Saturday, 15 August 2009

MELOLONG-LOLONG

Telinga ku mendengar suara-suara serak basah Keri Hilson (Feat. Kanye West & Ne-Yo). Aku baru mengetahui lagu ini dari adik-adikku, yang pastinya mempunyai pengaruh paling dahsyat dalam hidupku. Mereka menyihir deria pendengaran ku dengan menyajikan lagu-lagu yang ku kira tidak akan ku ambil enteng sekiranya aku berada jauh di rantauan, kerana bagi ku – halwa telinga jenis ini ngga cocok dengan jiwaku yang kadang-kadangnya halus. Wallah, memang mereka ini benar2 membuatkan aku menikmati alunan mendayu-dayu ini. Tambahan pula kalau bersama-sama melolong-lolong dengan girangnya didalam kereta!


Selain lagu ini, ku kira lagu nyanyian Katy Perry, Enrique Iglesias Feat. Ciara, Pink, Lily Allen, Miley Cyrus dan Beyonce jua sudah menusuk ke dalam hati ku. Not my usual crowd. Anehnya, aku lebih senang dengan melodinya berbanding lirik, kerana ku kira liriknya jelek dan jengkel sekali. Jarang aku ambil pusing dengan lirik sesebuah lagu, kerana aku tahu aku punya sifat paling celaka sekali – ini cuma kegilaan sementara, jemu menghinggap selepas aku berjaya mengetahui bait-bait itu, kerana misterius, daya penarik itu sudah hilang, ditelan awan gemawan hitam berat, lalu perlahan-lahan mematikan keghairahanku. Aduhai diri!


Aku menyukai lagu-lagu puisi, walhal aku mungkin ngga perna dengar seumur hidupku. Maksudku, puisi-puisi seringkali menggugah hatiku yang sering kebasahan, benar sekali, aku ini mudah benar hilang arah hanya dengan kata-kata. Tolol, ya benar, tapi ketololan itu membahagiakan, sangat membahagiakan.


Apa benar personaliti kita ngga mungkin dibentuk dari apa yang didengar? Berapa ribu kajian yang menunjukkan pendengaran itu seringkali memberi kesan yang mendalam dalam hidup? Justeru itu deria ini membutuhkan walang bukan sedikit perhatian maknawi. Dari segi ilmiahnya, tanyalah sang doktor terhormat, apa peri pentingnya nikmat kurnian Tuhan ini? Dari segi psyikologinya, tanyalah sang guru, apa tipe paling istimewa mahu menawan hati semua anak-anak murid yang polos itu? Hingga sekarang, setau aku yang goblok ini, para doktor masih bingung mahu menjelaskan dari mana datangnya kuasa pendengaran ini. Tidak lain tidak bukan wahai sahabat, ia anugerah dari Yang Tertinggi. Dipilihnya kita untuk bersama-sama belajar memeliharanya, tidak mengkufurkannya dan seterusnya mengakui dan membesarkan – betapa hebatnya Sang Rabbul Izzati itu.


Aku kini mengerti, du’a itu mempunyai kelajuan selaju cahaya, keutuhan sekukuh perisai besi, dan getaran paling halus, dan gema apa yang paling hebat selain alunan du’a hati? Apa kita sudah tuli benar tidak dapat menangkap bahasa kalbu itu? Ah, paling tidak, belajar lah mendengar bahasa paling agung itu- kerana ia terkandung lukisan kekuatan kasih sayang yang dahsyat!


(Sebenarnya disebabkan oleh deria ini, kami semua, aku dan adik-adikku, ingin benar-benar mahu membunuh anjing disebelah rumah! Atau ya, tuan punya anjing yang sengaja bercuti di waktu hujung minggu dan meninggalnya kebuluran! Melolong-lolong, membentak-bentak piring makanannya yang dari stainless steel sebagai tanda protest itu cukup menjerat dan membuah derita pada kami yang masih mahu tidur di tengah-tengah malam, diwaktu munajat dan tahajut, dilanjut hingga subuh yang bening. Rencana kami mungkin sahaja memberi daging yang diracun, nah, rasakan .)

Friday, 14 August 2009

SAHABATKU YANG PAPA

Assalamualaikum Sang Pencinta Kebenaran,

Untuk mu, yang selalu saya cintai -

Jika engkau dapat menyadari,
sahabatku yang papa,
bahwa kemalangan yang menimpamu dalam hidup
justru merupakan kekuatan yang menerangi hatimu,
dan membangkitkan jiwamu dari ceruk ejekan ke singgasana kehormatan,
maka engkau akan merasa puas karena pengalamanmu,
dan engkau akan memandangnya sebagai pembimbing,
serta membuatmu bijaksana.


~ Kahlil Gibran ~

Thursday, 13 August 2009

JURANG PUTUS ASA

Salam Pencinta Kebenaran,

"Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan… ketimbang jika aku hidup menjemukan dan putus asa" (Kahlil Gibran) .

Aku selalu ingat kata-kata Jalaluddin Rumi ketika aku berada diujung jurang putus asa, "Ketika semua pintu telah diketuk dan tetap tidak terbuka, akan ada sebuah pintu terbuka yang tidak pernah kita sangka", ayuh sahabat yang dicintai, mari "Maka berlarilah kalian menuju Allah" (QS.al-Dzariyat: 50).

Seekor sapi ditakar harganya dengan berat dagingnya. Seekor perkutut dapat mengalahkan harga sapi bukan karena beratnya daging tetapi karena keindahan suara. Sebutir merah delima yang hanya beberapa gram saja dapat melampau harga sapi dan perkutut karena keindahan warnanya. Berapa harga kita di hadapan Allah? Daging dan tulang tubuh kita akan habis dimakan tanah. Harta akan kita tinggalkan atau meninggalkan kita. Semua yang sirna tidak dapat dijadikan takaran bagi yang suatu abadi. Kita tidak ditakar dari kegantengan, kecantikan
dan kekayaan, kita ditakar dari keadaan hati dan amal-amal kita. Sabda Nabi saw:

" Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Ia melihat hati dan amal kalian." (HR.Muslim dari Abu Hurairah ra).

Tidak ada seorang pun yang berselera membeli bangkai meskipun dengan harga rendah. Demikian juga dengan hati yang mati, tidak ada nilainya sama sekali dihadapan Allah Ta’ala. Meskipun jasad hidup, kita tetap saja disebut mayat selama hati tidak dawam mengingat Allah.
Bersabda Nabi saw:

"Perumpamaan orang yang ingat pada Tuhannya dan yang tidak ingat pada Tuhannya seperti perumpamaan orang hidup dan orang mati." (HR. Bukhari dari Abu Musa ra).

Kedewasaan jasmani ditandai perubahan pada organ tertentu, kedewasaan ruhani ditandai perubahan pada hati. Ketika jasmani dewasa ia akan mencari pasangannya, ketika hati dewasa ia akan mencari Tuhannya. Jasmani tumbuh bersama perubahan waktu, hati tumbuh karena mengutamakan Allah di atas segala sesuatu.


Dipetik: http://alfi.blog.friendster.com/2008/07/where-do-we-go/

Wednesday, 12 August 2009

BANGSA KASIHAN

Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya

Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.

Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa yang berpecah-belah,
dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.

~ Khalil Gibran

Tuesday, 11 August 2009

BERDU'A ITU ADALAH MENDENGAR

Menarik bila kita mengamati Metode yang digunakan para pemburu menangkap monyet di hutan Afrika. Para pemburu menggunakan cara yang amat manusiawi, dengan menggunakan Botol besar dengan leher yang sempit sebagai perangkap, umpannya berupa kacang-kacangan dan buah-buahan dengan warna dan aroma yang menarik. Umpannya diletakkan di dalam botol dengan tujuan agar monyet dapat ditangkap hidup-hidup tanpa terluka. Pagi hari botol-botol tersebut diletakkan di dalam hutan, lalu esoknya para pemburu datang untuk mengecek monyet yang tertangkap.

Para monyet yang tertarik dengan aroma dan warna umpan akan mendatangi botol perangkap, mereka lalu coba meraih kacang atau buah tersebut dengan memasukkan tangannya ke dalam botol.

Hasilnya mereka tidak bisa menarik tangannya keluar botol selama tangannya masih menggenggam kacang atau buah. Mereka juga tidak mampu untuk membawa lari botol itu karena berat.

Barangkali kita akan mentertawakan betapa tololnya monyet-monyet itu. Padahal tanpa sadar kita sering berperilaku seperti mereka, memegang erat-erat problem hidup yang kita hadapi. Ibaratnya menenteng-nenteng “botol problem” kemana-mana.

Artinya, kita membiarkan diri kita terperangkap dalam botol problem itu, mengasihani diri seolah merasa sebagai manusia yang paling menderita, paling sengsara, paling tidak beruntung, paling miskin, dan sebagainya. Ke sana kemari pasang muka memelas, meminta belas kasihan dari orang lain. Berdoa siang malam memohon pertolongan-NYA.

Padahal kita tahu dan sadar, TUHAN tidak akan memberi beban yang tidak bisa kita tanggung.

Berdu'a itu adalah mendengar dengan penuh kyusu'.

Bukan melulu berdoa meminta agar sesuatu menjadi baik, tetapi melihat sesuatu dengan sebaik-baiknya. Mengamati sesuatu dari tempat yang tinggi, agar kita mampu melihat “lebih dari sekedar yang tampak”. Dengan begitu kita akan bisa menemukan jalan keluar, tidak perlu harus terperangkap dengan tangan di dalam botol.

Dengan begitu kita akan bisa selalu bersyukur.

Dipetik dari -http://zionist-killer.blogspot.com/2009/01/praying-is-listening.html

Saturday, 8 August 2009

DOA BUAT KAMU, CINTA UNTUK KAMU

Apa yang lebih indah
dari harumnya mawar berembun
yang tumbuh di tepi danau,
ketika dinginnya pagi beranjak dengan sopan
saat semburat tipis mentari mengintip di cakrawala?

Waktu purnama semalam permisi untuk pergi,
meninggalkan senyum tipisnya yang cantik dalam hatimu?

Yaitu saat engkau tahu
di balik semua keindahan pagi itu,
ada bahagia dari seorang sahabat
yang sedang tersenyum mengingatmu.

Ia antarkan harimu itu dengan lantunan doa indah
yang menghubungkan engkau, dia,
dan Tuhanmu,
dalam satu tali cahaya yang menyala.

Kemudian ia biarkan doa itu terbang berarak dengan riang ke langit.

Maka purnama, embun, mawar, danau, dingin, dan semburat mentari
saat itu berbicara bersama:

Hari ini engkau akan tersenyum,
sebagaimana Tuhan tersenyum pada engkau dan dia, saat itu.


Herry Mardian, 7 Mei 2006,
http://suluk.blogsome.com/2006/05/07/doa-untuk-sahabat/#more-98

Friday, 3 July 2009

YAHYA BIN MUADZ

Salam Pembaca yang dimuliakan,

Bismillah hir-Rahman nir-Rahim,

Semoga Allah memberkati kita (ameeen), Semoga Allah melembutkan hati kita (ameeen), semoga Allah menjauhkan kita dari fitnah dunia, fitnah akhirat, fitnah jin dan manusia.

Saya suka quotation ini...owh, boleh kah dipanggil quotation? :D Dipetik dari Ibnu Abas @ Firus Fansuri

Yahya bin Muadz berkata,

“Maaf Allah itu bisa menenggelamkan dosa-dosa.

Bagaimana dengan keredhaan Allah?
Keredhaan Allah itu bisa memenuhi semua harapan.

Bagaimana dengan cinta-Nya?
Cinta Allah itu bisa mengatasi logik akal.

Bagaimana dengan kasih sayang-Nya?
Kasih sayang Allah itu
dapat menjadikan seseorang
tidak memerlukan apapun.

Maka, barang siapa yang mencintai selain Allah
(lebih dari cintanya kepada Allah,
atau cinta yang dilarang Allah),
itu (hanyalah) kerana
jahil dan sedikit pengetahuannya
tentang Allah.”