Monday, 27 December 2010

KEBERSADARJAGAAN MENCINTAI

Kebersadarjagaan Mencintai

27/12/2010 | 20 Muharram 1432 H | Hits: 748
Oleh: Shabra Shatilla
Kirim Print

Ilustrasi (flickr.com/Nelo Esteves)

dakwatuna.com – “Wahai Rasulullah,” kata gadis muda itu, “Sungguh, Engkau telah memberi kesempatan kepada saya terhadap apa yang dilakukan oleh ayah saya. Saya setuju dengan apa yang telah ayah saya lakukan.”

Begitulah kira-kira jawaban yang disampaikan oleh sang gadis muda itu tatkala Rasulullah memberikan hak khiyar (memilih) untuk memutuskan tentang pernikahan yang dilakukan terhadapnya oleh sang ayah tanpa persetujuannya. Diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah bahwa sebelumnya sang gadis menemuinya dan menceritakan kondisi permasalahan yang dialaminya.

“Ayahku telah menikahkanku dengan keponakannya untuk mengangkat derajatnya dengan jahatnya. Dan aku tidak suka,” kisahnya.

‘Aisyah tidak dapat memutuskan soal itu. “Tunggulah di sini sampai Rasulullah datang,” katanya. Maka, kemudian datanglah Rasulullah kepada ‘Aisyah dan gadis muda itu. Mengalirlah kisah pilu si gadis itu kepada Rasulullah, ia menginginkan penyelesaian dari Rasulullah tentang pemaksaan pernikahan yang dilakukan ayahnya terhadapnya. Mendengar penuturan itu, Rasulullah pun mengirim utusan untuk memanggil ayah si gadis.

Di hadapan sang ayah, Rasulullah memutuskan bahwa pemaksaan yang dilakukan sang ayah tidak berlaku. Beliau juga menyerahkan keputusan itu kepada sang gadis. Namun, jawaban sang gadis memang sangat mengagumkan dan menunjukkan kecerdasannya.

“Ya Rasulullah,” jawabnya, “Saya setuju dengan apa yang ayah saya lakukan, tapi saya hanya ingin tahu apakah perempuan berhak untuk menentukan pernikahannya.”

Jawaban yang cerdas dan penuh hikmah itu dicatat oleh Imam An Nasa’i dari ‘Aisyah. Sementara itu Abdullah ibnu Abbas juga meriwayatkan hadits serupa sebagaimana dicatat oleh Imam Ibnu Majah dengan sanad shahih nomor 1520. Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas.

Sang gadis memang cerdas dalam mengambil tindakan sang ayah yang memaksanya untuk dinikahi oleh lelaki pilihan sang ayah. Ia menyadari bahwa tujuan sang ayah menikahkannya dengan lelaki itu bukan untuk kebaikan dirinya maupun untuk kebaikan kehidupan dan agamanya. Ia sangat sadar bahwa sang ayah menikahkannya semata-mata agar derajat sang ayah dapat terangkat melalui hubungan kekerabatannya dengan anak saudaranya itu. Dan si gadis menganggap bahwa perbuatan sang ayah itu adalah perbuatan yang jahat. Maka, ia mencoba meminta kepastian hukum kepada Rasulullah dengan mendatangi Ummul Mu‘minin ‘Aisyah agar dapat dipertemukan dengan Rasulullah dan memutuskan hukum terkait pernikahannya yang terpaksa.

Rasulullah kemudian memutuskan perkaranya dan memberinya hak khiyar atas pernikahan itu. Namun, sang gadis malah menjawab bahwa ia telah menerima keputusan sang ayah yang memaksanya menikah dengan anak saudaranya itu. Ia memutuskan bahwa ia menerima pernikahan tersebut dan bersedia menjadi suami bagi sepupunya itu meskipun ia tidak menyukainya, sebagaimana sebelumnya ia sampaikan kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah.

Ia mengambil sebuah keputusan atas pilihan yang telah disodorkan oleh Rasulullah: menerima pernikahan itu atau menolaknya. Dan keputusannya berakhir dengan kemantapan, ia memilih dan memutuskan untuk menerima pernikahan itu. Di sini, ia sangat sadar bahwa dengan mengambil keputusan itu berarti ia siap menjadi seorang istri dari seorang lelaki yang tidak disukainya, bahkan mungkin dibencinya. Namun, dengan kebulatan keputusan itu, sebuah keputusan yang diambilnya secara sadar jaga, maka ia juga telah memilih sebuah konsekuensi logis dengan menjadi seorang istri dari seorang lelaki. Dan konsekuensi itu adalah ketaatan, pengabdian, bakti, pengorbanan, hak dan kewajiban secara psikis dan biologis, serta kewajiban mencintai. Kewajiban mencintai. Sebuah keputusan yang diambilnya secara sadarjaga.

Sang gadis telah melalui fase dalam sebuah perjalanan cinta yang senantiasa ada: pilihan, keputusan, dan konsekuensi. Tindakannya dalam memilih salah satu keputusan, mengambil keputusan, dan menerima serta melaksanakan konsekuensi dari keputusan itu adalah sebentuk kebersadarjagaan mencintai, mencintai sang suami yang sebelumnya dibencinya.

Tidak jauh berbeda setelah masa-masa itu. Tatkala Utsman bin Affan menjadi Khalifah Rasul yang ketiga, menggantikan posisi Amirul Mukminin Umar bin Khathab yang syahid di tangan kafir Majusi. Kala itu ia memutuskan untuk menikah yang kesekian kalinya. Usianya memang tidak muda dan bahkan sudah sangat terbilang tua. Saat itu, ia telah berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih dan kekuatan jasadnya tidak lagi seperti pemuda.

Dan yang lebih mencengangkan adalah bahwa ia menikahi seorang gadis belia yang baru mekar. Usianya baru delapan belas tahun tatkala pernikahan itu terjadi. Namanya adalah Nailah binti Al Qurafashah atau Nailah binti Al Farafishah Al Kalbiyah, seorang gadis cantik dari negeri Syam. Bukan hal mudah bagi keduanya untuk saling membersamai dalam singgasana pernikahan mengingat usia mereka yang terpaut sangat jauh, delapan puluh dan delapan belas. Namun, keduanya telah memutuskan untuk mencintai.

“Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu temui di sini,” kata Utsman tatkala pertama kali menyambut Nailah. “Apakah engkau tak keberatan menikah dengan seorang pria tua bangka?”

“Saya termasuk perempuan yang lebih suka memiliki suami yang lebih tua,” jawab Nailah sambil tertunduk. Rasa malu menggelayuti hatinya.

“Namun, aku telah jauh melampui ketuaanku,” kata Utsman kembali. Ia seakan menguji kesungguhan keputusan gadis cantik yang mau dinikahinya itu, menelisik kesungguhan keputusannya untuk mencintai lelaki tua seperti dirinya.

“Tapi masa mudamu sudah kau habiskan bersama Rasulullah,” jawab Nailah sambil tersenyum, “Dan itu jauh aku lebih sukai dari segala-galanya.”

Selanjutnya Utsman dan Nailah hanya memberikan bukti atas keputusan mereka bersekutu dalam ikatan pernikahan itu. Utsman mencintai Nailah dan Nailah pun mencintai Utsman. Keduanya merupakan para pecinta sejati yang senantiasa melaksanakan pekerjaan-pekerjaan cinta bagi orang yang dicintainya. Maka, keduanya saling memberi, saling memperhatikan, saling menumbuhkan, saling merawat, dan saling melindungi.

Nailah yang disirami kerja cinta dari sang suami pun tumbuh dan semakin mekar. Ia menjadi salah satu perempuan yang pandai bertutur kata dan sangat menguasai sastra. “Saya tidak menemui seorang wanita yang lebih sempurna akalnya dari dirinya. Saya tidak segan apabila ia mengalahkan akalku,” kata Utsman suatu ketika mengenai Nailah. Darinya, Utsman memperoleh putri bernama Maryam dan Anbasah.

Sejarah membuktikan kejujuran cinta mereka. DR. Sa’id bin ‘Abdul ‘Azhim menceritakan untuk kita dalam Mu’asyarah bil Ma’ruf bukti kerja cinta mereka. Tatkala para pemberontak mendatangi Khalifah Utsman bin Affan di rumahnya untuk membunuhnya, bangkitlah istri yang dicintai dan mencintainya itu, Nailah binti Al Qurafashah, dengan membiarkan rambutnya terurai, seakan-akan dia bersiasat dengan berusaha menggoda sifat kejantanan para pemberontak tersebut. Spontan Utsman berteriak dan membentaknya, seraya mengatakan, “Ambillah kerudungmu! Demi umurmu, kedatangan mereka lebih ringan bagiku daripada kehormatan rambutmu.”

Ketika salah seorang pemberontak masuk ke dalam rumah dan membabat Utsman yang sedang membaca mushaf Al Qur’an hingga darahnya menetes ke mushaf itu, Nailah tidak tinggal diam. Seorang pemberontak lain yang menerobos masuk dicegah oleh Nailah dan merebut pedang yang dibawa si pemberontak itu. Namun, pemberontak itu dapat merebut pedangnya kembali. Ia menebaskan pedangnya dan memotong jari-jemari lentik Nailah yang melindungi sang suami. Dalam riwayat yang lain dikisahkan bahwa Nailah menjatuhkan tubuhnya ke pangkuan Utsman untuk melindungi tubuh sang suami dari sabetan pedang para pemberontak hingga jarinya tertebas.

Para pecinta sejati memang senantiasa memberikan perlindungan yang terbaik bagi orang yang dicintainya. Meski harus berkorbankan harta, meski harus berkorban raga, meski harus berkorban nyawa. Bahkan kemudian, potongan jari Nailah bersama baju Utsman dibawa ke hadapan Mu’awiyah di Syam untuk menunjukkan bukti kekejaman para pemberontak dalam membunuh Utsman. Sebuah bukti cinta yang sangat mengagumkan.

Utsman demikian dalam mencintai Nailah. Karena itulah Nailah pun merasakan dan mencintai Utsman dengan sangat mendalam. Curahan cinta Utsman kepada Nailah memenuhi seluruh ruang di hati Nailah hingga mampu menggerakkan dirinya menjadi tameng bagi kesewenang-wenangan para pembunuh terhadap suaminya, seorang lelaki yang senantiasa menghidupkan malam dengan Al Qur’an dalam rangkaian rakaatnya. Utsman senantiasa membuktikan bahwa ia mencintainya dalam keadaan susah dan senang. Maka, semakin luaslah ruang hati Nailah untuk menampung cinta dari sang suami. Demikian pula kesadarannya untuk mencintai lelaki tua itu. Ruang hatinya terlalu penuh dengan cinta dari lelaki tua itu hingga tak mampu terisi oleh cinta yang lain.

Maka, ketika Mu’awiyah bin Abi Sufyan menyampaikan pinangannya untuk janda Utsman bin Affan itu, Nailah dengan tegar menjawab, “Tidak mungkin ada seorang manusia pun yang bisa menggantikan kedudukan Utsman di dalam hatiku.” Bahkan, kemudian ia merusak wajahnya yang cantik untuk menolak semua peminang yang datang kepadanya. Ia memutuskan untuk hanya mencintai Utsman, lelaki tua itu.

Mencintai adalah sebentuk pernyataan kesiapan diri untuk melakukan kerja-kerja cinta. Maka, mencintai bukanlah tentang romantisme, melankolisme, erotisme, kemesraan, khayalan, dan keindahan semata, namun tentang kerja cinta dan pertaruhan kepribadian serta integritas si pecinta, walaupun kita tidak menafikkan eksistensi hal-hal indah tersebut. Mencintai adalah pekerjaan yang besar dan berat. Karena itu, mencintai adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Namun, hanya sedikit orang yang menyadari hal ini.

Dalam Serial Cinta, Anis Matta mengisahkan tentang pecinta yang tak kalah dahsyat dalam mencintai. Ini tentang seorang perempuan yang sama sekali tidak cantik. Ia memiliki wajah yang jelek. Kulitnya berwarna hitam keriput. Usianya sudah tua. Dipadu dengan kenyataan bahwa dia seorang diri yang tidak kaya. Rumah yang dimilikinya seperti rumah hantu. Seumur hidupnya, ia tidak pernah menikah. Sebabnya tentu saja sederhana, ia tidak menarik bagi seorang lelaki pun untuk menikahinya.

Sebagai seorang perempuan, tentu ada keinginan di hatinya untuk membina rumah tangga dengan seorang lelaki, berbahagaia bersamanya, dan menyandang status sebagai seorang istri. Ia sangat ingin menjadi seorang istri. Maka, ia bertekad untuk menjadi istri bagi seorang lelaki. Dikumpulkannya harta berupa emas dalam jangka waktu yang lama. Ia berencana ‘membeli’ seorang suami dengan emas-emas yang dimilikinya itu. Dan gayung pun bersambut.

Seorang lelaki bersedia menikahinya. Ia adalah seorang lelaki yang tampan dan kaya. Sungguh, ini adalah keputusan yang besar bagi sang lelaki untuk menikahi perempuan ini. Namun, ia tetap kukuh untuk menikah. Dan pernikahan pun terjadi.

Di rumah sang perempuan yang dinikahinya, kegamangan kembali muncul di hati sang lelaki. Ia meragukan kemampuan dirinya untuk menjalani keputusannya. Sejenak. Ia kembali menguatkan tekadnya dan teguh pada keputusannya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Ia telah mengambil keputusan dan siap dengan segala konsekuensinya.

“Ini emas-emasku yang sudah lama ku tabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi istri,” kata si perempuan itu. Ia merasa bahwa ia memang hanya pantas untuk ‘membeli’ suami dan tidak pantas dicintai oleh seorang lelaki.

Namun, jawaban lelaki itu mengejutkannya. Lelaki tampan dan kaya itu malah menjawab, “Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi.”

Semua orang terheran-heran, tulis Anis Matta. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian, orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, “Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitamnya dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik.”

Bisa jadi kita hanya kan berdecak kagum menyaksikan hal-hal ajaib semacam ini. Namun, jika kita memahami bahwa seseorang yang memilih sebuah pilihan, mengambil kuputusan, dan siap menerima konsekuensi logis atas pilihan tersebut, maka tidak ada hal yang ajaib bagi kita. Kisah-kisah cinta yang dahsyat itu menjadi logis karena pemahaman akan kerja cinta mereka yang sebenarnya sederhana tapi melelahkan itu: mencintai.

Mungkin kita terlalu sering menyaksikan orang-orang yang merasai cinta di dalam hidup mereka. Terlena dengan kegembiraan, kebahagiaan, romantisme, kemesraan, erotisme, dan keterlukaan terus-menerus. Terlalu sering kita menyaksikan orang-orang yang berbunga-bunga dan seakan menjadi kehilangan akal sadarjaganya tatkala ia mengaku sedang jatuh cinta. Mereka mengaku mencintai seseorang. Namun, tingkahlaku dan kesadarannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia mencintai. Benar bahwa mereka merasakan cinta, tapi belum tentu ia mencintai. Karena cinta adalah kata benda, dan mencintai adalah kata kerja. Kebersadarjagaan, keinginan, kemauan, keputusan, kemampuan, dan tindakan mencintai. Semua orang dapat merasakan cinta, tapi tidak semuanya dapat mencintai seseorang. Bisa jadi Kita termasuk orang yang sudah ribuan kali jatuh cinta, tapi mungkin sama sekali belum pernah mencintai seseorang. Ya, belum pernah sekali pun mencintai. (hdn)

KEYAKINAN DAN KESABARAN

Keyakinan dan Kesabaran

17/12/2010 | 10 Muharram 1432 H | Hits: 4.520
Oleh: Yusuf Al Bahi
Kirim Print

dakwatuna.com -Keyakinan, adalah kesederhanaan. Sebuah kesederhanaan yang lahir dari kuatnya jiwa dan karakter seseorang. Keyakinan juga yang membuat Rasulullah, tak pernah berhenti berdo’a untuk penduduk thaif meski lemparan batu, hinaan hingga penolakan terhadap beliau bersama risalahnya. Keyakinan juga yang menumbuhkan kecintaan yang membara seorang Khalid bin Walid dengan dinginnya malam ketika perang dibanding bermesraan bersama seorang gadis cantik. Keyakinan pula yang membuat Ali bin abi Thalib dengan berani menggantikan Rasulullah ketika beliau hendak dibunuh oleh kaum Quraisy. Keyakinan itu tumbuh.. kuat mengakar.. Lahir dari keluhuran budi, kokohnya karakter, dan bersumber dari dentuman cinta mengabadi yang tak pernah padam untuk Allah dan jihad di jalan-Nya.

Keyakinan adalah teman setianya gairah yang selalu bersumber dari cinta. Keyakinan adalah kekuatan yang takkan pernah habis untuk selalu memberi energi bagi jiwa untuk menunggu, “membangun”, menguatkan, hingga berbagai defenisi tindakan yang terkadang tak bisa diterima oleh akal. Keyakinan hadir seperti sumber cahaya, ia adalah sumbu lilin yang terus terbakar, ia adalah sumbu sinaran yang menjadi alat untuk memberikan ruang terangnya.

Jika keyakinan adalah alasan terbesar seseorang untuk bertahan. Maka pasangan jiwanya adalah kesabaran. Kesabaranlah yang membuat orang untuk terus bersama dengan keyakinannya. Jika keyakinan adalah sumbu untuk memberikan cahaya, maka kemampuan untuk menerangi selama mungkin adalah sebuah defenisi sederhana tentang kesabaran. Kesabaran selalu menghasilkan berjuta pesona bagi sejarah. Bagaimana Sayyid Qutb lebih memilih untuk bersabar bersama dengan siksaan penjara di zamannya, kesabarannya-lah yang membuat cerita jihad menggelora di dalam dada jutaan pejuang di seantero mayapada. Bagaimana Yusuf AS, yang lebih memilih penjara agar mampu terus mengenal-Nya. Bagaimana sumayyah meneladani semua wanita dengan semangat jiwanya untuk terus bersabar menahan siksaan kaum kafir hingga menjadi syuhada pertama dalam Islam. Mereka adalah karakter-karakter yang menyejarah.. selalu indah untuk dikenang.

Gabungan antara keyakinan dan kesabaran akan menghasilkan semangat yang takkan pernah padam. Keberanian akan menjadi temannya, kesolehan akan menjadi pakaian mereka, kebeningan hati akan selalu mengisi hidup mereka, dan hasilnya… Karya-karya besar bagi peradaban akan tercipta dari segala bentuk usaha mereka.

Yakinlah… bahwa Allah takkan pernah menyia-nyiakan segala usahamu.. Bersabarlah, hingga kelak… Ketika sabarmu telah habis masanya.. Perbahuilah terus ia dengan sebuah KEYAKINAN… Bahwa Allah takkan pernah membuatmu kecewa…

O Allah, I wanna thank you
I wanna thank You for all the things that you’ve done
You’ve done for me through all my years I’ve been lost
You guided me from all the ways that were wrong
I wanna thank You for bringing me home

Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.

-Maher Zain-

SADAR DENGAN SEBUAH KEHILANGAN

Sadar dengan Sebuah Kehilangan

19/10/2008 | 18 Syawal 1429 H | Hits: 8.344
Oleh: Muhammad Nuh
Kirim Print

dakwatuna.com - “Orang yang pandai adalah yang senantiasa mengoreksi diri dan menyiapkan bekal kematian. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan berangan-angan kepada Allah.” (At-Tirmidzi)

Maha Besar Allah Yang menghidupkan bumi setelah matinya. Air tercurah dari langit membasahi tanah-tanah yang sebelumnya gersang. Aneka benih kehidupan pun tumbuh dan berkembang. Sayangnya, justru manusia mematikan sesuatu yang sebelumnya hidup.

Tanpa terasa, kita sudah begitu boros terhadap waktu

Trend hidup saat ini memaksa siapapun untuk menatap dunia menjadi begitu mengasyikkan. Serba mudah dan mewah. Sebuah keadaan dimana nilai kucuran keringat tergusur dengan kelincahan jari memencet tombol. Dengan bahasa lain, dunia menjadi begitu menerlenakan.

Tidak heran jika gaya hidup perkotaan menggiring orang menjadi manja. Senang bersantai dan malas kerja keras. Di suasana serba mudah itulah, waktu menjadi begitu murah. Detik, menit, jam, hingga hari, bisa berlalu begitu saja dalam gumulan gaya hidup santai.

Sebagai perumpamaan, jika seseorang menyediakan kita uang sebesar 86.400 rupiah setiap hari. Dan jika tidak habis, uang itu mesti dikembalikan; pasti kita akan memanfaatkan uang itu buat sesuatu yang bernilai investasi. Karena boleh jadi, kita tak punya apa-apa ketika aliran jatah itu berhenti. Dan sangat bodoh jika dihambur-hamburkan tanpa memenuhi kebutuhan yang bermanfaat.

Begitulah waktu. Tiap hari Allah menyediakan kita tidak kurang dari 86.400 detik. Jika hari berganti, berlalu pula waktu kemarin tanpa bisa mengambil waktu yang tersisa. Dan di hari yang baru, kembali Allah sediakan jumlah waktu yang sama. Begitu seterusnya. Hingga, tak ada lagi jatah waktu yang diberikan.

Sayangnya, tidak sedikit yang gemar membelanjakan waktu cuma buat yang remeh-temeh. Dan penyesalan pun muncul ketika jatah waktu dicabut. Tanpa pemberitahuan, tanpa teguran.

Allah swt. berfirman, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari Allah swt.).” (Al-Anbiya’: 1)

Tanpa terasa, kita kian jauh dari keteladanan Rasul dan para sahabat

Pergaulan hidup antar manusia memunculkan tarik-menarik pengaruh. Saat itulah, tanpa terasa, terjadi pertukaran selera, gaya, kebiasaan, dan perilaku. Semakin luas cakupan pergaulan, kian besar gaya tarik menarik yang terjadi.

Masalahnya, tidak selamanya stamina seseorang berada pada posisi prima. Kadang bisa surut. Ketika itu, ia lebih berpeluang ditarik daripada menarik. Tanpa sadar, terjadi perembesan pengaruh luar pada diri seseorang. Pelan tapi pasti.

Suatu saat, orang tidak merasa berat hati melakukan perbuatan yang dulunya pernah dibenci. Dan itu bukan lantaran keterpaksaan. Tapi, karena adanya pelarutan dalam diri terhadap nilai-nilai yang bukan sekadar tidak pernah dicontohkan Rasul, bahkan dilarang. Sekali lagi, pelan tapi pasti.

Anas bin Malik pernah menyampaikan sebuah ungkapan yang begitu dahsyat di hadapan generasi setelah para sahabat Rasul. Anas mengatakan, “Sesungguhnya kamu kini telah melakukan beberapa amal perbuatan yang dalam pandanganmu remeh, sekecil rambut; padahal perbuatan itu dahulu di masa Nabi saw. kami anggap termasuk perbuatan yang merusak agama.” (Bukhari)

Tanpa terasa, kita jadi begitu asing dengan Islam

Pelunturan terhadap nilai yang dipegang seorang hamba Allah terjadi tidak serentak. Tapi, begitu halus: sedikit demi sedikit. Pada saatnya, hamba Allah ini merasa asing dengan nilai Islam itu sendiri.

Ajaran Islam tentang ukhuwah misalnya. Kebanyakan muslim paham betul kalau orang yang beriman itu bersaudara. Saling tolong. Saling mencintai. Dan, saling memberikan pembelaan. Tapi anehnya, justru nilai-nilai itu menjadi tidak lumrah.

Semua pertolongan, perlindungan, pengorbanan kerap dinilai dengan kompensasi. Ada hak, ada kewajiban. Ada uang, ada pelayanan. Tiba-tiba seorang muslim jadi merasa wajar hidup dalam karakter individualistik. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, seorang dai merasa enggan berceramah di suatu tempat karena nilai bayarannya kecil. Sekali lagi, tak ada uang, tak ada pelayanan.

Firman Allah swt. “Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami, kecuali karena rahmat dari Tuhanmu….” (Al-Isra’: 86-87)

Tanpa terasa, kita tak lagi dekat dengan Allah swt.

Inilah sumber dari pelunturan nilai keimanan seorang hamba. Kalau orang tak lagi dekat dengan majikannya, sulit bisa diharapkan bagus dalam kerjanya. Kesungguhan kerjanya begitu melemah. Bahkan tak lagi punya nilai. Asal-asalan.

Jika ini yang terus terjadi, tidak tertutup kemungkinan, ia lupa dengan sang majikan. Ketika seorang hamba melupakan Tuhannya, Allah akan membuat orang itu lupa terhadap diri orangnya sendiri. Ada krisis identitas. Orang tak lagi paham, kenapa ia hidup, dan ke arah mana langkahnya berakhir.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)

Sunday, 26 December 2010

KISAH ORANG GILA #2

Salams,

Atas permintaan seorang blogger yang amat saya hormati, meminta dipanjang-panjang kan, semoga ianya bermanafaat hingga ke akhir hayat.Ayat-ayat beliau pantas sahaja menusuk jiwaku. Meminta bloggers sekalian memanjang-manjangkan jua di dalam apa jua bentuk komunikasi. Semoga Allah swt merahmati kita, insyaAllah. Jangan putus asa, sahabat-sahabat yang dimuliakan, dalam mengejar cinta Allah swt. Hanya Dia, hanya Dia lah segala-galanya.


Salam sayang.

______________________________________________________________________


Kisah Orang Gila #2


oleh Irfan SangPelangi


Dihantar melalui emel buat Ahli Sahabat SangPelangi SangPelangi.com



Urkh. Rasa tercucuk-cucuk dengan telatah dia ini. Tidak sampai senafas ikamat dilontar Bilal, An-Nas juga belum dilafaz. Orang tua ini terjerit-jerit,


"Rapat! Rapat! Rapat!"


Berlari anak dia melingkari baris saf, melangkahi susun-susun manusia yang menyerupai platun. Sesekali dia berhenti, menepuk bahu seorang dua tentera yang terkandas dari barisan.


"Hah, kau! Bahu! Sentuh bahu!"


Bukan sahaja kami, sang imam turut panas punggung dengan gelagat orang tua 'gila' ini. Masakan tidak, adakala larut sepuluh minit menantikan sang sarjan gila ini, memberi arahan itu dan ini. Sudahlah botak, seluar berceloreng, baju hijau siap paku pangkat yang dicat sendiri.


Setelah berpuas hati, dia kembali ke ruang kosong miliknya. Seisi perut masjid memerhatikannya. Seolah-olah menunggu arahan seterusnya oleh dia.


"Hah. Imam? Bila nak mula?"


Setelah faham angkatan cukup bersedia, lantas Imam Muda pun menjulang takbir.


Sudah tiga hari begitu. Genap 15 waktu orang tua ini menyiagakan kami, jemaah dan kariah kawasan ini. Masjid yang dibina dalam kompleks, percikan idea Tan Sri Ali, mantan Johor Corporation, memberi senyum pada pendakwah jalanan. Peniaga di kompleks tiada alasan lagi menebuk-nebuk Jumaatnya.


Kehadiran orang tua ini amat menggusarkan aku secara peribadi. Caranya yang sedikit garang, atau tegas barangkali, mungkin saja tidak disenangi sesiapa. Hari demi hari, sedikit demi sedikit, jemaah mendikit. Dari tiga barisan penuh, tinggal dua separuh.


Esoknya, aku sedikit lewat ke Zuhur. Tidaklah masbuk, sempat juga makmum selapis jika diistilahkan di zaman asrama dulu. Berlari anak mencapai wuduk di gigi paip. Aku terpacak menanti imam bangkit bersama tentera di rakaat keempat. Tertoleh-toleh di kiri kanan, tercari-cari kelibat orang tua gila semalam.


Tiada. Cemas. Tertanya-tanya. Tidur di mana. Makan apa. Diambil Jabatan Kebajikan Masyarakat mungkin. Lebih cemas, ahli-ahli yang memeriahkan rumah Allah ini tidak bertambah. Adakah mereka mula menjauhi masjid ini? Kecewanya...


Masuk hari kelima, Zuhur juga. Saat bersalam-salam jemaah-imam, aku membelek wajah semua. Tiada juga yang kurang. Sama saja. Ada juga muka baru. Manusia yang berbondong-bondong ke pintu luar masih seperti sebelumnya. Namun kepanjangan saf berkurang. Dari dua separuh, tinggal dua baris.


Masuk hari keenam, masih Zuhur. Orang tua itu tidak muncul-muncul. Aku terfikir, bahu-bahu kami tetap saling ketat. Kelingking kaki terus bersentuhan rapat. Aku tersedar, juga akui, bukan bilangan manusia yang hilang sekerat-sekerat. Hanya dirian kami yang kian padat. Dari dua baris semalam, kini jadi satu setengah saf.


Hari ini, genap berbelas-belas hari pemergian orang tua gila. Tiada yang bertanya, apatah yang bercerita jauh sekali. Lebih mendukacita, baris turus hamba-Nya kembali ke sediakala. Tidak lagi bersempit-sempitan. Waktu demi waktu, tiga saf pula bagai asal.


Terlintas di kepala, siapalah orang tua gila ini. Mungkin dia itu memang berpindah-pindah. Sebelumnya di masjid dan surau lain, dan memang kerjanya memang mengatur manusia. Ah, aku syak, memang dia berlakon gila. Biar tindak-tanduknya dimaaf orang, biar arahannya diturut semua. Wah. Gaya dakwah yang tidak difikir dengan norma dan logik segala. Kagum.


Namun sedih juga. Rindu akan keadaan kami berhari-hari yang lalu. Barangkali, beginilah keadaan angkatan solat di zaman Nabi dan sahabat dulu-dulu. Agaknya inilah punca kemenangan Badar, Khandak dan lain-lain yang dikurnia Dia, selain doa diaminkan ukhwah berkumpulan.


Terduduk dan diam. Memikirkan hakikat manusia 'gila' yang bagai diutus Allah, buat diriku dan jemaah waras yang lainnya.


Maha benarlah kata-kata sang pujangga itu, bahawa sesungguhnya manusia itu, perlu disusun manusiawinya, oleh manusia juga.


Memujuk diri sendiri, agar tidak letih dan berhenti di jalan yang saling mengingatkan.


Sabda Baginda Muhammad SAW,


“Hendaklah kamu merapatkan saf-saf kamu, atau Allah akan memecah-belahkan hati-hati kamu.” (Bukhari, Muslim).


Sabda baginda lagi,


“Sesungguhnya aku selalu melihat syaitan masuk ke dalam saf.”(Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban).


Mohon pada kamu, Nur, sebar-sebarkan kisah ini pada teman kita. Bukannya demi mencari orang tua gila itu. Bagiku, dia tidak hilang.


Hanya kesetiaan, kasih sayang, dan ukhwah berpasukan yang telah hilang daripada diri kita.


Sebarkan, Nur. Dan ayuh bersama-samaku. Biar penuh rumah Allah. Biar rapat pejuang-pejuang Dia. Biar menang perang kita yang satu ini, wahai sang buih-buih di pantai dunia. Ombak zaman makin menduga.




Saturday, 25 December 2010

AMBOI, SOMBONGNYA

Salams,

Kerja ngga siap lagi, tapi mahu menunaikan Hak Allah swt supaya menyebarkan peringatan:

"Demi massa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal sholih dan saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam (menetapi) kesabaran.” "[ al-Ashr [103]: 1-3 ]



Saya masih belajar cara apa yang paling efektif dalam memberikan peringatan. Saya sangat pasti ada sahaja tulisan saya yang ngga dapat diterima, tapi niat saya satu, insyaAllah, saya mahu kita saling ingat mengingati. Kerana saya hanya manusia. Tolongi lah saya dalam menggapai syurga.

Sedang menelaah, saya tiba-tiba terfikir, bahawa dosa pertama adalah engkar, sombong dan angkuh, mirip sekali dengan perbuatan Iblis semasa disuruh sujud kepada Adam. Bahawa aku dari api, kata Iblis, berani sekali memberitahu Allah swt, apa kelas sujud pada Adam yang di buat dari tanah yang hina, hitam?


“Dan apabila Kami berkata kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali Iblis. Ia enggan, dan ia sombong, dan ia menjadi antara orang-orang yang tidak percaya (kafir).” [surah Al-Baqarah, ayat 34]


Bukankah kejadian ini berlansung terus menerus? Dari kejadian pembunuhan pertama, Qobil membunuh Habil, sehinggalah sekarang. Sombong, angkuh. Saya lebih baik dari engkau, makanya engkau ngga berhak mendapatkan apa-apa dari saya, waima penghormatan. Yang tua menyangka dirinya lebih baik dari yang muda, yang kaya menyombongkan diri kepada yang miskin, yang kuat angkuh sekali pada yang lemah, yang guru menyangka lebih hebat dari anak murid, yang berilmu sombong pada yang jahil, yang pemimpin bongkak sekali pada rakyat. Yang pakai tudung menyangka lebih baik dari yang tidak. Yang solat menyangka lebih bagus dari yang tidak. The list goes on.


“Dan janganlah engkau memalingkan mukamu (kerana memandang rendah) kepada manusia, dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan berlagak sombong; sesungguhnya Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi membanggakan diri.” [surah Luqman, ayat 18]


Ya, kadang-kadang saya jua tidak dapat lari dari perasaan 'aku lebih baik'. Saya ini benar-benar fakir. Syaitan itu benar-benar bijak, dan bukan kah iblis sudah berjanji akan mendatangi kita dari segenap arah? Kalau diteliti dengan ayat-ayat quran balasan untuk si sombong, ah, kecut perut saya, sahabat-sahabat sekalian:


'Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedangkan kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong' - Al Mukmin: 76


Aduhai, syukurlah kita ada 'taubat' dan 'istigfar'. Ini hadiah yang sangat bernilai dari Allah swt. Ini adalah senjata yang sangat ampuh untuk mematahkan serangan syaitan, iblis dan manusia-manusia keji. Jangan sesekali, sahabat-sahabat sekalian, berputus asa pada rahmat-Nya, keaampunan-Nya, cinta-Nya. Selagi hayat di kandung badan, selagi nafas tidak sampai ke kerongkong, pintu taubat itu masih terbuka lebar. Seluas-luas langit dan bumi. Kalau luas bumi sudah diketahui, luas langit, subhanAllah, hanya Allah swt sahaja yang Maha Mengetahui.


'Dan hendaklah engkau memohon ampun kepada Allah, kerana sesungguhnya Allah adalah amat Pengampun, lagi amat Mengasihani' - An-Nisaa: 106.


Istigfarlah, kerana makna istigfar itu luas sekali, tidak hanya memohon ampun, bahkan menghilangkan kesan-kesan bahaya dari dosa-dosa lampau. Dan kita ngga tahu apa kesan dari perbuatan angkuh, sombong dan engkar yang pernah kita lakukan. Ya, sahabat-sahabat yang dimuliakan, semoga rintihan kita ini, di dengari Allah Maha Mendengar. Dan Dia, Dia itu amat suka mengampuni, Maha Pengampun dan Maha Mengasihani. Ah, hebat sekali. Manis sekali.