Showing posts with label ANGRY. Show all posts
Showing posts with label ANGRY. Show all posts

Monday, 12 April 2010

DISCRETION IS ADVISED

Bismillah hir-rahman nir-Rahim,

I've written this post years ago, and I reproduce it here because it exactly mirrors what I feel right now. This post contains some unsuitable languages, therefore, reader discretion is advised. Parental guidance is a must, and *biting my finger* well, I do not think it is suitable for you guys anyway. In fact, dont read it. All damages are your own responsibility.

Must dash!
Love always.
_________________________________________________________________________

In my trying journey to finish one of the volumes of economics of migration, I feel dizzy. Here I am, unbelievably forcing my brain to meet my intellectual obligation, trying hard to not abandon my academic responsibility, then BOOM, my stomach takes over.

Ever hear about Siapa Makan Cili, Dia Terasa Pedasnya? I’m the one who have eaten the chilis. Even I know my lower tolerance of hot food, my curiosity of what is the nasi goreng cili padi UK cooked by Putri taste like triumph. I’m not like my mother, and my other best friends, who love hot food. I can’t barely eat it, I do not know why, I should be able to consume it, since Minangkabau is in my blood. And now every nerves and veins in my body is screaming for being abused.

Perhaps I’m more like a Briton then!

Some people say we can judge people by the type of food that they like- clustering people according to their preferences criteria. Food has become an industry - a rich industry indeed. Thousands papers have ever written on it, countless students study how to be great chefs, no movie film fails to include this element, many scholars attempt to learn it in different angles – be it social, economics, politic, history, crime, science and health.

But I find it amusing, almost with a cynical tragedy, that the world can truly be divided into three categories- the filthy rich and wealthy who have enormous bellies that never know the meaning of scarcity, the skinny anorexics who starving themselves – slaves to a superficial concept of beauty, and the skeletal who have no choice but to fasting, because of the extreme poverty and famine. Face this – everyday, almost 16,000 children die from hunger-related causes – one child every five seconds.

Damn the globalization that destroys people more than they can realize, damn the stupid politicians who put their bellies need above all, damn the entrepreneurs who savour the neoclassical concept of profit-maximization. Damn you, Adam Smith, and you Keynes – who had introduced the concept of greedy government interventions, and you above all Ravenstein, who proposed that emigration was absolute in need to achieve economics prosperity – which led to colonialism.

Damn the chilis who make me feel edgy tonight.

Tuesday, 10 November 2009

PENGEMIS DAN DOSA NEGARA

Salaams,

Bismillahir-Rahman nir-Rahim,

Buat kamu yang dimuliakan, moga Redha Allah swt itu menjadi milik kamu hari ini.

Ini saya copet dari Blog Liputan 6, ah, mahu menulis tajuk ini dengan baik belum mampu lagi. Topic ini sangat dekat dengan hati saya. Bahkan, melebihi dari segala-galanya.

Menurut Ketua MUI Sumenep KH Syafraji mengemis akan menjadikan diri hina dan merugikan orang lain. “Islam sudah secara tegas melarang kegiatan mengemis karena termasuk bermalas-malasan,” paparnya.

Ini fatwa yang dikeluarkan oleh negara jiran kita (malas bangat kamu ini Nur, mahu meng'google' fatwa mengemis di Malaysia?). Tapi ini bukan soalnya, yang mahu saya bicarakan ialah tentang dosa negara.

Selama kesejahteraan tak bisa diwujudkan negara, akan selalu ada pengemis. Kesejahteraan itu luas maknanya, mencakupi segala-galanya, tapi paling utama adalah keperluan jasmani. Nah, ini peranannya kerajaan yang ditubuhkan. Bukan semata-mata untuk menjadikan bangsa kita sebagai bangsa terhormat, termulia dan termaju di dunia, bahkan harus memperhatikan tentang perut rakyatnya dahulu.

Bagaimana mahu membina negara, walhal kemiskinan adalah musuh utama? Dosa kerajaan kepada rakyat itu adalah dengan tidak memberikan dan menyediakan peluang-peluang pekerjaaan. Yang hanya pemimpin-pemimpin zalim itu kira, kekayaan negara harus menjadi kekayan peribadi. Kemiskinan itu, adalah masalah paling utama perlu diselesaikan. Bukan pertelingkahan antara parti, bukan persengketaan antara mazhab, bahkan bukan pula tentang ketidakcukupan masjid dan surau2! Ah pembaca yang dimuliakan, negara kita itu, kaya bangat! Tetapi, ada yang menerima pingat darjah kebesaran negara, ada pula yang menadah tangan mengemis seringgit dua? Sungguh ngga masuk akal sekali negara ku ini.

Mengapa Islam sangat memperhatikan tentang kepentingan memberi makan? Kerana itu adalah keperluan nombor wahid. Kerana kepala bisa bengong jikalau perut mu kosong. Saya berani jamin, pembaca-pembaca sekalian ini tidak pernah mengalami kelaparan,bahkan ngga pernah menjiwai istilah kebuluran. Bahkan dalam Al-Quran itu, banyak sekali ayat-ayat yang menganjurkan memberi makan.

Cukuplah ayat Tuhan Yang Maha Mulia ini menjadi peringatan:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak Yatim, dan tidak mengajurkan memberi makan orang MISKIN" (QS 107:7).

Dan ini adalah rintihan para penghuni neraka:

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin." ( Al-Mudatsir ayat 42-44).

Masih ada esok hari untuk kita bersedekah bukan? :) Tapi di Durham ini, siapa pula muslim yang miskin?

Salam Sayang.