Showing posts with label PRAYER. Show all posts
Showing posts with label PRAYER. Show all posts

Thursday, 7 July 2011

FIRHOUSE


Salams,

Bismillahirahman nirrahiim,

Allahumma Solli A'la Sayyidina Muhamad, wa 'ala ali Sayyidina Muhamad.

Firhouse, Dublin arrived on "BLUE TULIP".

I like the name - Firhouse. Such a name. I wonder, a place is nothing without its own sweet history. Will a town be named after me? Not that I want to, but it makes you wonder. Like Teluk Intan is named after Mak Intan who used to come and reside here.

I wonder about many, many great things.

Like Al-Quran has many names as well. How's your relationship with Al-Quran?

Before we claim we are pious, knowledgable, good people, let's evaluate our relationship with our own Creator. I was once a very lazy lady. Nah, a very lazy human being, who will place many useless things above all in my list.

I forgot that al-Quran is the first, the foremost book that I need to finish before everything else. Alhamdulillah, I realise this before I see Him. That's why I love Brother Nouman's speeches that urge people to go back to the most basic thing in Muslim life besides solah - which is the al-Quran.

We have many hours to be spent in looking for and reading journals, watching anime, dramas and movies, gossiping and backbiting - yet we won't spend even a 5 minutes in reciting al-Quran, let alone memorizing it.

I'm truly ashamed of myself, my Lord. I beg your pardon, please forgive me, and us, and guide us to your True Path.







Saturday, 13 November 2010

MAGIS ISTIGHFAR

Khasiat “Magis” Istighfar

Kita teramat dimanja oleh Allah SWT. Sadarkah kita? Curahan kasihnya kepada kita tak tepermanai. Ia menggadang-gadang kehadiran kita di firdaus-Nya. Ya, ia merindukan kita.

Kala kita melesat jauh dari dekapannya, Ia sigap. Ayat-ayatnya segera berseru memanggil kita, sabda-sabda RasulNya akan lantang mengajak kita kembali.

Dan, kala kita terasuki dosa, ia memberikan penawar. Penawar yang sangat mujarab membersihkan ruhani kita dari gumpalan-gumpalan dosa. Penawar itu teracik dan terkemas cantik dalam kalimat-kalimat sakti “istighfar”.

Habib Umar bin Segaf as-Segaf, dalam karyanya, Tafrihul Qulub wa Tafrijul Kurub, mendedah keagungan istighfar dengan mengalirkan seuntai kalimat ringkas sebagai mukaddimah, “Istighfar adalah instrumen pemantik rizki”. Sudah barang tentu, kalimat ini multi tafsir. Dalam pandangan salaf sekaliber Habib Umar, kata “rizki” memuat berjuta makna, ada rizki ruhani, ada rizki ragawi. Wallahu a’lam.

Beliau kemudian melanjutkan kalamnya, “Kitabullah dan hadis-hadis Rasul SAW menyebutkan fadhilah-fadhilah istighfar berulang kali. Diantara fadhilahnya adalah melebur dosa-dosa, menetaskan jalan keluar dari pelbagai persoalan, dan menyingkirkan kegalauan serta kesumpekan dari dalam hati.”

“Memang, kesumpekan dan deraan persoalan, lazimnya berpangkal dari perbuatan dosa. Oleh karena itu, seyogianya diobati dengan istighfar dan taubat yang tulus ikhlas. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa melazimi istighfar, maka untuknya, Allah memberikan kebahagiaan dari kemasyghulan, jalan keluar dari kesulitan-kesulitan, dan Ia akan melimpahkan rizki kepadanya dengan cara-cara yang tak pernah diperhitungkannya.”

Seolah hendak menegaskan, Habib Umar menyebutkan lagi fadhilah istighfar, “Khasiat istighfar adalah menghapus dosa-dosa, memendam aib-aib, memperderas rizki, mengalirkan keselamatan pada diri dan harta, mempermudah capaian cita-cita, menyuburkan berkah pada harta, dan mendekatkan diri pada-Nya.”

“Logikanya, untuk menyucikan baju yang terciprat lumpur, kita bilas dengan sabun, bukan malah didekatkan pada asap-asap tungku. Pun demikian hati kita. Agar kian bersih dan molek, kita poles dengan istighfar, serta kita hindarkan dari lumuran-lumuran maksiat.”

“Dulu kala, seseorang mengadu kepada Imam Hasan Bashri mengenai kekeringan yang melanda negerinya. Sang Imam, dengan kearifannya, memberikan resep sederhana, “beristighfarlah!”. Lalu datang seorang lainnya. Kali ini ia mengeluhkan kefakiran yang terus menggelayutinya. Sang imam memperlakukannya sama dengan yang pertama. Ia memberikan resep istighfar kepadanya. Lalu datanglah orang ketiga. Yang terakhir ini menyambat nestapa bahtera rumah tangganya karena tak kunjung dianugerahi buah hati. Sikap sang imam masih seperti sebelumnya. Ia memberikan resep istighfar. Kepada ketiga-tiganya, Imam Hasan memberikan obat yang sama, yakni istighfar, untuk problematika yang beragam. Ia juga menjelaskan dalil-dalil al-qur’an dan hadisnya kepada mereka.”

“Suatu waktu, kemarau panjang menerpa negeri muslimin. Amirul mukminin, Umar bin al-Khattab tak mau tinggal diam. Ia segera berinisiatif memohonkan hujan. Akan tetapi, bukannya salat istisqa’ yang dicanangkan Umar seperti pada galibnya. Kali ini, ia, seorang diri, hanya melafalkan kalimat-kalimat istighfar.”

“Istighfar Umar bukan sembarang istighfar. Tapi istighfar yang penuh ijabah. Tak lama kemudian, hujan deras menggerojok tanah muslimin. Seseorang yang keheranan langsung melempar tanya, “bagaimana bisa Anda memohon hujan hanya dengan menggumamkan istighfar?”. Dengan enteng, Umar menukasi, “Aku memohon hujan dengan kunci-kunci langit.”

Kalam-kalam Habib Umar benar adanya. Kita perlu memaknainya dengan bijak. Barangkali, berondongan musibah yang mendera tanah tumpah darah kita ini adalah getah dari perbuatan kita sendiri. Tinggal bagaimana kita menyikapi?

Sejatinya, kita membutuhkan figur Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Tapi, mengharap sosok Umar, di era seporak-poranda kini, ibarat kerdil merindukan bulan, Sia-sia saja. Jadi, alangkah layaknya bila kita mulai membudayakan taubat dan istighfar di tengah-tengah rutinitas kita. Mari kita basahi bibir-bibir kita dengan istighfar, dengan pengharapan, barangkali Allah SWT berkenan menyetarakan istighfar kolektif kita ini dengan sebiji istighfar Umar bin al-khattab. Astaghfirullah rabbal baraya, astaghfirullah minal khathaya.

http://www.forsansalaf.com

Monday, 4 October 2010

Takahashi, 5 Menit Menuju ke Surga


dakwatuna.com – Kuringgu… kuringgu …. kuringgu!!! (kring …kring …kring..). Suara telepon rumah Muhammad berbunyi nyaring.

Muhammad: Mosi mosi? (Hallo?)

Takahashi: Mosi mosi, Muhammad san imasuka ? (Apakah ada Muhammad?)

Muhammad: Haik, watashi ha Muhammad des. (Iya saya).

Takahashi: Watashi ha isuramu kyo wo benkyou sitai desuga, osiete moraemasenka? (Saya ingin belajar agama Islam, dapatkah Anda mengajarkan kepada saya?)

Muhammad: Hai, mochiron. (ya, sudah tentu.)

Percakapan pendek ini kemudian berlanjut menjadi pertemuan rutin yang dijadwalkan oleh dua manusia ini untuk belajar dan mengajar agama Islam.

Setelah beberapa bulan bersyahadat, Takahashi kian akrab dengan keluarga Muhammad. Dia mulai menghindari makanan haram menurut hukum Islam.

Memilih dengan hati-hati dan baik, mana yang boleh di makan dan mana yang tidak boleh dimakan merupakan kelebihannya. Terkadang tidak sedikit, keluarga Muhammad pun mendapatkan informasi makanan-makanan yang halal dan haram dari Takahashi.

Pizza wo tabenaide kudasai. cheese ni ra-do wo mazeterukara.. (Jangan makan pizza walau pun itu adalah cheese, karena di dalamnya ada lard, lemak babi)”, nasihatnya di suatu hari. Takahashi mengetahui informasi semacam ini karena memang kebiasaan tidak membeli pizza, atau makanan produk warung di Jepang memang sudah terpelihara sebelumnya di keluarga Muhammad.

Toko kecil makanan halal milik keluarga Muhammad, menjadi tumpuan Takahashi dalam mendapatkan daging halal. Suatu ketika Takahashi ingin makan daging ayam kesukaannya, tapi dia ngeri kalau melihat daging ayam bulat (whole) mentah yang ada di plastik, dan tidak berani untuk memotongnya. Dengan senang hati, Muhammad memotong ayam itu untuk Takahashi. Dia potong bagian pahanya, sayapnya, dan badannya menjadi beberapa bagian.

Setiap pekan, Takahashi terkadang memesan sosis halal untuk lauk, bekal makan siang di kantor. Setiap pagi ibunya selalu menyediakan menu khusus (baca: halal) untuk pergi ke kantor tempat dia bekerja. Sebagai ukuran muallaf Jepang yang dibesarkan di negeri Sakura, luar biasa kehati-hatian Takahashi dalam memilih makanan yang halal dan baik. Terkadang Muhammad harus belajar dari Takahashi tentang keimanan yang dia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Pernah dalam suatu percakapan tentang suasana kerja, Takahashi menggambarkan bagaimana terkadang sulitnya menjauhi budaya minuman sake di lingkungan tempat kerjanya. Di Jepang, suasana keakraban hubungan antara atasan dan bawahan atau teman bekerja memang ditunjukkan dengan saling memberikan minuman sake ke gelas masing-masing.

Dalam kondisi hidup ber-Islam yang sulit, Takahashi ternyata terus melakukan dakwah kepada ibunya. Beberapa bulan kemudian akhirnya ibunya pun menjadi muallaf dengan nama Qonita, nama pilihan Takahashi sendiri buat ibu yang dia cintainya. Sampai saat ini, bagaimana dia mendapatkan nama itu, tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali Takahashi.

Beberapa bulan berlalu, pertemuan kecil-kecilan berlangsung …terlontar dari mulutnya suatu kalimat.

Watashi ha kekkon simasu (Saya mau menikah)….”, ujarnya.

Dengan proses yang panjang, akhirnya dia mendapatkan jodohnya, wanita Jepang yang cantik, yang dia Islamkan sebelumnya. Setahun kemudian, suatu hari Takahashi datang ke rumah Muhammad dengan istrinya yang berkerudung, ikut serta juga buah hati mereka yang telah hadir di dunia ini.

Pada suatu hari, iseng-iseng Muhammad bertanya kepada Takahashi, “Apa yang menyebabkan Takahashi lebih tertarik dengan Islam?”

“Sebenarnya saya belajar juga Kristen, Budha dan Todoku (Agama moral) selain Islam,” Takahashi menjelaskan.

“Masih ingat dengan telepon kita dulu? Waktu pertama kali aku telepon ke Muhammad beberapa bulan dulu”, sambungnya.

“Iya ingat sekali”, jawab Muhammad.

“Kita waktu itu membuat perjanjian untuk bertemu di suatu tempat bukan?”, tanya Takahashi.

“Iya benar sekali”, sambung Muhammad lagi sambil mengingat-ingat kejadian saat itu.

“Saya sungguh ingin mantap dengan Islam, karena Muhammad datang 5 menit lebih dulu dari pada waktu yang kita janjikan, dan Muhammad datang terlebih dahulu dari pada aku. Muhammad pun menungguku waktu itu”, jawab Takahashi beruntun.

“Karena itu aku yakin, aku akan bersama dengan orang-orang yang akan memberikan kebaikan”, sambungnya lagi.

Jawaban Takahashi membuat Muhammad tertegun, Astaghfirullah sudah berapa kali menit-menitku terbuang percuma, gumam Muhammad.

Begitu besar makna waktu 5 menit saat itu untuk sebuah hidayah dari Allah SWT. Subhanallah, 5 menit selalu kita lalui dengan hal yang sama, akan tetapi 5 menit waktu itu sungguh sangat berharga sekali bagi Takahashi.

Bagaimana dengan 5 menit yang terlewat barusan, milik Anda?

Saturday, 2 October 2010

Dari Laundry Mendulang Hidayah



dakwatuna.com - “Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.” (QS. al-Baqarah:266)

Ayat ini menerangkan, bahwa akhirat bagi seorang mukmin adalah segala-galanya. Sebagaimana dalam kehidupan dunia, masa tua adalah masa penentu kebahagiaan seseorang. Setidaknya seperti itulah –walau tidak sama persis–perjalanan menemukan Islam yang dialami seorang wanita lansia yang sehari-hari berprofesi sebagai petugas laundry pada sebuah asrama mahasiswa di Inggris.

Tidak ada sisi menarik pada wanita ini, tua renta, pegawai rendahan dan hidup sendirian. Setiap kali bertemu dia selalu membawa kantong plastik berukuran besar yang terisi penuh dengan pakaian kotor. Untuk pekerjaan kasar seperti ini penghuni rumah jompo ini terbilang cekatan di usianya yang sudah terbilang uzur. Di Inggris, masyarakat yang memiliki anggota keluarga lansia biasanya cenderung memasukkan mereka ke panti jompo. Dan tentu saja keadaan miris ini harus diterima kebanyakan para orangtua dengan besar hati agar tidak membebani anak mereka. Namun di tengah kondisi seperti itu sepertinya tidak membuat kecil hati tokoh kita ini yang justeru begitu getol mengisi hari-harinya bergelut dengan cucian kotor.

Wanita baya itu lebih suka dipanggil auntie atau bibi. Dia sudah bekerja sebagai petugas laundry hampir separuh usianya. Beruntung baginya masih ada instansi yang bersedia mempekerjakan para manula.

“Aku merasa dihargai meski sudah tua. Lagipula, orang-orang seperti aku ini sudah tidak ada yang mengurus, kalau bukan diri sendiri. Anak-anakku sudah menikah dan tinggal bersama keluarga mereka masing-masing. Suamiku sudah meninggal. Walaupun anak-anak suka menjenguk, tapi aku tetap ingin punya kegiatan sendiri untuk mengisi masa tua,” ujarnya

“Bukan untuk kerja yang berat memang, tapi setidaknya, selain menambah penghasilan juga mengisi hari tua. Mungkin itu lebih baik daripada harus tinggal diam di panti jompo.” Ujarnya lagi dengan wajah sendu.

“Sedih juga kalau harus tinggal sendirian. Seperti seorang temanku. Dia juga dulu bekerja sebagai petugas laundry bersamaku. Sampai akhirnya, anak perempuan satu-satunya menikah. Namun setelah menikah, anak perempuannya itu tidak pernah menghubunginya,” bibi berkisah.

Bagi sang Bibi profesinya sebagai petugas laundry justeru membuatnya lebih dekat dengan sepak terjang, liku-liku penghuni asrama yang rata-rata adalah mahasiswa dari luar Inggris. Sang Bibi paham betul kebiasaan para mahasiswa yang tinggal di asrama ini selain belajar sehari-hari, adalah pergi clubbing sekedar “having fun”. Banyak asrama memiliki bar, café, ruang duduk untuk menonton televisi, ruang musik dan fasilitas olahraga sendiri.

Dan salah satu sisi negatif pergaulan dengan orang Inggris adalah bila mereka sudah dekat botol miras, biasalah mereka sampai benar-benar mabuk. Dan dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi. Muntah merata di sebarang tempat, kencing dalam celana dan sebagainya. Inilah perbuatan paling bodoh yang pernah dilakukan oleh manusia sejak terciptanya minuman beralkohol. Bukan saja menghilangkan akal sehat, tetapi juga si pemabuk akan merasa kelelahan dan sakit kepala yang teramat sangat (hangover).

Saat para penghuni asrama masih dibuai mimpi karena kelelahan habis clubbing semalaman suntuk. Tinggalah sang Bibi memunguti pakaian kotor itu setiap hari. Dan terkadang harus diangkut dari kamar, jauh sebelum mereka bangun dari tidur. Kemudian disortir dengan teliti satu persatu berdasarkan jenis bahan, ukuran, warna dan yang lebih spesifik lagi dipisahkankannya pakaian dalam dari yang lain. Begitu pekerjaan rutin itu dilakukan dengan penuh dedikasi tinggi walau diujung usianya yang semakin menua.

Waktu terus berjalan, sementara sang Bibi tanpa putus asa terus bergelut dengan ‘dunia kotor’nya. Idealnya di penghujung usianya itu seharusnya masa bagi seseorang menuai hasil kerja payahnya di masa muda. Namun situasilah yang menyebabkan dia harus menanggung berbagai persoalan hidup, maka sungguh itu merupakan masa tua yang tidak membahagiakan. Di dalam kondisi yang sudah tidak mampu banyak berbuat, dia justru dituntut harus banyak berbuat. Dalam kondisi produktivitas menurun ia justru dituntut untuk berproduksi tinggi.

Entah sampai kapan dia harus melakoni pekerjaan itu. Maka sampailah suatu saat asramanya kedatangan penghuni baru yaitu beberapa mahasiswa muslim dari Timur Tengah yang mendapat tugas belajar dari negaranya. Mereka sudah terdaftar akan menempati salah satu kamar di asrama tempat sang Bibi bekerja.

Bagi kebanyakan pelajar timur tengah sangat langka memilih tinggal di asrama. Mereka biasanya membeli rumah atau flat yang sudah disesuaikan untuk menampung kelompok kecil siswa, pasangan atau keluarga. Ada juga beberapa pemilik tempat perorangan mengijinkan rumah-rumah mereka dikelola dan disewakan.

Tinggal di asrama merupakan cara terbaik untuk bertemu orang-orang baru dan menjalin persahabatan yang langgeng. Inilah salah satu pertimbangan mereka memilih tinggal di asrama. Kesadaran inilah yang menepis kekhawatiran akan terjadinya gegar budaya atau “cultural shock“.

Hidup dalam komunitas non muslimlah justeru kita dituntut untuk membuktikan nilai-nilai Islam yang tinggi ini sebagai sebuah solusi bagi manusia. Tentunya ini adalah pekerjaan dakwah yang merupakan tanggungjawab setiap muslim dimana saja berada. Dengan tetap menjaga keistimewaan kita sebagai muslim yaitu kesalehan.

Hari-hari terus berlalu, tampaknya si Bibi ini betul-betul perhatian dengan apa yang dicucinya. Sampai-sampai dia tahu ini pakaian si A, ini si B dan seterusya. Tidak terkecuali dengan pakaian kotor milik mahasiswa dari Timur Tengah tadi. Namun saat dilakukan sortir pakaian dalam, si Bibi merasa ada sesuatu yang tidak biasa, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaian muslim arab saja yang terlihat tidak kotor, tidak berbau, tidak kumuh dan tidak banyak noda dipakaiannya.

Kejadian langka ini semakin mendorong rasa penasaran si Bibi. Lagi-lagi pencuci pakaian di asrama ini selalu merasa aneh saat mencuci celana dalam mereka. Berbeda dengan yang lain, kedua pakaian dalam mereka selalu tak berbau.

Maka masih dalam keadaan penasaran, si Bibi memutuskan bertanya langsung dengan ‘pemilik celana dalam’ itu. Saat ditanya kenapa. Dua orang ini menjawab, ”Kami selalu istinja setiap kali kencing.” Pencuci baju ini bertanya lagi, ”Apakah itu diajarkan dalam agamamu?”

“Ya!” Jawab dua orang pelajar muslim tadi.

Merasa belum yakin 100% dengan jawaban itu, akhirnya si Bibi datang menemui salah seorang tokoh muslim yaitu Doktor Sholeh– Pengajar di sebuah perguruan Tinggi Islam di Saudi, saat ditugaskan ke Inggris– Wanita tua ini menceritakan keheranannya selama bertugas perihal adanya pakaian dalam yang ‘aneh’.

Ada beberapa pakaian dalam yang tidak berbau seperti kebanyakan mahasiswa umumnya, apa sebabnya? Maka ustadz ini menceritakan karena pemiliknya adalah muslim, agama kami mengajarkan bersuci setiap selesai buang air kecil maupun buang air besar, tidak seperti mereka yang tidak perhatian dalam masalah seperti ini.

Betapa terkesan ibu tua ini jika untuk hal yang kecil saja Islam memperhatikan apatah lagi untuk hal yang besar, pikir pencuci baju itu. Dan tidak lama kemudian ia mengikrarkan syahadat, masuk Islam dengan perantaraan pakaian dalam!

Tidak disangka ternyata diam-diam si tukang cuci masuk Islam, gemparlah para mahasiswa yang tinggal di asrama tersebut, yang kebanyakan adalah non muslim. Mereka berusaha ingin tahu sebab musabab si Bibi masuk islam. Dia menjawab dengan yakin bahwa dirinya sangat kagum dengan kawan muslim Arab ini, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaiannya sajalah yang terlihat tidak macam-macam. Dan dengan hidayah Allah Swt, dirinya dapat membedakan antara pakaian seorang muslim dan non muslim.

Hidayah memang bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Selama ini mungkin kita lebih sering mendengar masuk Islamnya seorang non muslim ke dalam Islam lebih disebabkan pada hal-hal luar biasa dan penting. Tapi yang ini benar-benar tidak biasa. Mendapat hidayah di penghujung usia gara-gara pakaian dalam! Sungguh takdir Allah benar-benar telah jatuh berketepatan dengan kegigihannya selama ini mengisi hari-hari di sisa hidupnya sebagai petugas laundry. Disinilah letak rahasia nikmat Allah yang agung yang mempertemukan antara takdirNya dan ikhtiar manusia. Sungguh Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal seorang hambaNya.

Sunday, 26 September 2010

FUNNY

Salams,

Kullum am wa antum bikhair.

For the past few days, or maybe few weeks, my posts are completely the copy-paste sort of things. Things that are dearer to me, and I have the highest hopes it will be yours too. I confess, I have no ideas what to write, when to write, and how to write. It seems to me that the ideas have eluded me, and being a passive person, I have no heart to chase it; be it the most important ideas or otherwise.

Please bear with me.

A friend has told me, I have an the influential writing, in which it can affect or wreck hearts. It is the highest honour, coming from an honourable lady. But I beg to differ, I do not think my writing is really inspiring. I write craps most of the times, and idocy for the rest. Sometimes I really hate myself after I post the entry, it shows how worthless I feel to that extend. I dream to be a good blogger, writing experiences that can bring audiences closer to The Exalted, Allah swt. But if I dont really have a good relationship with Him, how could I, the most sinful slave, write things that I do not really do? Owh Allah, I strive hard to be closed to you, please accept my humbling prayers. Please.

I couldnt write. Doesnt matter how worried I am, I still couldnt write. Some concepts are difficult to tie it with the empirical results, it's the analysis that show how far you go in this area. This academic writing really drives me crazy. I know now, I must have a complete silence to do the analysis. Not even a slightest distraction. I wonder, how do Sir Leicester, Lady Durham, and Lady Essex write their papers? They have a far greater preoccupation, yet they are more than able to produce a greter paper. Lazy lady, I am, yes, I admit it. I will be more than understanding once I am in my supervisor's shoe, insyaAllah.

A friend asks me what I am doing for life. Being so elusive, I am reluctant to reveal to him who I am, as in this capitalist world, it is a job that defines who you are, such a beastly concept. And I have received the most shocking reply ever - I hope what you do to bring home the bacon is halal. I nearly die with laughing so hard, literaly I roll on floor laughing my ass off. Astagfirullah, yes, I will try my very best to bring home the halal bacon, so to speak. I retold this funny story to my other friend, she is also laughing her pant off. Goodness me, she replies, you have the most innocent face ever, how could he presume you to be like that? I shrug my shoulders, well, some people. By the way, I do not have the innocent face, ask my other friends.

Do we judge people by his/her physical appearance? Or her/his aura? Or her/his manerism? Or his/her wealth? Talking about love, a friend told me the meaning of love written in the SOLUSI magazine (if I'm not mistaken), it is the reflection of ourselves we find in them. Without being cliche, love is an overused concept, yet we never grow tire of talking about it. Yes, if I love a man, it must be that I love his quality that equal to mine, or the quality that I seek and hope to be mine.

My friend writes: menurut Imam Ghazali, cinta itu ialah kecenderungan jiwa yang amat kuat dalam diri seseorang kepada sesuatu atau seseorang lain yang memberi kelazatan, manfaat dan sangat serasi dengan fitrahnya. Rasanya kita akan menyintai seseorang/sesuatu jika ia refleks kepada fitrah diri. In a sense, kita sebenarnya menyintai diri sendiri. We can love somebody, because that somebody has the quality that reflects you, eventhough you don't have that quality yet.

And she knows why I loved him: because he remains faithful to Allah, even when the entire world is against him. And I really know why she loves him: because he is a fighter, even when he is alone in his war, in his jihad, even when the entire world is against him, he still stands tall, never weavers in his jihad. I know sister, I know it.





Wednesday, 1 September 2010

10 Bersaudara Hafal Al-Qur’an

Salams,

Saya busy bangat, ngga mampu menulis secara konsisten. Disini saya copy paste kan sahaja coretan-coretan yang memungkinkan membakar semangat anda untuk menjadi lebih baik dari semalam. Yakinlah, segala-galanya ini adalah rencana Allah swt. Kita ini faqer, ngga punya apa-apa. Moga sahaja amal ini diterima Allah swt dan dikurniakan-Nya dengan kurnian yang ajaib-ajaib.

10 Bersaudara Hafal Al-Qur’an

31/8/2010 | 22 Ramadhan 1431 H | Hits: 3.096

Kirim Print

10 bersaudara hafal Al-Qur'an (inet)

dakwatuna.com – Telanaipura. Siapa yang menyangka bila 10 putra pasangan H Mutammimul Ula (Ustadz Tammim) dan Wirianingsih (Ibu Wiwi), ternyata bisa menjadi penghapal Alquran alias Hafizh. Pada Sabtu (28/8) lalu, keluarga ini mengikuti undangan DPD PKS Jambi.

Kedua pasangan suami istri tersebut mendidik dan membina kepribadian putra-putrinya dengan kebaikan akhlak, perilaku Qurani, anggota keluarga tidak pernah lepas untuk menghapal ayat suci Alquran yang menjadi pegangan hidup bagi seluruh umat muslim.

Keluarga tersebut juga menjadi inspirasi bagi keluarga muslim lainnya untuk dapat meneladani keistimewaannya. Kesepuluh putra mereka, selain berhasil di bidang keagamaan, juga berhasil di bidang akademik dan kemasyarakatan.

Misalnya, putra pertama H Mutamimul ‘Ula, Afzalurahman Assalam. Kini dia semester akhir Teknik Geofisika ITB, hafal Alquran sejak usia 13 tahun, dan Juara I MTQ putra pelajar SMU se-Solo. Selain itu, dia juga menjabat sebagai Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programme 2007.

Hal itu membuktikan bahwa prestasi di bidang menghapal Alquran tidak menyurutkan prestasi lainnya di bidang keduniawiaan, terutama dalam bidang pendidikannya yang terus menanjak.

Selain dari seorang putranya itu, sembilan saudara lainnya juga memiliki prestasi gemilang, dari prestasi akademik, jabatan di keorganisasian, juara MTQ, dan selalu mendapatkan amanah yang baik di dalam lingkungan. Dari kesepuluh putranya, empat putranya hapal 30 juz, ada yang hapal 29 juz, 15 juz, 13 juz, sembilan juz, dan dua juz bagi dua putranya yang masih duduk di bangku SDIT Mampang Jakarta Selatan.

Dalam kesempatan menyambut momen Nuzul Quran (turunnya Alquran), DPD PKS Kota Jambi menghadirkan langsung H Mutamimul ‘Ula dan seorang putranya yang kedelapan yaitu Muhammad Syaihul Basyir atau akrab disapa Basyir, Sabtu (28/8) lalu di Aula Museum Negeri Jambi Telanaipura.

Keluarga Mutamimul pun membagikan tip dan menjadi motivator bagi keluarga muslim di Kota Jambi. Antusiasme peserta yang hadir dalam kegiatan cukup tinggi. Itu terlihat dari jumlah kursi yang disediakan seluruhnya terisi, bahkan ada peserta yang rela untuk berdiri demi mendengarkan motivasi dari H Mutamimul ‘Ula tersebut.

Bagaimana kunci kesuksesannya? Meski keduanya sibuk atas pekerjaan yang sebelumnya merupakan politikus dari PKS serta sibuk dalam dunia dakwah (menyebarkan syiar Islam di tengah masyarakat), namun, pasangan suami-istri ini memiliki komitmen terhadap pendidikan anak. Terutama pendidikan agama, akhlak dan kepribadian anak.

Keluarga ini sebagaimana keluarga lainnya yang hidup di tengah arus globalisasi, putra mereka tetap diberi kebebasan menikmati berbagai fasilitas teknologi. “Namun, yang terpenting adanya imun (kekebalan) di dalam diri anak. Sehingga anak dapat tetap terjaga,” ujar Ustad Tamim saat menyampaikan urainnya di hadapan peserta.

Tamim menekankan, banyak beramal ibadah, berdoa, merupakan kunci keberhasilan untuk kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Kedua pasangan ini sangat memperhatikan pentingnya manajemen waktu, konsisten (istiqamah), dan terus mengontrol perkembangan putra mereka dalam keluarga yang terus membina hubungan baik.

Bahkan, mengenai pengecekan hasil belajar putra mereka, kedua pasangan ini lebih mengutamakan untuk mengecek hapalan Alquran putra mereka, dan selanjutnya barulah menanyakan mengenai tugas sekolah atau kuliah. “Karena bila hapalan telah baik. Maka, yang lainnya akan ikut sendiri,” ujar Ustad Tamim yang sangat rendah hati dan tak pernah ingin berbangga diri itu.

Putra kedelapan Ustad Tamim yang baru kelas III SMP, Basyir mengutarakan, dia tidak begitu tertarik dengan permainan yang membuatnya lalai. Alquran aktivitas kebaikan lainnya, lebih menarik hatinya ketimbang harus menghabiskan waktu dengan permainan anak-anak yang marak akhir-akhir ini.

Saat dikonfirmasi kepada ketua pelaksana yang juga Ketua DPD PKS Kota Jambi Syafruddin Dwi Aprianto, dihadirkannya seorang inspirator generasi Qurani itu, bertepatan dengan momen Nuzul Quran pada Ramadan kali ini. “Selain itu, untuk memotivasi keluarga muslim agar dapat meneladani Ustad Tamim dan istri yang dapat mendidik 10 putranya menjadi bintang Alquran,” katanya.(dwy/ji)

Wednesday, 18 August 2010

THE BREATH OF PERFUMES

Salams Ramadhan,

Salam Penghidup Malam, moga-moga du’amu tiada hijab nya dalam menuju ke Rabbul Izzati, Salam Pembela Agama, moga-moga juangmu menjadi saksi, Salam Pencinta kebenaran, moga-moga kebenaran itu sentiasa melindungi mu, Salam sahabat-sahabat yang dikasihi, yang sentiasa di hati dan tidak pernah mati, semoga Allah swt menjadi segala-galanya untuk kita.

Sudah juzuk berapa Al-Quran yang anda baca setakat ini? Macam-macam kisah berlaku di Teluk Intan, mahu malu atau sedih jua ia bukan satu pilihan. Semasa blog hopping, saya terbaca satu post yang membuatkan saya tertanya-tanya, penulisnya entah siapa tidak saya ingat:

*sigh* I fall in love with Tariq Ibn Ziyad over and over again.

Siapakah pemuda Tariq ini? Namanya sahaja sudah begitu hebat, menyebutnya sahaja memerlukan qalqolah di hulkum. Aura yang terpancar dari nama, membuatkan saya begitu malu sekali kerana tidak mengenalinya, padahal negara yang telah di 'conquer' nya telah saya jelajahi.

Ucapan Tariq yang sangat berkesan hingga kini, setelah membakar kapal-kapal perang beliau, adalah:

"Wahai tentera Islam. Laut di belakang kamu, musuh di hadapan kamu. Maka pilihlah mana yang kamu kehendaki. Kamu di sini hanyalah yatim piatu dan tiada saudara-mara. Tiada yang menolong kamu di sini melainkan Allah Ta'ala"

Kalau mahu versi panjangnya, ia di dalam Bahasa Inggeris, sila rujuk The Breath of Perfumes.

Waduh, ucapan yang begitu berapi-api sekali! Ya, hidup ini bukan pilihan, sekali bertekad Allah swt itu Tuhan Yang Maha Esa, pilihan hidup apa yang terbentang untuk kita? Sungguh! Tidak hairan kalau blogger itu jatuh cinta sama pemuda ini.

Dan post di bawah sungguh lucu kerana ditulis begitu bersahaja sekali. Perlu diingatkan sekali lagi, saya ini aneh sekali kerana gemar sekali melihat sesuatu perkara yang terjadi sebagai lelucon, ya, lucu-lucu sekali hidup ini. Tetapi pengajarannya sangat dahsyat sekali, meggegarkan Arasy, ya, bilamasa pemuda disibukkan dengan dunia, Islam itu runtuh. Doakan saya yang faqer ini supaya sentiasa dirahmati Allah swt, dan diselamatkan-Nya dengan sifat-Nya Ar-Rahman dan Ar-Rahiim dari segala dosa yang akan menghantarkan bencana, baik di dunia mahupun akhirat.


Riwayat ke-2

Se-to-ri of the great history of Andalus. Well, well using my language okey. Its from the talk I listened long time ago. Past 4 years perhaps.

Pertama kali, spy dihantar ke Andalus.

Dia nampak sorang syab ni menangis. Bila ditanya kenapa? Syab tu jawab, mak dia tak bagi dia pergi jihad. Sebab dia belum habiskan hafalan Quran dia lagi. Dan spy tu pun balik, mengkhabarkan, sekarang bukan masanya untuk menyerang Andalus.

Kali kedua, ada lagi spy yang dihantar ke Andalus.

Dia nampak seorang syab ni menangis. Bila ditanya kenapa? Syab tu jawab, kekasihnya telah meninggalkan dia. Dan spy tu pun balik, mengkahbarkan, inilah masa yang tepat untuk menyerang Andalus.

See, tamadun se-gah dan sehebat itu jatuh macam tu je?

Kalau zaman sekarang ni, tengok sendiri pun dah paham. Syabab bergaduh berebutkan ‘perempuan’. Ouh, I’m sorry to say, But I think this is such a ‘very mindless-stupid’ matter. Pekehal? Pekdahnya kome ada ilmu tak reti nak amal ke?

Kalau dah gini gaya, agaknya kan, BILA ISLAM NAK NAIK AGAKNYA?

Monday, 16 August 2010

ONE OF THE COUNTLESS BEAUTIFUL STORIES

In the name of God, the Most Merciful, the Most Compassionate
All praise and thanks be to God, and may peace and blessings be upon the most noble of Prophets and Messengers.


Whenever I feel discouraging, helpless, hopeless, dismal and bleak, I always read the below post written by Jinan Bastaki. I love the poem especially. For you out there - do not ever lose hope in the mercy of Allah.

_____________________________________________________________

Abu Nuwas was a person who loved to drink and say obscene things, such that he would even make up verses of poetry and sing about inappropriate things. However, he underwent a change and repented to God. People were surprised—Abu Nuwas, who was a known drunkard? Abu Nuwas the lewd man? In a sense, it was almost as though they believed Allah would not forgive him and that Allah would not have mercy on him. So he wrote verses of poetry, and they found these verses under the bed that he died upon. The lines in the poem said:


O my Lord, if the greatness of my sins increase, then I know that Your forgiveness is greater


If only the righteous called on You, then who would the criminal go to?


I call on You my Lord, as you commanded, with reverence


And if You turn my hands away, then who else will have mercy?


Friends, to deeply believe, without an ounce of doubt, that Allah The Most Merciful, The Most Loving, The Oft-Forgiving - that's the real imaan.


39:53
“Say: “O my Servants who have transgressed against their souls! Despair not of the Mercy of Allah. For Allah forgives all sins: for He is Oft-Forgiving, Most Merciful” (Qur’an, 39:53).



Tuesday, 13 April 2010

Wahai Perempuan, lihatlah Anak Syu’aib itu.

Bismillah hir-Rahman nir-Rahim,

In the name of Allah, The Most Gracious, The Most Merciful.

I have a lot to do before a day after tomorrow. And I would like the readers to read the below article penned by Hilal Asyraf, SubhanAllah, one of the best posts I've ever read. I hope to Allah swt that He rewards him more than we could imagine, and I pray to Allah swt that we, the readers and me, have His guidance and protection, 'till to end.

Must dash!
Love always.





Langit Ilahi Rotating Header Image

Perkongsian: Wahai Perempuan, lihatlah Anak Syu’aib itu.

Malulah, seperti malunya Anak Syuaib AS ~ Picture by yip87

Malulah, seperti malunya Anak Syu'aib AS ~ Picture by yip87

Ya Allah, kurniakanlah sifat malu kepada perempuan hari ini, sebagaimana sifat malu yang wujud pada Anak Syu’aib. Ya Allah, kurniakanlah sifat malu kepada perempuan hari ini, sebagaimanan sifat malu yang wujud pada Anak Syu’aib. Ya Allah, kurniakanlah sifat malu kepada perempuan hari ini, sebagaimana sifat malu yang wujud pada Anak Syu’aib.

Katakanlah amin.

Saya kagum dengan sifat malu yang wujud pada Anak perempuan Nabi Syu’aib. Selama ini saya sudah tahu akan kisahnya, tetapi semalam saya mendengar dengan penjelasan yang sangat-sangat mendalam, mencucuk, dan memberikan kesan dalam jiwa saya.

Moga keluarga perempuan saya, bakal isteri dan anak-anak saya, semuanya Allah kurniakan sifat malu yang ada pada Anak Syu’aib. Sememangnya sifat malunya, perlu dicontohi perempuan yang ada.

Lelaki juga, apa salahnya mengambil pengajaran daripadanya.


Kisah yang tercatat di dalam Al-Quran

“Dan ketika dia(Musa) sampai di sumber air negeri Madyan, ia dapati di situ sekumpulan orang-orang lelaki sedang memberi minum (binatang ternak masing-masing), dan ia juga dapati di sebelah mereka dua perempuan yang sedang menahan(ternakan mereka berdua). Dia bertanya: Mengapa dengan kamu berdua(menahan ternakan)? Mereka menjawab: Kami tidak dapat memberi minum (ternakan kami) sehingga pengembala-pengembala itu membawa balik binatang ternak masing-masing; dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya.”

“Maka Musa pun memberi minum kepada binatang-binatang ternak mereka, kemudian ia pergi ke tempat teduh lalu berdoa dengan berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku sangat berhajat kepada sebarang rezeki pemberian yang Engkau berikan.

“Kemudian salah seorang dari perempuan dua beradik itu datang mendapatkannya dengan berjalan dalam keadaan tersipu-sipu sambil berkata:” Sebenarnya bapaku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami”. Surah Al-Qasas ayat 23-25.

Di dalam kisah pendek tiga ayat ini, tersembunyi ibrah yang sangat besar. Bukan hanya kisah pertemuan Musa dengan Anak Nabi Syu’aib yang kemudiannya mendidik kesabaran Musa. Bukan juga hanya kisah Musa yang baik hati membantu perempuan yang lemah. Bukan juga hanya kisah aturan Allah SWT yang cantik mengaturkan perjalanan Musa dalam rangka menjadikannya sebagai Nabi.

Tetapi di dalam tiga ayat ini, terdapat juga didikan untuk wanita.

Allah hendak menunjukkan bagaimana urusannya wanita dan lelaki, dengan menunjukkan sifat malu yang wujud dalam diri Anak-anak Syu’aib.

Wahai manusia, Allah sedang berbicara dengan anda berkenaan Sifat Malu.

Sifat malu yang sangat tinggi

Anak-anak Nabi Syu’aib tidak membenarkan diri mereka bercampuran dengan lelaki-lelaki lain walaupun mereka mempunyai kerja yang penting – memberikan minuman kepada ternakan mereka.

Mereka sanggup menahan ternakan mereka dan menanti walaupun keadaan itu sangat memberikan kekurangan kepada ternakan mereka nanti. Alasan lemah adalah alasan yang kedua. Alasan utama adalah kerana bergaulan, bercampuran dengan lelaki sememangnya menjatuhkan akhlak mereka.

Kita sendiri, kalau melihat perempuan tolak menolak dengan lelaki, berebut-rebut dengan lelaki, bersentuhan tangan, bergeselan badan, bagaimana agaknya persepsi kita?

Maka Anak-anak Syu’aib menanti. Biar lapang baru mereka pergi. Tidak melanggar adab pergaulan, dan tidak pula mengundag kecederaan.

Namun, melakukan sedemikian pastinya satu kekurangan untuk mereka. Kekurangan untuk binatang ternak mereka membesar dengan baik. Tetapi lihatlah Anak-anak Syu’aib, dunia dan akhirat yang mana mereka pilih?

Penjagaan diri mereka ini membuatkan mereka sangat mahal.

Tidak memanjangkan bicara 1(kondisi diajak bicara)

Musa yang berehat di bawah pokok berdekatan hanya memandang. Pelik di matanya melihat dua orang perempuan berdiri menunggu di tepi sumber air bersama ternakan mereka. Pastinya dua perempuan itu bukan menanti suami atau ayah mereka siap memberi minum pada ternakan kerana keduanya membawa ternakan masing-masing.

Atas dasar ambil berat, Musa bangun dan bertanya.

“Mengapa dengan kamu berdua?”

Dan lihatlah bagaimana cantiknya akhlak Anak-anak Syu’aib. Lihatlah bagaimana mereka menjawab dengan kata-kata yang pendek, tidak meleret-leret, malah menutup lubang untuk menyambung bicara lain.

Terus sahaja mereka menjawab: “Kami tidak dapat memberi minum (ternakan kami) sehingga pengembala-pengembala itu membawa balik binatang ternak masing-masing; dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya”

Terus kepada point. – Kami tidak dapat memberi minum sehingga pengembala-pengmbala itu mebawa balik binatang ternak masing-masing –

Menutup ruang untuk perbualan berpanjangan – dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya –

Lantas Musa tidak menyambung perbualan mahupun bertanya lagi. Malah dia juga sudah tiada alasan untuk bertanya kerana segalanya telah terjawab dengan jawapan ringkas itu. Kata-kata “dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya” itu telah menjawab soalan-soalan seperti: “Habis, mana ayah awak?”, “Abang awak tak ada ke?”, “Ish, kesiannya, kenapa ya macam tu?” dan lain-lain.

Sangat bersih peribadi Anak-anak Syu’aib dalam menjaga diri mereka. Tidak berminat memanjangkan bicara yang tiada kepentingannya. Dan lihatlah pula kepada Musa, sangat bersih peribadinya dengan tidak mencari atau memikirkan mana-mana peluang lain untuk berbual, tetapi tanpa banyak bicara terus membantu ketika itu juga.

Tidak memanjangkan bicara 2(kondisi pemula bicara)

Dan apabila Nabi Syu’aib melihat kedua anaknya pulang lebih awal dari biasa, dia kehairanan dan bertanya. Maka kedua anak itu menceritakan perihal lelaki yang berteduh di bawah pokok. Maka Nabi Syu’aib mengarah salah seorang anaknya pergi memanggil.

Lihatlah bagaimana anak itu, walau berseorangan, tidak lagi ditemani ahli keluarganya, tidak pula mengambil peluang bermanja-manja atau berkenalan dengan lelaki yang berjasa itu.

Malah dia berjalan dengan tersipu-sipu, berjalan atas sifat malu, dan terus berkata menyampaikan hajatnya:

“Sebenarnya bapaku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami”

Tidak pula dia meleret-leret atau berpusing-pusing dahulu dengan sembang-sembang lain, tanya-tanya lain seperti:

“Eh awak, terima kasih lah tadi ya. Awak baik sangat. Walaupun kita tak kenal… bla bla bla”

“Awak siapa nama ya? Terima kasihlah tadi ya. Ah, ni ayah saya panggil. Dia kagum dengan awak. Yalah, siapa yang nak tolong perempuan masa ni… bla bla bla”

Tetapi Anak Syu’aib itu terus pada pointnya tanpa memanjangkan bicara – Sebenarnya bapaku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami – Habis cerita dan tiada lagi alasan untuk menyambung sembang baik dari Pihak Musa, mahupun pihaknya.

Dia melaksanakan amanah bapanya tanpa mengambil celahan pada amanah itu.

Bersihnya peribadi Anak Syu’aib. Sifat malunya sangat tinggi. Sangat menjaga budi pekerti. Tiada langsung apa yang dikatakan ‘gedik’ oleh manusia hari ini. Langsung tidak mengambil peluang berduaan dengan jejaka berjasa yang hebat itu. Dan lihatlah Musa. Bersihnya peribadi Musa, tidak pula mengambil peluang berduaan itu dengan memanjang-manjangkan sembang, mencari peluang berkenalan dan sebagainya.

Bagaimanakah kita hari ini?

Melihat Anak-anak Syu’aib, kita sepatutnya persoalkan diri kita.

Bagaimana kita hari ini?

Bila memberikan bantuan, bila meminta pertolongan, bila berbincang untuk sesuatu program di dalam mesyuarat, bila di Facebook, YM, dan di macam-macam situasi lagi. Bagaimanakah kita?

Di sini perlu kita lihat. Bagaimana Allah menunjukkan sikap Anak Syu’aib dan Musa AS. Anak Syu’ain mewakili perempuan, dan Musa AS mewakili lelaki. Bagaimanakah keadaan mereka, pergaulan mereka, akhlak dan peribadi mereka.

Adakah kita mencontohi?

Kebanyakan kita, kalau bercerita akan kisah Musa dan Anak Syu’aib, tak habis-habis menceritakannya dari sudut percintaan. Entahlah, saya pun tak faham. Kisah Nabi Yusuf dengan Zulaikha pun pergi cerita macam itu juga, balik kepada cinta.

Cinta nak kecoh. Malu tak mahu cerita. Macam mana masyarakat nak jadi bagus?

Penutup: Saya sangat kagum dengan Anak Syu’aib

Huraian ini diceritakan oleh pensyarah Hadith saya semester ini, Dr Samirah Tohir. Semasa dia menceritakan cerita ini, saya tak henti-henti tersengih. Entah kenapa, saya terbayang-bayangkan wanita yang mempunyai sifat malu seperti ini.

Alangkah indahnya dunia kalau dipenuhi wanita-wanita sebegini. Terjaga pergaulan mereka, bersih peribadi mereka, cantik akhlak mereka, mahal harga diri mereka.

Kisah ini membuatkan saya berazam untuk mendidik diri dengan lebih kuat lagi. Biar nanti kalau Allah kurniakan saya anak perempuan, saya senang anak perempuan saya terjaga seperti terjagana anak-anak perempuan Syu’aib.

Semestinya, anak-anak perempuan Syu’aib mempunyai akhlak yang sedemikian kerana terdidik dengan didikan ayahanda mereka, Nabi Syu’aib AS.

Ya Allah, kurniakanlah sifat malu Anak Syu’aib itu kepada perempuan hari ini.

Ya Allah, kurniakanlah juga keindahan akhlak Musa itu kepada lelaki hari ini.

Selembut rebung, sekeras buluh

Bismillah hir-Rahman nir-Rahim,

Entri kali ini dicedok dari Balqis, semoga pahala melimpah ruah untuk sang penulis, sang pembaca dan sang 'pengcopy', :)

Must dash!
Love always.

__________________________________________________________________________


Benar, melentur buluh biarlah dari rebungnya. Lembut dan mudah dibentuk. Setelah menjadi buluh, bikinan apa pun, payah mahu dibentur, melainkan ditetak, diambil jualah dibuat meriam. Pun begitu teman, beritahu padaku, benar payahkah melentur setelah rebung keras menjadi buluh?

Ada sebuah kisah berharga dipetik dari hadith yang diriwayatkan oleh Muslim, At-Tirmidzi dan An-Nasai’ yang bisa dikongsi dan diambil pelajaran bersama. Kisahnya begini...

Al-Ghamidiyyah adalah sosok wanita sahabat yang hidup di Madinah dan bersuami dengan lelaki sahabat. Bayangkan, ia belajar Al-Qur’an dengan kedua telinganya dari lisan Rasulullah SAW, berIslam di tangan Nabi SAW dan hidup di Madinah. Setelah semua itu, ia berzina. Bayangkanlah!

Ia berzina, tetapi ia punya keinginan bertaubat, maka ia pergi kepada Rasul SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah berzina, dan kini aku sedang hamil. Sucikanlah aku, ya Rasulullah.”

(Perhatikanlah kalimat “Sucikanlah aku, ya Rasulullah!” Lihatlah yang dosa mereka menguasai hati dan fikiran mereka selama puluhan tahun. Al-Ghamidiyyah sekali berbuat salah, tetapi ia ingin bertaubat.)

Rasulullah SAW bersabda, “Pergilah sampai anakmu lahir, lalu datanglah kepadaku!”

(Apakah kita tahu, apa yang akan diperoleh penzina yang bersuami? Hukum rejam sampai mati! Ia menjadi tercemar, suaminya menjadi tahu dan keluarganya pun tahu. Tetapi menyucikan diri lebih utama)

Kemudian Al-Ghamidiyyah kembali setelah sembilan bulan. Keinginan taubat di hatinya masih membara. Ia hanya mendengar beberapa kalimat dari Rasulullah SAW.)

Setelah sembilan bulan ia datang sambil membawa anak kecil seraya berkata, “Sucikanlah aku, ya Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Pergilah hingga kau menyapihnya.”

(Apakah masuk akal? Ia akan menunggu dua tahun setelah menunggu sembilan bulan? Ia akan menunggu dan ia hanya berfikir, “Aku ingin menyucikan diri.” Hal ini tidak sesuai dengan kondisi kita, kerana hukum hudud tidak ditegakkan, sehingga taubat hanya dilaksanakan dengan tiga hal – menyesal, menghentikan dan bertekad kuat untuk tidak akan mengulanginya.)

Setelah dua tahun, ia melihat anaknya sudah mahu memegang roti, maka segera ia mengerti bahawa anaknya sudah mampu disapih, iapun datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Bunuh dan sucikanlah aku.” Rasulullah bersabda, “Berikan anak itu.”

(Siapa yang lebih mahal, anak atau ibu? Anak itupun diambil, tetapi lihatlah pada masyarakat ketika itu yang mempunyai ukhuwwah yang mantap. Apa yang mereka katakan kepada anak tersebut? Adakah anak penzina? Tidak! Orang Islam tidak akan mengatakan pada anak mereka dengan perkataan itu.)

Rasulullah SAW mengangkat anak itu, lalu berkata, “Siapa yang mahu menjamin anak ini, ia akan menjadi pendampingku di Syurga!” Anak itupun diambil dan Al-Ghamidiyyah pun direjam.

(Ia adalah seorang wanita, yang kalau sahaja ia lari daripada batu tentu mereka akan meninggalkannya.)

Al-Ghamidiyyah pun dibelenggu hingga mati. Lalu Nabi SAW berdiri untuk melakukan solat (jenazah), maka ‘Umar pun berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Anda akan mensolatkan dia sedangkan dia itu penzina?” Nabi SAW bersabda sambil marah, “Celaka kau ‘Umar, ia telah bertaubat dengan taubat yang kalau dibahagi-bahagi kepada 70 orang penduduk Madinah tentu akan mencukupi mereka. Apakah kau pernah melihat taubat yang lebih baik dari mendermakan jiwanya kepada Allah?”

(Kisah ini beserta komentar tambahannya adalah sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Sheikh Amru Khalid di dalam bukunya “Islahul Qulub”.)

Lihatlah betapa hebat dan mantapnya taubat Al-Ghamidiyyah tersebut, tidak berpaling sedikitpun, malah terus-terusan berusaha untuk membersihkan dirinya. Allahuakbar...

Teman, fitrah manusia itu sangat-sangat mahu kepada kebaikan. Berlarilah sejauh mana pun bersama kejahatan, kau pasti tetap akan tiba di garis permulaan tempat kau mula menapaki pelarian. Erti kehidupan itu teman, terletak pada satu tujuan. Dan tujuan itu tidak pernah berbeda dari saat kau dilahirkan hingga menginjak dewasa. Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (2:207)

Seperti kerasnya buluh, ia masih bisa dibuat bina jambatan atau rakit, menopang kukuh struktur bangunan dan paling terpopular, buat diguna di hari lebaran mengisi beras pulut dan santan dalam balutan daun pisang – iya, namanya lemang. Asal tahu tujuan, InshaAllah bisa teradaptasi menuju destinasi – mencari redha Illahi. Dan teman, biarpun hidayah itu milik Tuhan, jangan pernah lelah berusaha memiliknya jua. Sungguh, belum pernah terlambat untuk bertaubat, biar ditinggal berapa jauh pun kerana bukan masa yang menjadi hitungan, amal yang diredhai jualah menjadi pergantungan. Biar - sedikit mana pun, teman.

Justeru teman, beritahu padaku, benar payahkah melentur setelah rebung keras menjadi buluh?

Entah.

Lenturlah berkali-kali, InshaAllah kan bisa lebih lembut dari rebung nanti.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Ali 'Imran:134)

"Jangan pernah berubah kerana orang, takut nanti bila kau sudah bosan dengan perubahan itu, kau akan kembali kepada dirimu yang dahulu. Biarlah perubahan itu datang dari hati. Hati yang telah dibersihkan."

Wallahua'lam.



Dalam sela-sela tawa, aku mengharap hadirnya basah mata,

Tuesday, 10 November 2009

PENGEMIS DAN DOSA NEGARA

Salaams,

Bismillahir-Rahman nir-Rahim,

Buat kamu yang dimuliakan, moga Redha Allah swt itu menjadi milik kamu hari ini.

Ini saya copet dari Blog Liputan 6, ah, mahu menulis tajuk ini dengan baik belum mampu lagi. Topic ini sangat dekat dengan hati saya. Bahkan, melebihi dari segala-galanya.

Menurut Ketua MUI Sumenep KH Syafraji mengemis akan menjadikan diri hina dan merugikan orang lain. “Islam sudah secara tegas melarang kegiatan mengemis karena termasuk bermalas-malasan,” paparnya.

Ini fatwa yang dikeluarkan oleh negara jiran kita (malas bangat kamu ini Nur, mahu meng'google' fatwa mengemis di Malaysia?). Tapi ini bukan soalnya, yang mahu saya bicarakan ialah tentang dosa negara.

Selama kesejahteraan tak bisa diwujudkan negara, akan selalu ada pengemis. Kesejahteraan itu luas maknanya, mencakupi segala-galanya, tapi paling utama adalah keperluan jasmani. Nah, ini peranannya kerajaan yang ditubuhkan. Bukan semata-mata untuk menjadikan bangsa kita sebagai bangsa terhormat, termulia dan termaju di dunia, bahkan harus memperhatikan tentang perut rakyatnya dahulu.

Bagaimana mahu membina negara, walhal kemiskinan adalah musuh utama? Dosa kerajaan kepada rakyat itu adalah dengan tidak memberikan dan menyediakan peluang-peluang pekerjaaan. Yang hanya pemimpin-pemimpin zalim itu kira, kekayaan negara harus menjadi kekayan peribadi. Kemiskinan itu, adalah masalah paling utama perlu diselesaikan. Bukan pertelingkahan antara parti, bukan persengketaan antara mazhab, bahkan bukan pula tentang ketidakcukupan masjid dan surau2! Ah pembaca yang dimuliakan, negara kita itu, kaya bangat! Tetapi, ada yang menerima pingat darjah kebesaran negara, ada pula yang menadah tangan mengemis seringgit dua? Sungguh ngga masuk akal sekali negara ku ini.

Mengapa Islam sangat memperhatikan tentang kepentingan memberi makan? Kerana itu adalah keperluan nombor wahid. Kerana kepala bisa bengong jikalau perut mu kosong. Saya berani jamin, pembaca-pembaca sekalian ini tidak pernah mengalami kelaparan,bahkan ngga pernah menjiwai istilah kebuluran. Bahkan dalam Al-Quran itu, banyak sekali ayat-ayat yang menganjurkan memberi makan.

Cukuplah ayat Tuhan Yang Maha Mulia ini menjadi peringatan:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak Yatim, dan tidak mengajurkan memberi makan orang MISKIN" (QS 107:7).

Dan ini adalah rintihan para penghuni neraka:

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin." ( Al-Mudatsir ayat 42-44).

Masih ada esok hari untuk kita bersedekah bukan? :) Tapi di Durham ini, siapa pula muslim yang miskin?

Salam Sayang.

Tuesday, 11 August 2009

BERDU'A ITU ADALAH MENDENGAR

Menarik bila kita mengamati Metode yang digunakan para pemburu menangkap monyet di hutan Afrika. Para pemburu menggunakan cara yang amat manusiawi, dengan menggunakan Botol besar dengan leher yang sempit sebagai perangkap, umpannya berupa kacang-kacangan dan buah-buahan dengan warna dan aroma yang menarik. Umpannya diletakkan di dalam botol dengan tujuan agar monyet dapat ditangkap hidup-hidup tanpa terluka. Pagi hari botol-botol tersebut diletakkan di dalam hutan, lalu esoknya para pemburu datang untuk mengecek monyet yang tertangkap.

Para monyet yang tertarik dengan aroma dan warna umpan akan mendatangi botol perangkap, mereka lalu coba meraih kacang atau buah tersebut dengan memasukkan tangannya ke dalam botol.

Hasilnya mereka tidak bisa menarik tangannya keluar botol selama tangannya masih menggenggam kacang atau buah. Mereka juga tidak mampu untuk membawa lari botol itu karena berat.

Barangkali kita akan mentertawakan betapa tololnya monyet-monyet itu. Padahal tanpa sadar kita sering berperilaku seperti mereka, memegang erat-erat problem hidup yang kita hadapi. Ibaratnya menenteng-nenteng “botol problem” kemana-mana.

Artinya, kita membiarkan diri kita terperangkap dalam botol problem itu, mengasihani diri seolah merasa sebagai manusia yang paling menderita, paling sengsara, paling tidak beruntung, paling miskin, dan sebagainya. Ke sana kemari pasang muka memelas, meminta belas kasihan dari orang lain. Berdoa siang malam memohon pertolongan-NYA.

Padahal kita tahu dan sadar, TUHAN tidak akan memberi beban yang tidak bisa kita tanggung.

Berdu'a itu adalah mendengar dengan penuh kyusu'.

Bukan melulu berdoa meminta agar sesuatu menjadi baik, tetapi melihat sesuatu dengan sebaik-baiknya. Mengamati sesuatu dari tempat yang tinggi, agar kita mampu melihat “lebih dari sekedar yang tampak”. Dengan begitu kita akan bisa menemukan jalan keluar, tidak perlu harus terperangkap dengan tangan di dalam botol.

Dengan begitu kita akan bisa selalu bersyukur.

Dipetik dari -http://zionist-killer.blogspot.com/2009/01/praying-is-listening.html