Showing posts with label LOVE. Show all posts
Showing posts with label LOVE. Show all posts

Thursday, 7 July 2011

FIRHOUSE


Salams,

Bismillahirahman nirrahiim,

Allahumma Solli A'la Sayyidina Muhamad, wa 'ala ali Sayyidina Muhamad.

Firhouse, Dublin arrived on "BLUE TULIP".

I like the name - Firhouse. Such a name. I wonder, a place is nothing without its own sweet history. Will a town be named after me? Not that I want to, but it makes you wonder. Like Teluk Intan is named after Mak Intan who used to come and reside here.

I wonder about many, many great things.

Like Al-Quran has many names as well. How's your relationship with Al-Quran?

Before we claim we are pious, knowledgable, good people, let's evaluate our relationship with our own Creator. I was once a very lazy lady. Nah, a very lazy human being, who will place many useless things above all in my list.

I forgot that al-Quran is the first, the foremost book that I need to finish before everything else. Alhamdulillah, I realise this before I see Him. That's why I love Brother Nouman's speeches that urge people to go back to the most basic thing in Muslim life besides solah - which is the al-Quran.

We have many hours to be spent in looking for and reading journals, watching anime, dramas and movies, gossiping and backbiting - yet we won't spend even a 5 minutes in reciting al-Quran, let alone memorizing it.

I'm truly ashamed of myself, my Lord. I beg your pardon, please forgive me, and us, and guide us to your True Path.







Monday, 22 November 2010

BEAUTIFUL HANDS

Salams,

To you, perhaps, who read it. (Though I have a doubt that you'll read it. Much doubts).

Do you know why I love doctors so much?

Because of their beautiful hands. Your beautiful hands. Because you learn, re-learn, de-learn and will learn things, the most honourable things, that will save lives.

And of course their beautiful hearts. Your beautiful heart.

Friday, 19 November 2010

DI PERUT NUN

Salams,

Can't help to repost this blog entry - awesome.





DI PERUT NUN


Pada dinding putih, ada waktu yang tergantung

berlari, tak pernah jeda walau untuk berpesan,

demi aku, manusia dalam kerugian.

Di luar, ada rintik yang menyapa gersang tanah,

aku termangu, Mikail masih di situkah?

Anugerah untukku?

atau aku mesti terus menunggu

setelah doa-doaku tercicir

tiris dari bakul ibadah yang rompong.

Entah berapa lama, kali terakhir kumembilang titis hujan

dan mengutip butir jernih, buat dihimpun menjadi sekolam wudhu.

Pun, sekolam itu, aku masih sangsi,pergikah segala dosa semusim leka

seperti daun gugur meluhurkan sunah Allah?

Seorang umat, yang bersinar dan dikenali, akukah?

Atau gelap ini abadi? Gelisah ini membawa aku ke perut Nun

Dari situ, ada rintih Yunus yang kembali,

Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau,

Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.

Gelap ini; Yunus, aku dan sesiapa, tak punya siapa kecuali Tuhan.

Balam-balam malam ini, aku sendirian

kehilangan kasih-Mu. Tuhan, di hadapan pintu-Mu

aku berdiri.


Hafez Iftiqar,

15, Kings Court, Oakleigh East, VIC, Australia.

Tuesday, 16 November 2010

I'M A MUSLIMAH AND VERY HAPPY



Bagaimana tidak bahagia, kalau dengan kemuslimahan ini kami masih tetap bisa melakukan banyak hal tanpa perlu melanggar aturanNya. Bagaimana tidak bahagia, kalau dengan kemuslimahan ini kami menjadi lebih baik dari hari ke hari dalam ketaatan karenaNya. Dan bagaimana kami tidak bahagia, karena semakin kami bangga dengan kemuslimahan ini, maka semakin Allah menyayangi kami.

Tahukah engkau apa artinya jika Allah telah sayang pada seseorang? Mari kita dengar firmanNya dalam sebuah hadits qudsi :

Berkata Abu Hurairah RA bahwasanya Nabi SAW bersabda :

Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia Ta’ala memanggil Jibril AS seraya berfirman :

"Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan maka cintailah dia.”

Beliau SAW kemudian bersabda :

Maka Jibril AS pun mencintainya. Kemudian Jibril memanggil terhadap penghuni langit : ‘Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia.’ Maka seluruh penghuni langit mencintainya. Kemudian di bumi ia diterima.

Apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia Ta’ala memanggil Jibril AS seraya berfirman :

"Sesungguhnya Aku membenci si Fulan, maka bencilah ia"

Lalu ia dibenci oleh Jibril AS. Kemudian Jibril AS memanggil penghuni langit : ‘Sesungguhnya Allah membenci Fulan, maka bencilah kamu sekalian terhadapnya.'

Kemudian Beliau SAW bersabda : Kemudian ia di bumi dibenci oleh orang-orang.

[HQ. 3.5 Ditakhrijkan oleh Al-Bukhari, Muslim] [MZ74-79]

Lalu, apa lagi yang kurang dalam hidup ini jika Allah SWT, para malaikat, penghuni langit, dan penghuni bumi sedemikian istimewa menempatkan kita? Yakinlah, kita tak kan pernah merasa sendiri meski sedang seorang diri.

Akan selalu ada kebaikan dalam kebaikan tercipta, karena memang demikianlah keberkahan hidup terengkuh. Dan pastinya berbeda sekali dengan kedudukan orang kedua dalam hadits tersebut, dimana pasti menjadi pilihan berikutnya jika tak memilih pilihan sebelumnya, yaitu menjadi seseorang yang dicintai Allah SWT.

Jika jelas demikian, lalu alasan apa yang masih membuat sebagian dari kita enggan hidup dengan kemuslimahan ini?

Apa? Jadi muslimah itu ribet?

Apakah yang kau anggap ribet itu mengenakan kain penutup kepala yang lebar hingga menjuntai ke dada? Sementara itu adalah penjagaan terbaik dari Allah yang disebut hijab. Yang maknanya lebih dari sekedar kain penutup kepala. Yang dengannya engkau tak hanya aman, namun juga mengamankan mata dari yang bukan haknya.

Apakah yang kau sebut ribet itu harus memakai pakaian panjang longgar dan tidak transparan? Sementara justru itulah letak harga diri fisikmu. Pun demikian, kau juga aman dan mengamankan syahwat para lelaki tak kuat iman. Itulah yang disebut langkah preventif dari pintu perzinahan, terlebih (na’udzubillahi min dzalik) pemerkosaan.

Kalaupun toh memang ribet, hanya seribet itu kan? Ribet yang tak'kan membuat hidupmu sengsara. Sedikit kepanasan bukan masalah besar, toh akan menjadi sangat biasa jika kau mengenakannya tiap hari.

Ah, jika kita bicara ribet, bukankah shalat lima waktu itu lebih ribet dari pada yang “sembahyang” sepekan sekali? Jangan-jangan kau mengatakan shalat lima waktu juga ribet? Ups, maaf… bukan bermaksud su’udzan, hanya selintas pikiran yang tiba-tiba muncul sebagai bahan perbandingan.

***

Apa? Jadi muslimah itu sulit?

Hei, jangan membuatku tertawa. Bukannya justru sangat simple dan sangat nyaman dengan apa yang ada. Tidak perlu punya se-tas make-up tuk memoles wajah agar tetap terlihat cantik menarik, toh wanita bukanlah benda pajangan yang harus menarik perhatian. Kita sedang tidak jualan diri kawan! Tapi kita sedang hidup dengan akal, hati, dan jasad kita sebagai manusia yang bemartabat.

Muslimah tidak perlu update fashion hanya agar tidak dibilang kampungan dan ketinggalan jaman. Karena pakaian takwa ini adalah model yang tidak pernah lekang dimakan jaman. Akan tetap seperti ini dari dulu dan sampai kapanpun. Kenapa bisa demikian? Karena acuan syarat pakaian takwa ini sudah dipatenkan langsung dari yang menciptakan jaman, yang tentu saja lebih tahu tentang perkembangan jaman. Acuan syarat yang jauh lebih valid dan sempurna, karena juga diperhatikan efek samping untuk diri sendiri maupun untuk orang di sekitar.

Jadi, apanya yang sulit? Oh, apakah tidak bersentuhannya dengan lawan jenis yang bukan mahram, meskipun hanya berjabat tangan itu yang disebut sulit? Ketahuilah, bahwa justru itulah bagian dari istimewanya muslimah. Tak disentuh selain pada yang sudah berhak. Dengan garis jelas antara haram dan halal.

Dan siapa bilang sulit? Hanya perlu sedikit bersiasat agar tetap aman dan nyaman. Misalnya engkau hanya perlu menelangkupkan kedua tangan di depan dada, sedikit tersenyum sambil berucap, “Maaf, saya sudah wudhu.” kalau ketemu lawan dan suasana yang tidak kondusif untuk menjelaskan bahwa memang selain mahram dilarang bersentuhan. Karena tidak bisa dipungkiri masih banyak yang “belum bisa menerima” bahkan ada yang belum mengerti tentang hukum yang satu ini, dimana pernah dikisahkan bahwa Nabi SAW lebih memilih ditusuk dengan besi panas dari pada menyentuh wanita yang bukan mahram.

Dan ini sedang tidak berbohong, karena kalimat bentuk lampaunya tidak menjelaskan kapan waktu wudhunya, “sudah wudhu” bisa berdurasi sejam yang lalu, sehari yang lalu, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, atau kalau perlu setahun yang lalu. Jadi, kalau masih juga bilang sulit, itu tandanya sih kurang kreatif saja kali ya?

***

Apa? Jadi muslimah itu kudu pinter ngaji? Banyak tahu tentang hukum agama? Tidak boleh tertawa cekakan? Tidak boleh teriak-teriak? Tidak boleh jutek? Tidak boleh bla, bla, bla…

Ayolah kawan, jangan lagi cari alasan, karena semakin banyak alasan semakin menunjukkan kualitas diri, pun semakin menunjukkan kesalahan. Semuanya ada awal mulanya, semua ada proses dan alurnya. Engkau hanya perlu satu kata kunci sukses menjadi muslimah, yaitu taat. Bahasa Al-Qur’an-nya sih sami’na wa atha’na. Karena demikianlah sikap dan sifat para sahabat/sahabiyah dahulu ketika menerima ketentuan syari’at dari untaian tutur sang Nabi SAW.

Taatlah niscaya akan bahagia. Bukan bahagia yang semu, bukan bahagia yang dibayangi kekhawatiran takut kehilangan kebahagiaan itu sendiri. Tapi ini bahagia yang menghujam ke dasar kalbu. Bahagia yang membahagiakan. Karena hanya ada kata sabar dan syukur di dalamnya, yang bermula dari rasa yang sama; percaya akan kebaikan-kebaikan di setiap takdirNya. Tak ada umpatan, keluhan, apalagi penyesalan tentang kehidupan.

Jadi jika demikian tentang kebahagian itu, maka kamilah yang paling lantang berkata, “I’m muslimah and very happy.”

***

RF_Hayuh… Tunjukkan kemuslimahanmu…

Tetap survive untuk rentang waktu yang pajang dan melelahkan, dalam batasan usia kita. Karena memang, ya, kita sedang menapaki jalan terjal dan berliku, penuh onak duri.

Kiriman: "rifatul farida"

Thursday, 11 November 2010

YANG WAJAHNYA SELALU KU INGAT


Yang wajah-wajahnya selalu kuingat. Yang tiap wajah punya ruang di dalam hatiku. Yang masing-masing wajah punya cerita bersamaku. Setiap wajah selalu punya sesuatu untuk dibagi bersamaku. Yang tiap wajah selalu kurindu. Merekalah yang kurindu.


Yang smsnya selalu kutunggu. Yang smsnya selalu mebuatku tersenyum. Yang isi smsnya terkdang membuatku tertawa hingga terjengkang. Yang smsnya selalu membuatku semakin merindukan mereka. Merekalah yang kurindu.


Yang suaranya selalu bergema di telingaku. Yang tiap kali bicara denganku selalu meneduhkan hatiku yang bagai riam. Mereka itu yang kurindu.

Yang ketiadannya membuatku sepi, sepi yang mengiris hingga ke ulu hati. Yang rasa sepinya selalu membuatku menangis di tiap kali sujud. Yang dalam tiap kali tangis, nama merekalah yang terucap dan doa kupanjatkan. Mereka semua yang kurindu.


Yang tiap kebaikannya selalu kukenang. Yang tiap amarahnya selalu menyadarkan. Yang doa mereka selalu mengiringku berjalan. Yang selalu ada maaf setiap kali aku salah. Mereka adalah orang-orang yang kurindu.


Yang selalu temaniku di tiap langkahku di jalan-jalan yang asing. Yang selalu meramaikan hidupku yang terkadang sendiri. Yang selalu bercerita tentang cinta. Yang selalu membuatku bahagia. Mereka itu yang kurindu.


Yang selalu ada di hati dan takkan pernah mati. Yang tiap kejadian bersama mereka akan selalu abadi. Yang tak pernah benci walau sudah kusakiti. Yang siap setiap saat tiap kali kumencari. Yang mengajariku tentang cinta yang hakiki. Mereka semua sangat kurindu.


Yang mendukungku tiap kali aku mulai lompatan besar. Yang menyokongku dengan doa, cinta dan kasih sayang. Yang menggandengku di masa-masa gelap, dan melepasku kala aku siap. Yang menangkapku tiap kali aku jatuh. Yang mengobatiku tiap kali aku sakit. Yang memelukku tiap kali aku menangis. Sungguh, mereka semua yang kurindu.


Yang menertawaiku tiap kali aku melakukan hal-hal bodoh. Yang bercanda bersamaku. Yang merasakan apa yang kurasa. Yang ikut menangis bila aku menangis, yang ikut bahagia tiap kali aku menang. Yang menjadi tempatku mengadu tiap kali aku kalah. Yang dengan seluruh tenaga akan mendorongku untuk kembali berjuang. Mereka-mereka itulah yang kurindu.


Yang seiring sejalan bersamaku. Yang setia menemaniku mengarungi hidup. Yang menegurku tiap aku silap. Yang banyak mengajariku hal-hal yang berguna. Yang selalu menegarkanku. Yang selalu menjagaku dari segala yang mungkin menyakitiku. Yang selalu melindungiku selama aku tumbuh. Yang membuatkanku benteng penuh cinta agar kudapat tumbuh dan hidup dengan nyaman dan aman. Mereka-merekalah yang kurindu.


Yang akan kuberikan terbaik dari yang kumiliki. Yang akan selalu kubagi apa yang kupunya. Yang seluruh cinta dan rasa sayangku kuberi untuk mereka. Yang ingin kulindungi dan selalu kujaga. Yang ingin selalu kubuat bahagia, tersenyum dan tertawa. Yang ingin selalu kuiringi. Yang akan kuhibur tiap takut mencekam. Aku merindukan mereka.



-Oleh : Meikha Azzani-

Monday, 4 October 2010

Takahashi, 5 Menit Menuju ke Surga


dakwatuna.com – Kuringgu… kuringgu …. kuringgu!!! (kring …kring …kring..). Suara telepon rumah Muhammad berbunyi nyaring.

Muhammad: Mosi mosi? (Hallo?)

Takahashi: Mosi mosi, Muhammad san imasuka ? (Apakah ada Muhammad?)

Muhammad: Haik, watashi ha Muhammad des. (Iya saya).

Takahashi: Watashi ha isuramu kyo wo benkyou sitai desuga, osiete moraemasenka? (Saya ingin belajar agama Islam, dapatkah Anda mengajarkan kepada saya?)

Muhammad: Hai, mochiron. (ya, sudah tentu.)

Percakapan pendek ini kemudian berlanjut menjadi pertemuan rutin yang dijadwalkan oleh dua manusia ini untuk belajar dan mengajar agama Islam.

Setelah beberapa bulan bersyahadat, Takahashi kian akrab dengan keluarga Muhammad. Dia mulai menghindari makanan haram menurut hukum Islam.

Memilih dengan hati-hati dan baik, mana yang boleh di makan dan mana yang tidak boleh dimakan merupakan kelebihannya. Terkadang tidak sedikit, keluarga Muhammad pun mendapatkan informasi makanan-makanan yang halal dan haram dari Takahashi.

Pizza wo tabenaide kudasai. cheese ni ra-do wo mazeterukara.. (Jangan makan pizza walau pun itu adalah cheese, karena di dalamnya ada lard, lemak babi)”, nasihatnya di suatu hari. Takahashi mengetahui informasi semacam ini karena memang kebiasaan tidak membeli pizza, atau makanan produk warung di Jepang memang sudah terpelihara sebelumnya di keluarga Muhammad.

Toko kecil makanan halal milik keluarga Muhammad, menjadi tumpuan Takahashi dalam mendapatkan daging halal. Suatu ketika Takahashi ingin makan daging ayam kesukaannya, tapi dia ngeri kalau melihat daging ayam bulat (whole) mentah yang ada di plastik, dan tidak berani untuk memotongnya. Dengan senang hati, Muhammad memotong ayam itu untuk Takahashi. Dia potong bagian pahanya, sayapnya, dan badannya menjadi beberapa bagian.

Setiap pekan, Takahashi terkadang memesan sosis halal untuk lauk, bekal makan siang di kantor. Setiap pagi ibunya selalu menyediakan menu khusus (baca: halal) untuk pergi ke kantor tempat dia bekerja. Sebagai ukuran muallaf Jepang yang dibesarkan di negeri Sakura, luar biasa kehati-hatian Takahashi dalam memilih makanan yang halal dan baik. Terkadang Muhammad harus belajar dari Takahashi tentang keimanan yang dia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Pernah dalam suatu percakapan tentang suasana kerja, Takahashi menggambarkan bagaimana terkadang sulitnya menjauhi budaya minuman sake di lingkungan tempat kerjanya. Di Jepang, suasana keakraban hubungan antara atasan dan bawahan atau teman bekerja memang ditunjukkan dengan saling memberikan minuman sake ke gelas masing-masing.

Dalam kondisi hidup ber-Islam yang sulit, Takahashi ternyata terus melakukan dakwah kepada ibunya. Beberapa bulan kemudian akhirnya ibunya pun menjadi muallaf dengan nama Qonita, nama pilihan Takahashi sendiri buat ibu yang dia cintainya. Sampai saat ini, bagaimana dia mendapatkan nama itu, tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali Takahashi.

Beberapa bulan berlalu, pertemuan kecil-kecilan berlangsung …terlontar dari mulutnya suatu kalimat.

Watashi ha kekkon simasu (Saya mau menikah)….”, ujarnya.

Dengan proses yang panjang, akhirnya dia mendapatkan jodohnya, wanita Jepang yang cantik, yang dia Islamkan sebelumnya. Setahun kemudian, suatu hari Takahashi datang ke rumah Muhammad dengan istrinya yang berkerudung, ikut serta juga buah hati mereka yang telah hadir di dunia ini.

Pada suatu hari, iseng-iseng Muhammad bertanya kepada Takahashi, “Apa yang menyebabkan Takahashi lebih tertarik dengan Islam?”

“Sebenarnya saya belajar juga Kristen, Budha dan Todoku (Agama moral) selain Islam,” Takahashi menjelaskan.

“Masih ingat dengan telepon kita dulu? Waktu pertama kali aku telepon ke Muhammad beberapa bulan dulu”, sambungnya.

“Iya ingat sekali”, jawab Muhammad.

“Kita waktu itu membuat perjanjian untuk bertemu di suatu tempat bukan?”, tanya Takahashi.

“Iya benar sekali”, sambung Muhammad lagi sambil mengingat-ingat kejadian saat itu.

“Saya sungguh ingin mantap dengan Islam, karena Muhammad datang 5 menit lebih dulu dari pada waktu yang kita janjikan, dan Muhammad datang terlebih dahulu dari pada aku. Muhammad pun menungguku waktu itu”, jawab Takahashi beruntun.

“Karena itu aku yakin, aku akan bersama dengan orang-orang yang akan memberikan kebaikan”, sambungnya lagi.

Jawaban Takahashi membuat Muhammad tertegun, Astaghfirullah sudah berapa kali menit-menitku terbuang percuma, gumam Muhammad.

Begitu besar makna waktu 5 menit saat itu untuk sebuah hidayah dari Allah SWT. Subhanallah, 5 menit selalu kita lalui dengan hal yang sama, akan tetapi 5 menit waktu itu sungguh sangat berharga sekali bagi Takahashi.

Bagaimana dengan 5 menit yang terlewat barusan, milik Anda?

Sunday, 26 September 2010

FUNNY

Salams,

Kullum am wa antum bikhair.

For the past few days, or maybe few weeks, my posts are completely the copy-paste sort of things. Things that are dearer to me, and I have the highest hopes it will be yours too. I confess, I have no ideas what to write, when to write, and how to write. It seems to me that the ideas have eluded me, and being a passive person, I have no heart to chase it; be it the most important ideas or otherwise.

Please bear with me.

A friend has told me, I have an the influential writing, in which it can affect or wreck hearts. It is the highest honour, coming from an honourable lady. But I beg to differ, I do not think my writing is really inspiring. I write craps most of the times, and idocy for the rest. Sometimes I really hate myself after I post the entry, it shows how worthless I feel to that extend. I dream to be a good blogger, writing experiences that can bring audiences closer to The Exalted, Allah swt. But if I dont really have a good relationship with Him, how could I, the most sinful slave, write things that I do not really do? Owh Allah, I strive hard to be closed to you, please accept my humbling prayers. Please.

I couldnt write. Doesnt matter how worried I am, I still couldnt write. Some concepts are difficult to tie it with the empirical results, it's the analysis that show how far you go in this area. This academic writing really drives me crazy. I know now, I must have a complete silence to do the analysis. Not even a slightest distraction. I wonder, how do Sir Leicester, Lady Durham, and Lady Essex write their papers? They have a far greater preoccupation, yet they are more than able to produce a greter paper. Lazy lady, I am, yes, I admit it. I will be more than understanding once I am in my supervisor's shoe, insyaAllah.

A friend asks me what I am doing for life. Being so elusive, I am reluctant to reveal to him who I am, as in this capitalist world, it is a job that defines who you are, such a beastly concept. And I have received the most shocking reply ever - I hope what you do to bring home the bacon is halal. I nearly die with laughing so hard, literaly I roll on floor laughing my ass off. Astagfirullah, yes, I will try my very best to bring home the halal bacon, so to speak. I retold this funny story to my other friend, she is also laughing her pant off. Goodness me, she replies, you have the most innocent face ever, how could he presume you to be like that? I shrug my shoulders, well, some people. By the way, I do not have the innocent face, ask my other friends.

Do we judge people by his/her physical appearance? Or her/his aura? Or her/his manerism? Or his/her wealth? Talking about love, a friend told me the meaning of love written in the SOLUSI magazine (if I'm not mistaken), it is the reflection of ourselves we find in them. Without being cliche, love is an overused concept, yet we never grow tire of talking about it. Yes, if I love a man, it must be that I love his quality that equal to mine, or the quality that I seek and hope to be mine.

My friend writes: menurut Imam Ghazali, cinta itu ialah kecenderungan jiwa yang amat kuat dalam diri seseorang kepada sesuatu atau seseorang lain yang memberi kelazatan, manfaat dan sangat serasi dengan fitrahnya. Rasanya kita akan menyintai seseorang/sesuatu jika ia refleks kepada fitrah diri. In a sense, kita sebenarnya menyintai diri sendiri. We can love somebody, because that somebody has the quality that reflects you, eventhough you don't have that quality yet.

And she knows why I loved him: because he remains faithful to Allah, even when the entire world is against him. And I really know why she loves him: because he is a fighter, even when he is alone in his war, in his jihad, even when the entire world is against him, he still stands tall, never weavers in his jihad. I know sister, I know it.





Wednesday, 1 September 2010

10 Bersaudara Hafal Al-Qur’an

Salams,

Saya busy bangat, ngga mampu menulis secara konsisten. Disini saya copy paste kan sahaja coretan-coretan yang memungkinkan membakar semangat anda untuk menjadi lebih baik dari semalam. Yakinlah, segala-galanya ini adalah rencana Allah swt. Kita ini faqer, ngga punya apa-apa. Moga sahaja amal ini diterima Allah swt dan dikurniakan-Nya dengan kurnian yang ajaib-ajaib.

10 Bersaudara Hafal Al-Qur’an

31/8/2010 | 22 Ramadhan 1431 H | Hits: 3.096

Kirim Print

10 bersaudara hafal Al-Qur'an (inet)

dakwatuna.com – Telanaipura. Siapa yang menyangka bila 10 putra pasangan H Mutammimul Ula (Ustadz Tammim) dan Wirianingsih (Ibu Wiwi), ternyata bisa menjadi penghapal Alquran alias Hafizh. Pada Sabtu (28/8) lalu, keluarga ini mengikuti undangan DPD PKS Jambi.

Kedua pasangan suami istri tersebut mendidik dan membina kepribadian putra-putrinya dengan kebaikan akhlak, perilaku Qurani, anggota keluarga tidak pernah lepas untuk menghapal ayat suci Alquran yang menjadi pegangan hidup bagi seluruh umat muslim.

Keluarga tersebut juga menjadi inspirasi bagi keluarga muslim lainnya untuk dapat meneladani keistimewaannya. Kesepuluh putra mereka, selain berhasil di bidang keagamaan, juga berhasil di bidang akademik dan kemasyarakatan.

Misalnya, putra pertama H Mutamimul ‘Ula, Afzalurahman Assalam. Kini dia semester akhir Teknik Geofisika ITB, hafal Alquran sejak usia 13 tahun, dan Juara I MTQ putra pelajar SMU se-Solo. Selain itu, dia juga menjabat sebagai Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programme 2007.

Hal itu membuktikan bahwa prestasi di bidang menghapal Alquran tidak menyurutkan prestasi lainnya di bidang keduniawiaan, terutama dalam bidang pendidikannya yang terus menanjak.

Selain dari seorang putranya itu, sembilan saudara lainnya juga memiliki prestasi gemilang, dari prestasi akademik, jabatan di keorganisasian, juara MTQ, dan selalu mendapatkan amanah yang baik di dalam lingkungan. Dari kesepuluh putranya, empat putranya hapal 30 juz, ada yang hapal 29 juz, 15 juz, 13 juz, sembilan juz, dan dua juz bagi dua putranya yang masih duduk di bangku SDIT Mampang Jakarta Selatan.

Dalam kesempatan menyambut momen Nuzul Quran (turunnya Alquran), DPD PKS Kota Jambi menghadirkan langsung H Mutamimul ‘Ula dan seorang putranya yang kedelapan yaitu Muhammad Syaihul Basyir atau akrab disapa Basyir, Sabtu (28/8) lalu di Aula Museum Negeri Jambi Telanaipura.

Keluarga Mutamimul pun membagikan tip dan menjadi motivator bagi keluarga muslim di Kota Jambi. Antusiasme peserta yang hadir dalam kegiatan cukup tinggi. Itu terlihat dari jumlah kursi yang disediakan seluruhnya terisi, bahkan ada peserta yang rela untuk berdiri demi mendengarkan motivasi dari H Mutamimul ‘Ula tersebut.

Bagaimana kunci kesuksesannya? Meski keduanya sibuk atas pekerjaan yang sebelumnya merupakan politikus dari PKS serta sibuk dalam dunia dakwah (menyebarkan syiar Islam di tengah masyarakat), namun, pasangan suami-istri ini memiliki komitmen terhadap pendidikan anak. Terutama pendidikan agama, akhlak dan kepribadian anak.

Keluarga ini sebagaimana keluarga lainnya yang hidup di tengah arus globalisasi, putra mereka tetap diberi kebebasan menikmati berbagai fasilitas teknologi. “Namun, yang terpenting adanya imun (kekebalan) di dalam diri anak. Sehingga anak dapat tetap terjaga,” ujar Ustad Tamim saat menyampaikan urainnya di hadapan peserta.

Tamim menekankan, banyak beramal ibadah, berdoa, merupakan kunci keberhasilan untuk kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Kedua pasangan ini sangat memperhatikan pentingnya manajemen waktu, konsisten (istiqamah), dan terus mengontrol perkembangan putra mereka dalam keluarga yang terus membina hubungan baik.

Bahkan, mengenai pengecekan hasil belajar putra mereka, kedua pasangan ini lebih mengutamakan untuk mengecek hapalan Alquran putra mereka, dan selanjutnya barulah menanyakan mengenai tugas sekolah atau kuliah. “Karena bila hapalan telah baik. Maka, yang lainnya akan ikut sendiri,” ujar Ustad Tamim yang sangat rendah hati dan tak pernah ingin berbangga diri itu.

Putra kedelapan Ustad Tamim yang baru kelas III SMP, Basyir mengutarakan, dia tidak begitu tertarik dengan permainan yang membuatnya lalai. Alquran aktivitas kebaikan lainnya, lebih menarik hatinya ketimbang harus menghabiskan waktu dengan permainan anak-anak yang marak akhir-akhir ini.

Saat dikonfirmasi kepada ketua pelaksana yang juga Ketua DPD PKS Kota Jambi Syafruddin Dwi Aprianto, dihadirkannya seorang inspirator generasi Qurani itu, bertepatan dengan momen Nuzul Quran pada Ramadan kali ini. “Selain itu, untuk memotivasi keluarga muslim agar dapat meneladani Ustad Tamim dan istri yang dapat mendidik 10 putranya menjadi bintang Alquran,” katanya.(dwy/ji)

Monday, 16 August 2010

ONE OF THE COUNTLESS BEAUTIFUL STORIES

In the name of God, the Most Merciful, the Most Compassionate
All praise and thanks be to God, and may peace and blessings be upon the most noble of Prophets and Messengers.


Whenever I feel discouraging, helpless, hopeless, dismal and bleak, I always read the below post written by Jinan Bastaki. I love the poem especially. For you out there - do not ever lose hope in the mercy of Allah.

_____________________________________________________________

Abu Nuwas was a person who loved to drink and say obscene things, such that he would even make up verses of poetry and sing about inappropriate things. However, he underwent a change and repented to God. People were surprised—Abu Nuwas, who was a known drunkard? Abu Nuwas the lewd man? In a sense, it was almost as though they believed Allah would not forgive him and that Allah would not have mercy on him. So he wrote verses of poetry, and they found these verses under the bed that he died upon. The lines in the poem said:


O my Lord, if the greatness of my sins increase, then I know that Your forgiveness is greater


If only the righteous called on You, then who would the criminal go to?


I call on You my Lord, as you commanded, with reverence


And if You turn my hands away, then who else will have mercy?


Friends, to deeply believe, without an ounce of doubt, that Allah The Most Merciful, The Most Loving, The Oft-Forgiving - that's the real imaan.


39:53
“Say: “O my Servants who have transgressed against their souls! Despair not of the Mercy of Allah. For Allah forgives all sins: for He is Oft-Forgiving, Most Merciful” (Qur’an, 39:53).



Thursday, 12 August 2010

BILAL BIN RABAH- MUADDZIN RASULULLAH, LAMBANG PERSAMAAN DERAJAT MANUSIA

Salams Ramadhan Kareem,

Pertamanya, saya mohon sejuta kemaafan diatas segala kekhilafan, mungkin banyak entri saya yang menusuk jiwa hingga tercalar dan menggores hati para pembaca. Sejujurnya, mungkin jua entri saya ditulis dengan sinikal sekali, dengan harapan ada yang berubah, tetapinya, mungkin cara nya itu tidak berhikmah sekali. Dan disini, saya dengan rendah hati sekali lagi memohon maaf, dan semoga Ramadhan ini, adalah Ramadhan yang terbaik sekali buat kita. Syukurlah, kita diberi kesempatan yang sangat mahal menghirup udara Ramadhan.

Kadang-kadang, entri saya enteng-enteng sekali, ngga punya pengajaran buat para pembaca, kadang-kadang ditulis semasa keadaan sangat jemu dan akhirnya penghasilan tulisan yang bukan ditulis kerana-Nya. Sedangkan semua perbuatan kita hendaklah kerana-Nya, hanya kerana-Nya. Nah, sempena Ramadhan al-Mubarak ini, saya ingin persembahkan kisah-kisah sahabat-sahabat Rasulullah saw yang mulia itu, kerana kini saya berjaya menemui buku yang sangat saya cintai ini. Saya membesar dengannya, 'dicuri' dari ayahanda, dan ingin benar sekali saya berkongsi dengan anda. Entri berkenaan dengan Mush'ab bin Umair, Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghifari sudah saya persembahkan (click sahaja pada nama mereka), tetapi kali ini, entrinya akan pendek-pendek, saya persembahkan perenggan yang terbaik hasil karya Khalid Muhammad Khalid ini - Rijal Haolar Rasul. Segala kehebatan dan kedahsyatan peribadi mereka, adalah ditempa lansung dari Mahaguru Teragung - Nabi Muhamad saw, saya ngga bisa berbicara mengenai baginda, kerana ada blog yang lebih mulia dalam merakamkan segala-galanya mengenai baginda. Ya Rasulullah, aku sangat merinduimu.

Dan sayugia diingatkan, mereka ini mewakili ribuan sahabat-sahabat Baginda saw, yang beriman kepadanya, dan tampil sebagai pembelanya. Dalam kisah ini, akan dapat kita nikmati keimanan mereka, keteguhan hati, kepahlawanan dan kecintaan mereka kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Kita lihat derma yang telah mereka baktikan, penderitaan yang mereka tanggungkan dan akhirnya kemenangan yang mereka peroleh. Kita lihat tahap perjuangan yang menarik, di saat mereka bangkit membebaskan seluruh kemanusiaan dari keberhalaan jiwa dan tujuan hidup yang sia-sia.

Semoga hasil perkongsian saya membuahkan pahala yang tidak terkira, menjadi saksi di masa pertimbangan kelak, dan saya harap benar, anda menyebarkannya dengan seluas-luasnya, tanpa di creditkan kepada saya. Makanya, terimalah kisah ke-empat - Bilal bin Rabah - Muaddzin Rasulullah...Lambang Persamaan Derajat Manusia.



1
Bila disebut nama Abu Bakar, maka Umar akan berkata: "Abu BAkar adalah pemimpin kita, yang telah memerdekakan pemimpin kita." Maksudnya ialah Bilal...

Seorang yang diberi gelar oleh Umar "pemimpin kita", tentulah suatu peribadi besar yang layak beroleh kehormatan seperti itu! Tetapi setiap menerima pujian yang ditujukan kepada dirinya, maka laki-laki yang berkulit hitam, kurus kerempeng, tinggi jangkung, berambut lebat dan bercambang tipis - sebagai dilukiskan oleh ahli-ahli riwayat - akan menundukkan kepala dan memejamkan mata, serta denga air mata mengalir membasahi pipinya, akan berkata: "saya hanyalah seorang Habsyi...dan kelmarin saya adalah budak belian!".

Nah, siapakah kiranya orang Habsyi yang kemarin masih jadi budak belian ini....? Itulah dia Bilal b. Rabah, muaddzin Islam dan penggoncang berhala yang dipuja Quraisy sebagai tuhan! Ia merupakan salah satu keajaiban iman dan kebenaran! Salah satu mu'jizat Alam yang maha besar!

Dari tiap sepuluh orang, semenjak munculnya Agama itu sampai sekarang, bahkan sampai kapan saja dikehendaki Allah swt, kita akan menemukan sedikitnya tujuh orang yang kenal terhadap Bilal. Artinya dalam lintasan kurun dan generasi, terdapat jutaan manusia yang mengenal Bilal, hafal akan namanya dan tahu riwayatya secara lengkap, sebagaimana mereka kenal akan dua Khalifah terbesar dalam Islam (Abu Bakar dan Umar).

Anda akan dapat menanyakan kepada setiap anak yang masih merangkak pada tahun-tahun pelajaran dasarnya; baik di Mesir, Pakistan, Indonesia atau China...di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa dan Asia...di Iraq, Syiria, Turki, Iran dan Sudan...pendeknya di seluruh permukaan bumi yang didiami oleh Kaum Muslimin...anda akan dapat menanyakan kepada setiap remaja Islam: "Siapakan Bilal itu, wahai buyung?". Tentulah akan keluar jawapnya yang lancar: "Ia adalah muazin Rasul. Asalnya budak, yang disiksa oleh tuannya dengan batu panas, agar dia meninggalkkan Islam, tetapi jawapnya...Ahad...Ahad...Ahad....Allah Maha Tunggal...Allah Maha Tunggal!"

( Nota editor: Dan saya ngga bisa menghuraikan siksa yang dikenakan oleh majikannya yang terkutuk itu, Umayah b. Khalaf, kerana setiap saat sebelum terbebasnya Bilal, adalah dipenuhi dengan siksaan yang sangat kejam, yang anda sendiri ngga bisa membacanya).



2
Waktu pagi hampir berlalu, waktu dhuhur dekat menjelang, dan Bilal pun dibawa orang ke padang pasir, tetapi tetap shabar dan tabah, tenang tidak tergoyah. Sementara mereka menyiksanya, tiba-tiba datanglah Abu Bakar Shiddiq, serunya: "Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki kerena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah?!" Kemudian katanya kepada Umayah bin Khlaf: "Terimalah ini untuk tebusannya, lebih tinggi dari harganya, dan bebaskanlah ia...!"

Bagai orang yang hampir tenggelam, tiba-tiba diselamatkan oleh sampan penolong, demikianlah halnya Umayah saat itu, hatinya lega dan merasa amat beruntung demi didengarnya Abu Bakar hendak menebus budaknya. Ia telah berputus asa akan dapat menundukkan Bilal. Apalagi mereka adalah orang-orang saudagar, dengan dijualnya Bilal mereka akan melihat keuntungan yang tidak akan diperoleh dengan jalan membunuhnya.

Dijualnya Bilal kepada Abu Bakar yang segera membebaskannya, dan dengan demikian Bilal pun tampillah mengambil tempatnya dalam lingkungan orang-orang merdeka....dan ketika As-Siddiq mengepit Bilal membawanya ke alam bebas, berkatalah Umayah: "Bawalah ia! Demi Lata dan 'Uzza, seandainya harga tebusannya tak lebih dari satu ugia, pastilah ia akan ku lepaskan jua!"

Abu Bakar arif akan keputusannya dan pahitnya kegagalan yang tersirat didalam ucapan itu, hingga lebih baik tidak dilayaninya.

Tetapi kerena ini menyangkut kehormatan seorang laki-laki yang sekarang sudah menjadi saudara yang tak berbeda dengan dirinya, maka jawapnya kepada Umayah: "Demi Allah, seandainya kalian tak hendak menjualnya kecuali seratus ugia, pastilah ku bayar jua!"

Kemudian pergilah Abu Bakar dan shahabatnya itu kepada Rasulullah saw dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasannya, maka saat itu pun tak ubah bagai hari raya besar jua...!



3
Rasulullah saw pergi meninggalkan alam fana dan naik ke rafiqul a'la dengan keadaan redha dan diredhai, dan penanggungjawap Kaum Muslimin sepeninggalan beliau dibebankan di atas pundak khalifahnya Abu Bakar as-Siddiq.

Bilal pergi mendapatkan khalifah Rasulullah, menyampaikan isi hatinya. "Wahai Khalifah Rasulullah, saya mendengar Rasulullah bersabda:

Amal orang Mu'min yang utama adalah jihad fi sabilillah.

"Jadi, apa maksudmu, wahai Bilal?", tanya Abu Bakar.

"Saya ingin berjuang di jalan Allah sampai saya meninggal dunia," ujar Bilal.

"Siapa lagi yang akan menjadi muaddzin bagi kami?", tanya Abu Bakar pula.

Dengan air mata berlinang, Bilal menjawap, "Saya takkan menjadi muadzzin lagi bagi orang lainsetelah Rasulullah."

"Tidak," kata Abu Bakar, "tetaplah tinggal disini hai Bilal, dan menjadi muaddzin kami!"

"Seandainya anda memerdekakan saya dulu adalah untuk kepentingan anda, baiklah saya terima permintaan anda itu. Tetapi bila anda memerdekakan saya kerna Allah, biarlah diri saya untuk Allah sesuai dengan maksud baik anda itu!"

"Tak lain saya memerdekakanmu itu, hai Bilal, semata-mata kerana Allah!"

Kemudian mengenai kelanjutannya terjadi perbedaan pendapat di antara para ahli riwayat. Sebahagian meriwayatkan bahwa ia pergi ke Syria dan menetap di sana sebagai pejuang dan mujahid. Sementara menurut yang lainnya, ia menerima permintaan Abu Bakar untuk tinggal bersamanya di Madinah. Kemudian setelah Abu Bakar wafat dan Umar diangkat sebagai khalifah, barulah Bilal minta idzin dan mohon diri kepadanya, lalu berangkat ke Syria.

Bagaimanapun juga, Bilal telah menadzarkan sisa hidup dan usiannya untuk berjuang menjaga benteng-benteng Islam di perbatasan, dan membulatkan tekadnya untuk dapat menjumpai Allah dan Rsul-Nya, sewaktu ia sedang melakukan amal yang paling disukai oleh keduanya...dan suaranya yang syahdu, dalam dan penuh wibawa itu, tidak lagi mengumandangkan adzan seperti biasa. Sebabnya ialah kerena demi ia membaca " Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah", maka kenangan lamanya bangkit kembali, dan suaranya tertelan oleh kesedihan, digantikan oleh cucuran tangis dan air mata...

Adzannya yang terakhir ialah ketika Umar sebagai Amirul Mu'minin datang ke Syria. Orang-orang menggunakan kesempatan tersebut dengan memohon kepada khalifah untuk meminta Bilal menjadi muaddzin bagi satu sholat sahaja. Amirul Mukminin memanggil Bilal; ketika waktu sholat telah tiba maka dimintanya ia menjadi muaddzin.

Bilal pun naik ke menara dan adzanlah....Shahabat-shahabat yang pernah mendapati Rasulullah di waktu Bilal menjadi muaddzinnya sama-sama menangis mencucurkan air mata, yang tak pernah mereka lakukkan selama ini....sedang yang paling keras tangisnya di antara mereka ialah Umar....!


(Nota editor: nah, ini sebahagin kecil dari kisah indah hidup Bilal, dialu-alukan pada sesiapa yang sudi menokok-nambah cerita-cerita sahabat Nabi ini. Salam Ramadhan.)

Saturday, 24 July 2010

MARHABAN

Salams,

Marhaban ya Ramadhan.

It has been a year. And what a year it has been. Hope the years coming will be a witness to the transformations worthy of the praises from the Above.

Marhaban ya Ramadhan.

Tuesday, 20 July 2010

SANTAI: LAWAK WORLD CUP








Salams,

What's life without challenges? And what's life without unhappiness and sadness? But what a life if without His Rahmah and His Grace.

Here are the pictures that have made my days, my word, Germany is the most efficient team. The comment from a fan during the Germany vs. Australia match -From Lee, Sheffield: "Germans making it look so, so easy. Why couldn't England do this? They'll murder us in the second round."

And the BBC pundits' commentary for the match between Germany and Argentina:

76 mins Commentary -
I spent half of yesterday reeling. I need to find a new word for this sensation, because it's happening too often at the moment. This
World Cup. This South African World Cup. What are you doing to us? (My comment - He was devastated because Holland won over Brazil yesterday)

83 mins
Commentary -
This isn't just a beating, it's a destruction - and the destroyer-in-chief is Bastian Schweinsteiger. On this performance, you'd be hard pressed to find a more influential footballer in the world, he's been absolutely magnificent.

90 mins
INJURY TIME-
We'll have one minute of added time. The officials clearly do not want to prolong Argentina's misery.

16:48 FULL-TIME Argentina 0-4 Germany
That is one of the most stunningly one-sided World Cup quarter-finals you could ever imagine seeing.

16:51 Commentary -
Don't cry for me, Argentina. Maxi Rodriguez and some of his team-mates are in tears and as always, it's hard to watch. But Germany - where have you come from? This team, it's just outrageous.


:) I know, my analysis may rest in peace.






Saturday, 10 July 2010

Salams,

Saya suka hadis-hadis yang membicara kan kelebihan-kelebihan, ganjaran-ganjaran yang Allah swt janjikan kepada mereka-mereka yang membuat amal ibadat yang ikhlas. Dan di dalam al-Quran sudah terlalu banyak ayat-ayat yang menyatakan janji Allah swt kepada mereka yang beriman dan beramal soleh.

Tetapi kebelakangan ini, saya sudah mulai dengar bahawa hadis-hadis ini palsu, dan kita seharusnya beramal kerana Allah swt, bukan kerana ganjarannya. Ya, saya ini naif, maafkan saya sekiranya tulisan ini akan memberikan provokasi dalam diri anda.

Yang saya tahu, Allah swt itu Maha Baik, ganjarannya, masyaAllah, tidak terhitung. Apa salahnya saya percaya sekiranya kalau saya solat terawikh misalannya, di malam pertama Ramadhan yang mulia, keluar dosa-dosa orang mukmin pada malam pertama sepertimana ia baru dilahirkan, mendapat keampunan dari Allah? Apa salah nya saya membuat amalan kerana mahu ganjarannya? Ganjarannya itu, saya sangat percaya, bukan setakat mendapat keampunan misalannya, bahkan perlindungan-Nya, rahmah-Nya, kasih-sayang-Nya, cinta-Nya, bantuan-Nya, redha-Nya. Apa anda ngga mahu semua ini? Mustahil.

Saya mahukan perlindungan Dia, dari segala yang saya takuti, dari fitnah jin dan manusia, dari serangan binatang buas dan binatang melata, dari fitnah Dajjal, siksa kubur dan neraka. Saya mahu bantuan-Nya dalam membuat analysis saya, dalam menulis thesis saya, dalam memahami segala theories berat, dalam segala perbuatan saya. Saya mahu redha-Nya dalam apa jua saya lakukan, misalannya turun ke London kerana silaturrahim. Saya mahu ampunan-Nya, kerana saya ini punya dosa setinggi langit, ya, terlebih-lebih lagi dosa dari anda.

Dan kalau ganjarannya di ampuni dosa kita misalannya, wah, ini tawaran lumayan bukan? Sedangkan SUKUK saham yang dikatakan menurut landasan syariah (shari'a compliance) itu sudah berjuta-juta ramainya memburu kerana ganjaran menarik menanti di akhir waktunya (period), ini kan pula kelebihan-kelebihan bulan-bulan Ramadhan, Sya'ban dan Rejab misalannya. Atau ganjaran kepada sesiapa yang selawat ke atas Rasullulah saw misalannya, atau mereka yang beramal membaca yassin pagi petang siang malam misalannya. Atau membaca maksurat misalannya. Atau sahaja melakukan apa-apa sahaja, kerana dia percaya atas janji Tuhannya yang akan membalas segala amal-amalnya.

Kerana mereka yang menentang hadis-hadis ini mungkin punya kebimbangan yang lain, yang ngga mungkin saya dapat kupas disini. Tetapi bagi saya, pedulik sahaja kepada mereka yang mahu merendah-rendahkan agama kita ini, merendah-rendahkan hadis-hadis yang menyatakan ganjaran-ganjaran menanti, saya percaya, Allah swt itu lebih-lebih lagi membalasnya.

Kerana bagi saya, hanya tiga perkara sahaja yang kita boleh puji berlebih-lebihan, Allah swt itu sendiri, Rasulullah saw serta Islam agama yang syumul. Kepada sesiapa yang berani menyatakan Rasulullah saw itu hanya manusia biasa, biar sahaja saya nyatakan pada anda, Rasulullah saw itu maksum, bebas dari dosa. Masih lagi yakin Rasulullah saw itu seperti anda, manusia biasa? Cukup lah saya nyatakan ini, kalau mahu menulis mengenai Rasulullah saw, mungkin jua beratus ribu kitab ngga mungkin lagi habis mengenai nya.




Friday, 14 August 2009

SAHABATKU YANG PAPA

Assalamualaikum Sang Pencinta Kebenaran,

Untuk mu, yang selalu saya cintai -

Jika engkau dapat menyadari,
sahabatku yang papa,
bahwa kemalangan yang menimpamu dalam hidup
justru merupakan kekuatan yang menerangi hatimu,
dan membangkitkan jiwamu dari ceruk ejekan ke singgasana kehormatan,
maka engkau akan merasa puas karena pengalamanmu,
dan engkau akan memandangnya sebagai pembimbing,
serta membuatmu bijaksana.


~ Kahlil Gibran ~