Salams,
Bismillah hir-Rahman nir-Rahim,
Moga-moga dengan Rahmah-Nya di Bulan Maha Mulia ini, kita sama-sama bertatih, berlari dan mengejar Cinta-Nya.
1
Ayahanda saya ngga sehat. Itu cerita tentang sms Yol di
previous entri. Dan kemudiannya Ajit memberi sms yang seperti halilintar itu, penuh dengan ketidakemosian. Matikah sudah perasaan yang halus dalam diri adik ku itu? Tapinya, tapinya bagaimana dengan hati saya? Saya pernah menulis, hati seperti tersungkur di Arasyi. Maha Pedih. Ya. Begitulah hati saya. Ngga pernah saya merasa se
'helpless' begini.
I love,love, love him, more than anything else. Semua pulang ke rumah esok. Kecuali saya. Ah, ujian lagi, ujian yang ngga pernah-pernah surut.
2
Model saya sudah siap, kecuali autocorrelation analysis. Mungkin selepas ini baru saya belajar, tapi DW test saya kiranya
inconclusive. Aduh.
Satu perkara saya belajar dari Ikal, Sang Pemimpi, dia jurusan micro, dan ngga bisa berfikir secara macro. Saya pula, terbalik. Saya kagumi dia. Anak miskin dari Belitong, tapi mampu mencapai alma mater nya; Paris. Ah, saya harus mulai bermimpi dan percaya pada mimpi-mimpi itu.
3
Sudah Dzulhijjah kita. Terbau harum nya wangian dari syurga untuk mereka-mereka yang dipilih menjadi Tetamu-Nya. Apa korban kita hari ini? Puasa ? Harta? Jiwa dan perasaan? Berikut saya kepilkan coretan-coretan mengenai keagungan bulan ini:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ.
“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.”[1]
Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:
- Allah melebihkan keutamaan zaman/waktu tertentu di atas zaman/waktu lainnya, dan Dia mensyariatkan padanya ibadah dan amal shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya[3] .
- Karena besarnya keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, Allah Ta’ala sampai bersumpah dengannya dalam firman-Nya: وَلَيَالٍ عَشْرٍ “Dan demi malam yang sepuluh.” (Qs. al-Fajr: 2). Yaitu: sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab[4], [serta menjadi pendapat mayoritas ulama].
- Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”[5]
- Amal shaleh dalam hadits ini bersifat umum, termasuk shalat, sedekah, puasa, berzikir, membaca al-Qur’an, berbuat baik kepada orang tua dan sebagainya.[ 6]
- Termasuk amal shaleh yang paling dianjurkan pada waktu ini adalah berpuasa pada hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah)[ 7], bagi yang tidak sedang melakukan ibadah haji[8], karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang puasa pada hari ‘arafah, beliau bersabda, أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ “Aku berharap kepada Allah puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu dan tahun berikutnya.”[9]
Ayuh sahabat-sahabatku, mari kita mengambil barakah bulan yang sangat mulia ini!
4
Saya terbaca entri dari seorang sahabat kepada seorang sahabat. Dia mempersoalkan adakah wanita-wanita yang di dalam blog nya nampak baik, benar-benar baik di luar blog? Wah, apa ini? Bagi saya, tulisan melambangkan diri kita. Memang benar, ada sahaja sahabat saya yang sangat-sangat baik, tetapi di dalam blog nya kurang ayat-ayat suci Al-Quran. Ada sahaja sahabat saya yang memang menulis perkara baik-baik, tetapi di luar ada perkara yang kurang. Ini membawa saya berfikir, adakah blog ini menipu dan mengabui mata-mata yang membacanya?
Tapinya, saya tetap berfikir, bahawa niat itu lebih utama. Tujuan kita menulis apa? Dan bagi saya tentulah supaya coretan-coretan saya yang tidak seberapa ini mampu memberi cahaya, harapan, kasih sayang, kegembiraan dan peringatan pada diri saya sendiri terutamanya, dan sahabat-sahabat yang membacanya. Kerana kita ini, sahabat-sahabatku, tidak dijadikan sia-sia, hanya untuk beribadah pada-Nya. Dan tugas kita yang paling utama, sahabat-sahabatku, adalah menyeru ke arah amal makhruf dan nahi mungkar. Biarkan sahaja mereka-mereka ini mengata-ngata, mengeji-ngeji, mencaci-caci, berburuk sangka, kerana bukan mereka, yang diakhirnya, membuat penilaian pada kita.
Dan sekali lagi, sahabat-sahabatku,biar lah nilai tulisan-tulisan kita ini, lebih berat timbangannya dari Bukit Uhud itu. Biarlah kita disangka-sangka oleh mereka-mereka yang dibumi, jangan dipandang hina oleh mereka-mereka dilangit. Teruskan dakwah anda melalui blog, atau apa jua medan juang. Kerana kita ini, bak kata seorang sahabat, tidak akan pernah berkudis dikata orang.
Salam Sayang.