggi.

Tidak pernah terlintas didalam fikiran dan hati kami bahawa sesuatu yang buruk akan terjadi kepada dia. Bahkan, orang-orang yang lebih jahat dari dia tidak pernah dibalas Tuhan lagi, duit rakyat habis dikikis, harta negara habis dicuri, rakyat dibunuh sewenang-wenangnya, rakyat dikuras sehabis-habisnya, dan kalau mahu disenarai panjangkan lagi, saya bimbang saya akan dijangkiti penyakit darah tinggi.

Dengan takdir Ilahi, dia kemalangan dua hari lepas. Tangan dan kakinya patah, darah beku di otak dan dadanya pecah. Dia bawa BMW milik keluarganya, dan berlanggar dengan lori di jalan Grik-Jeli. Keretanya remuk sehingga enginnya hancur. Dua tayar depan lori tersebut tercabut. Dia dibawa ke hospital Kubang Kerian yang mengambil masa dua jam setengah. Saya pernah memandu di sana, di dalam cuaca baik mahupun cuaca terburuk saya pernah lalui dalam sejarah pemanduan berhemah saya. And let me tell you something, the road seems cheerful when the sun shines, but horribly scary during the worse weather. It is the worst road I've ever drove on.

Dia meningal dunia hari ini, pukul 3 Jumaat pagi. “Innalillah wa-inna ilaihi raji’un – Truly to Allah we belong, and truly to Him shall we return”. Dia baru berusia 25 tahun. Bonda kata, ini pasti roh orang yang beriman, kerana Allah swt memanggilnya pada hari yang paling mulia di dalam Islam. SubhanAllah, apa amalannya hingga dipanggil Sang Pengasih itu, hingga diberi kemuliaan terbang menuju alam barzah pada hari ini? Dan siapa kita mahu mengadili dia berdasarkan amalan-amalannya yang terdahulu?

Semoga kita semua sempat merasai Ramadhan yang mulia ini. Semoga segala kekhilafan kita dimaafkan dan diampuni-Nya. Dan yakinlah segala amalan kita ini, jikalau tidak diizinkan oleh Allah swt itu, tidak mampu jua kita lakukan. Apa yang digerakkan oleh Allah swt untuk kita perbuatkan, bersyukurlah diatas nikmat-Nya yang teragung. Dan dalam kita mencela-cela amalan orang, perbaikilah dahulu amalan kita. Sayugia saya mahu mengingatkan, tiada bezanya antara kita, yang membezakan adalah taqwa. Ayuh, mari kita berlari menggapai Redha-Nya.


إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عَندَ اللَّهِ أَتْقَـكُمْ

“….Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian…” [alHujurat (49) : 13]



Kepada pembaca setia, pasti anda masih ingat dengan Lady Durham, yang membantu saya dengan kertas kedua saya. Tanpa bantuan Allah swt melalui dia, pasti sahaja sehingga kini kertas saya tidak selesai lagi. Mohon pembaca sekalian menghadiahkan al-Fatihah pada ibu beliau, yang kembali ke rahmatullah baru-baru ini. Jua al-Fatihah kepada rakan adik saya.

Al-Fatihah.

Saturday, 24 July 2010

MARHABAN

Salams,

Marhaban ya Ramadhan.

It has been a year. And what a year it has been. Hope the years coming will be a witness to the transformations worthy of the praises from the Above.

Marhaban ya Ramadhan.

Tuesday, 20 July 2010

SANTAI: LAWAK WORLD CUP








Salams,

What's life without challenges? And what's life without unhappiness and sadness? But what a life if without His Rahmah and His Grace.

Here are the pictures that have made my days, my word, Germany is the most efficient team. The comment from a fan during the Germany vs. Australia match -From Lee, Sheffield: "Germans making it look so, so easy. Why couldn't England do this? They'll murder us in the second round."

And the BBC pundits' commentary for the match between Germany and Argentina:

76 mins Commentary -
I spent half of yesterday reeling. I need to find a new word for this sensation, because it's happening too often at the moment. This
World Cup. This South African World Cup. What are you doing to us? (My comment - He was devastated because Holland won over Brazil yesterday)

83 mins
Commentary -
This isn't just a beating, it's a destruction - and the destroyer-in-chief is Bastian Schweinsteiger. On this performance, you'd be hard pressed to find a more influential footballer in the world, he's been absolutely magnificent.

90 mins
INJURY TIME-
We'll have one minute of added time. The officials clearly do not want to prolong Argentina's misery.

16:48 FULL-TIME Argentina 0-4 Germany
That is one of the most stunningly one-sided World Cup quarter-finals you could ever imagine seeing.

16:51 Commentary -
Don't cry for me, Argentina. Maxi Rodriguez and some of his team-mates are in tears and as always, it's hard to watch. But Germany - where have you come from? This team, it's just outrageous.


:) I know, my analysis may rest in peace.






Saturday, 10 July 2010

Salams,

Saya suka hadis-hadis yang membicara kan kelebihan-kelebihan, ganjaran-ganjaran yang Allah swt janjikan kepada mereka-mereka yang membuat amal ibadat yang ikhlas. Dan di dalam al-Quran sudah terlalu banyak ayat-ayat yang menyatakan janji Allah swt kepada mereka yang beriman dan beramal soleh.

Tetapi kebelakangan ini, saya sudah mulai dengar bahawa hadis-hadis ini palsu, dan kita seharusnya beramal kerana Allah swt, bukan kerana ganjarannya. Ya, saya ini naif, maafkan saya sekiranya tulisan ini akan memberikan provokasi dalam diri anda.

Yang saya tahu, Allah swt itu Maha Baik, ganjarannya, masyaAllah, tidak terhitung. Apa salahnya saya percaya sekiranya kalau saya solat terawikh misalannya, di malam pertama Ramadhan yang mulia, keluar dosa-dosa orang mukmin pada malam pertama sepertimana ia baru dilahirkan, mendapat keampunan dari Allah? Apa salah nya saya membuat amalan kerana mahu ganjarannya? Ganjarannya itu, saya sangat percaya, bukan setakat mendapat keampunan misalannya, bahkan perlindungan-Nya, rahmah-Nya, kasih-sayang-Nya, cinta-Nya, bantuan-Nya, redha-Nya. Apa anda ngga mahu semua ini? Mustahil.

Saya mahukan perlindungan Dia, dari segala yang saya takuti, dari fitnah jin dan manusia, dari serangan binatang buas dan binatang melata, dari fitnah Dajjal, siksa kubur dan neraka. Saya mahu bantuan-Nya dalam membuat analysis saya, dalam menulis thesis saya, dalam memahami segala theories berat, dalam segala perbuatan saya. Saya mahu redha-Nya dalam apa jua saya lakukan, misalannya turun ke London kerana silaturrahim. Saya mahu ampunan-Nya, kerana saya ini punya dosa setinggi langit, ya, terlebih-lebih lagi dosa dari anda.

Dan kalau ganjarannya di ampuni dosa kita misalannya, wah, ini tawaran lumayan bukan? Sedangkan SUKUK saham yang dikatakan menurut landasan syariah (shari'a compliance) itu sudah berjuta-juta ramainya memburu kerana ganjaran menarik menanti di akhir waktunya (period), ini kan pula kelebihan-kelebihan bulan-bulan Ramadhan, Sya'ban dan Rejab misalannya. Atau ganjaran kepada sesiapa yang selawat ke atas Rasullulah saw misalannya, atau mereka yang beramal membaca yassin pagi petang siang malam misalannya. Atau membaca maksurat misalannya. Atau sahaja melakukan apa-apa sahaja, kerana dia percaya atas janji Tuhannya yang akan membalas segala amal-amalnya.

Kerana mereka yang menentang hadis-hadis ini mungkin punya kebimbangan yang lain, yang ngga mungkin saya dapat kupas disini. Tetapi bagi saya, pedulik sahaja kepada mereka yang mahu merendah-rendahkan agama kita ini, merendah-rendahkan hadis-hadis yang menyatakan ganjaran-ganjaran menanti, saya percaya, Allah swt itu lebih-lebih lagi membalasnya.

Kerana bagi saya, hanya tiga perkara sahaja yang kita boleh puji berlebih-lebihan, Allah swt itu sendiri, Rasulullah saw serta Islam agama yang syumul. Kepada sesiapa yang berani menyatakan Rasulullah saw itu hanya manusia biasa, biar sahaja saya nyatakan pada anda, Rasulullah saw itu maksum, bebas dari dosa. Masih lagi yakin Rasulullah saw itu seperti anda, manusia biasa? Cukup lah saya nyatakan ini, kalau mahu menulis mengenai Rasulullah saw, mungkin jua beratus ribu kitab ngga mungkin lagi habis mengenai nya.




Saturday, 17 April 2010

KEBERUNTUNGAN, KEMALANGAN

Salams,

Masih di luar daerah, pohon doa ikhlas mu! Ini didapati dari Watong Blog.




Keberuntungan, Kemalangan

Friday October 14, 2005 | Filed under: Spirituality

yinyang.jpgCerita di bawah ini dikutip dari sebuah buklet lusuh yang saya ambil dari sebuah pengajian Ramadhan. Entah sumbernya darimana, tapi kisah ini sungguh penuh hikmah.

Ada sebuah kisah tentang seorang petani tua yang bekerja di ladangnya. Suatu hari kudanya melarikan diri. Mendengar ini, tetangga si petani tua datang mengunjunginya, dan dengan penuh simpati berkata,


“Oh, petani tua. Sungguh malang nasibmu.” Sang petani pun menjawab, “Mungkin saja.”

Keesokan harinya, kuda itu kembali, bersama tiga kuda liar lainnya.
“Sungguh menakjubkan. Betapa beruntungnya nasibmu,” seru tetangganya. Sang petani menjawab, “Mungkin saja.”

Hari berikutnya, anak si petani tua mencoba menaiki salah satu kuda yang masih liar itu. Sang anak terlempar dari punggung kuda yang belum jinak itu. Kakinya patah. Mendengar ini, tetangganya datang mengunjunginya untuk memberi simpati atas kemalangannya,

“Oh, petani tua. Betapa malang nasibmu.”

Lagi-lagi sang petani menjawab, “Mungkin saja.”

Keesokan harinya, seorang pejabat militer datang ke desa dan menyerukan kewajiban bagi setiap pemuda untuk berperang membela negara. Mengetahui bahwa kaki anak laki-lakinya patah, pejabat militer itu pun melewatinya. Para tetangga pun memberi selamat kepada si petani tua atas keberuntungan nasibnya.

Sang petani tua pun menjawab, “Mungkin saja.”

* * * *

Betapa seringnya kita diombang-ambingkan dengan konsep “keberuntungan” dan “kemalangan” ini. Sesuatu yang kita sama sekali tidak pernah paham esensinya. Bukankah kita tidak pernah beranjak dari masa kanak-kanak dulu: menangis ketika diberi sayur yang menyehatkan, dan berteriak senang ketika diberi permen yang mungkin akan menggerogoti gigi kita?

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Quran [2]:216)

Sedih dan gembira, ya cuma segitu-gitunya, senantiasa memiliki akhir. Pasti ada sesuatu di balik semua peristiwa, seperti kata sebuah pepatah:

God allows us to experience the low points of life in order to teach us lessons we could not learn in any other way. The way we learn those lessons is not to deny the feelings but to find the meanings underlying them.

Tuesday, 13 April 2010

Wahai Perempuan, lihatlah Anak Syu’aib itu.

Bismillah hir-Rahman nir-Rahim,

In the name of Allah, The Most Gracious, The Most Merciful.

I have a lot to do before a day after tomorrow. And I would like the readers to read the below article penned by Hilal Asyraf, SubhanAllah, one of the best posts I've ever read. I hope to Allah swt that He rewards him more than we could imagine, and I pray to Allah swt that we, the readers and me, have His guidance and protection, 'till to end.

Must dash!
Love always.





Langit Ilahi Rotating Header Image

Perkongsian: Wahai Perempuan, lihatlah Anak Syu’aib itu.

Malulah, seperti malunya Anak Syuaib AS ~ Picture by yip87

Malulah, seperti malunya Anak Syu'aib AS ~ Picture by yip87

Ya Allah, kurniakanlah sifat malu kepada perempuan hari ini, sebagaimana sifat malu yang wujud pada Anak Syu’aib. Ya Allah, kurniakanlah sifat malu kepada perempuan hari ini, sebagaimanan sifat malu yang wujud pada Anak Syu’aib. Ya Allah, kurniakanlah sifat malu kepada perempuan hari ini, sebagaimana sifat malu yang wujud pada Anak Syu’aib.

Katakanlah amin.

Saya kagum dengan sifat malu yang wujud pada Anak perempuan Nabi Syu’aib. Selama ini saya sudah tahu akan kisahnya, tetapi semalam saya mendengar dengan penjelasan yang sangat-sangat mendalam, mencucuk, dan memberikan kesan dalam jiwa saya.

Moga keluarga perempuan saya, bakal isteri dan anak-anak saya, semuanya Allah kurniakan sifat malu yang ada pada Anak Syu’aib. Sememangnya sifat malunya, perlu dicontohi perempuan yang ada.

Lelaki juga, apa salahnya mengambil pengajaran daripadanya.


Kisah yang tercatat di dalam Al-Quran

“Dan ketika dia(Musa) sampai di sumber air negeri Madyan, ia dapati di situ sekumpulan orang-orang lelaki sedang memberi minum (binatang ternak masing-masing), dan ia juga dapati di sebelah mereka dua perempuan yang sedang menahan(ternakan mereka berdua). Dia bertanya: Mengapa dengan kamu berdua(menahan ternakan)? Mereka menjawab: Kami tidak dapat memberi minum (ternakan kami) sehingga pengembala-pengembala itu membawa balik binatang ternak masing-masing; dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya.”

“Maka Musa pun memberi minum kepada binatang-binatang ternak mereka, kemudian ia pergi ke tempat teduh lalu berdoa dengan berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku sangat berhajat kepada sebarang rezeki pemberian yang Engkau berikan.”

“Kemudian salah seorang dari perempuan dua beradik itu datang mendapatkannya dengan berjalan dalam keadaan tersipu-sipu sambil berkata:” Sebenarnya bapaku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami”. Surah Al-Qasas ayat 23-25.

Di dalam kisah pendek tiga ayat ini, tersembunyi ibrah yang sangat besar. Bukan hanya kisah pertemuan Musa dengan Anak Nabi Syu’aib yang kemudiannya mendidik kesabaran Musa. Bukan juga hanya kisah Musa yang baik hati membantu perempuan yang lemah. Bukan juga hanya kisah aturan Allah SWT yang cantik mengaturkan perjalanan Musa dalam rangka menjadikannya sebagai Nabi.

Tetapi di dalam tiga ayat ini, terdapat juga didikan untuk wanita.

Allah hendak menunjukkan bagaimana urusannya wanita dan lelaki, dengan menunjukkan sifat malu yang wujud dalam diri Anak-anak Syu’aib.

Wahai manusia, Allah sedang berbicara dengan anda berkenaan Sifat Malu.

Sifat malu yang sangat tinggi

Anak-anak Nabi Syu’aib tidak membenarkan diri mereka bercampuran dengan lelaki-lelaki lain walaupun mereka mempunyai kerja yang penting – memberikan minuman kepada ternakan mereka.

Mereka sanggup menahan ternakan mereka dan menanti walaupun keadaan itu sangat memberikan kekurangan kepada ternakan mereka nanti. Alasan lemah adalah alasan yang kedua. Alasan utama adalah kerana bergaulan, bercampuran dengan lelaki sememangnya menjatuhkan akhlak mereka.

Kita sendiri, kalau melihat perempuan tolak menolak dengan lelaki, berebut-rebut dengan lelaki, bersentuhan tangan, bergeselan badan, bagaimana agaknya persepsi kita?

Maka Anak-anak Syu’aib menanti. Biar lapang baru mereka pergi. Tidak melanggar adab pergaulan, dan tidak pula mengundag kecederaan.

Namun, melakukan sedemikian pastinya satu kekurangan untuk mereka. Kekurangan untuk binatang ternak mereka membesar dengan baik. Tetapi lihatlah Anak-anak Syu’aib, dunia dan akhirat yang mana mereka pilih?

Penjagaan diri mereka ini membuatkan mereka sangat mahal.

Tidak memanjangkan bicara 1(kondisi diajak bicara)

Musa yang berehat di bawah pokok berdekatan hanya memandang. Pelik di matanya melihat dua orang perempuan berdiri menunggu di tepi sumber air bersama ternakan mereka. Pastinya dua perempuan itu bukan menanti suami atau ayah mereka siap memberi minum pada ternakan kerana keduanya membawa ternakan masing-masing.

Atas dasar ambil berat, Musa bangun dan bertanya.

“Mengapa dengan kamu berdua?”

Dan lihatlah bagaimana cantiknya akhlak Anak-anak Syu’aib. Lihatlah bagaimana mereka menjawab dengan kata-kata yang pendek, tidak meleret-leret, malah menutup lubang untuk menyambung bicara lain.

Terus sahaja mereka menjawab: “Kami tidak dapat memberi minum (ternakan kami) sehingga pengembala-pengembala itu membawa balik binatang ternak masing-masing; dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya”

Terus kepada point. – Kami tidak dapat memberi minum sehingga pengembala-pengmbala itu mebawa balik binatang ternak masing-masing –

Menutup ruang untuk perbualan berpanjangan – dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya –

Lantas Musa tidak menyambung perbualan mahupun bertanya lagi. Malah dia juga sudah tiada alasan untuk bertanya kerana segalanya telah terjawab dengan jawapan ringkas itu. Kata-kata “dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya” itu telah menjawab soalan-soalan seperti: “Habis, mana ayah awak?”, “Abang awak tak ada ke?”, “Ish, kesiannya, kenapa ya macam tu?” dan lain-lain.

Sangat bersih peribadi Anak-anak Syu’aib dalam menjaga diri mereka. Tidak berminat memanjangkan bicara yang tiada kepentingannya. Dan lihatlah pula kepada Musa, sangat bersih peribadinya dengan tidak mencari atau memikirkan mana-mana peluang lain untuk berbual, tetapi tanpa banyak bicara terus membantu ketika itu juga.

Tidak memanjangkan bicara 2(kondisi pemula bicara)

Dan apabila Nabi Syu’aib melihat kedua anaknya pulang lebih awal dari biasa, dia kehairanan dan bertanya. Maka kedua anak itu menceritakan perihal lelaki yang berteduh di bawah pokok. Maka Nabi Syu’aib mengarah salah seorang anaknya pergi memanggil.

Lihatlah bagaimana anak itu, walau berseorangan, tidak lagi ditemani ahli keluarganya, tidak pula mengambil peluang bermanja-manja atau berkenalan dengan lelaki yang berjasa itu.

Malah dia berjalan dengan tersipu-sipu, berjalan atas sifat malu, dan terus berkata menyampaikan hajatnya:

“Sebenarnya bapaku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami”

Tidak pula dia meleret-leret atau berpusing-pusing dahulu dengan sembang-sembang lain, tanya-tanya lain seperti:

“Eh awak, terima kasih lah tadi ya. Awak baik sangat. Walaupun kita tak kenal… bla bla bla”

“Awak siapa nama ya? Terima kasihlah tadi ya. Ah, ni ayah saya panggil. Dia kagum dengan awak. Yalah, siapa yang nak tolong perempuan masa ni… bla bla bla”

Tetapi Anak Syu’aib itu terus pada pointnya tanpa memanjangkan bicara – Sebenarnya bapaku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami – Habis cerita dan tiada lagi alasan untuk menyambung sembang baik dari Pihak Musa, mahupun pihaknya.

Dia melaksanakan amanah bapanya tanpa mengambil celahan pada amanah itu.

Bersihnya peribadi Anak Syu’aib. Sifat malunya sangat tinggi. Sangat menjaga budi pekerti. Tiada langsung apa yang dikatakan ‘gedik’ oleh manusia hari ini. Langsung tidak mengambil peluang berduaan dengan jejaka berjasa yang hebat itu. Dan lihatlah Musa. Bersihnya peribadi Musa, tidak pula mengambil peluang berduaan itu dengan memanjang-manjangkan sembang, mencari peluang berkenalan dan sebagainya.

Bagaimanakah kita hari ini?

Melihat Anak-anak Syu’aib, kita sepatutnya persoalkan diri kita.

Bagaimana kita hari ini?

Bila memberikan bantuan, bila meminta pertolongan, bila berbincang untuk sesuatu program di dalam mesyuarat, bila di Facebook, YM, dan di macam-macam situasi lagi. Bagaimanakah kita?

Di sini perlu kita lihat. Bagaimana Allah menunjukkan sikap Anak Syu’aib dan Musa AS. Anak Syu’ain mewakili perempuan, dan Musa AS mewakili lelaki. Bagaimanakah keadaan mereka, pergaulan mereka, akhlak dan peribadi mereka.

Adakah kita mencontohi?

Kebanyakan kita, kalau bercerita akan kisah Musa dan Anak Syu’aib, tak habis-habis menceritakannya dari sudut percintaan. Entahlah, saya pun tak faham. Kisah Nabi Yusuf dengan Zulaikha pun pergi cerita macam itu juga, balik kepada cinta.

Cinta nak kecoh. Malu tak mahu cerita. Macam mana masyarakat nak jadi bagus?

Penutup: Saya sangat kagum dengan Anak Syu’aib

Huraian ini diceritakan oleh pensyarah Hadith saya semester ini, Dr Samirah Tohir. Semasa dia menceritakan cerita ini, saya tak henti-henti tersengih. Entah kenapa, saya terbayang-bayangkan wanita yang mempunyai sifat malu seperti ini.

Alangkah indahnya dunia kalau dipenuhi wanita-wanita sebegini. Terjaga pergaulan mereka, bersih peribadi mereka, cantik akhlak mereka, mahal harga diri mereka.

Kisah ini membuatkan saya berazam untuk mendidik diri dengan lebih kuat lagi. Biar nanti kalau Allah kurniakan saya anak perempuan, saya senang anak perempuan saya terjaga seperti terjagana anak-anak perempuan Syu’aib.

Semestinya, anak-anak perempuan Syu’aib mempunyai akhlak yang sedemikian kerana terdidik dengan didikan ayahanda mereka, Nabi Syu’aib AS.

Ya Allah, kurniakanlah sifat malu Anak Syu’aib itu kepada perempuan hari ini.

Ya Allah, kurniakanlah juga keindahan akhlak Musa itu kepada lelaki hari ini.