Thursday, 13 August 2009

JURANG PUTUS ASA

Salam Pencinta Kebenaran,

"Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan… ketimbang jika aku hidup menjemukan dan putus asa" (Kahlil Gibran) .

Aku selalu ingat kata-kata Jalaluddin Rumi ketika aku berada diujung jurang putus asa, "Ketika semua pintu telah diketuk dan tetap tidak terbuka, akan ada sebuah pintu terbuka yang tidak pernah kita sangka", ayuh sahabat yang dicintai, mari "Maka berlarilah kalian menuju Allah" (QS.al-Dzariyat: 50).

Seekor sapi ditakar harganya dengan berat dagingnya. Seekor perkutut dapat mengalahkan harga sapi bukan karena beratnya daging tetapi karena keindahan suara. Sebutir merah delima yang hanya beberapa gram saja dapat melampau harga sapi dan perkutut karena keindahan warnanya. Berapa harga kita di hadapan Allah? Daging dan tulang tubuh kita akan habis dimakan tanah. Harta akan kita tinggalkan atau meninggalkan kita. Semua yang sirna tidak dapat dijadikan takaran bagi yang suatu abadi. Kita tidak ditakar dari kegantengan, kecantikan
dan kekayaan, kita ditakar dari keadaan hati dan amal-amal kita. Sabda Nabi saw:

" Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Ia melihat hati dan amal kalian." (HR.Muslim dari Abu Hurairah ra).

Tidak ada seorang pun yang berselera membeli bangkai meskipun dengan harga rendah. Demikian juga dengan hati yang mati, tidak ada nilainya sama sekali dihadapan Allah Ta’ala. Meskipun jasad hidup, kita tetap saja disebut mayat selama hati tidak dawam mengingat Allah.
Bersabda Nabi saw:

"Perumpamaan orang yang ingat pada Tuhannya dan yang tidak ingat pada Tuhannya seperti perumpamaan orang hidup dan orang mati." (HR. Bukhari dari Abu Musa ra).

Kedewasaan jasmani ditandai perubahan pada organ tertentu, kedewasaan ruhani ditandai perubahan pada hati. Ketika jasmani dewasa ia akan mencari pasangannya, ketika hati dewasa ia akan mencari Tuhannya. Jasmani tumbuh bersama perubahan waktu, hati tumbuh karena mengutamakan Allah di atas segala sesuatu.


Dipetik: http://alfi.blog.friendster.com/2008/07/where-do-we-go/

Wednesday, 12 August 2009

BANGSA KASIHAN

Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya

Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.

Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa yang berpecah-belah,
dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.

~ Khalil Gibran

Tuesday, 11 August 2009

BERDU'A ITU ADALAH MENDENGAR

Menarik bila kita mengamati Metode yang digunakan para pemburu menangkap monyet di hutan Afrika. Para pemburu menggunakan cara yang amat manusiawi, dengan menggunakan Botol besar dengan leher yang sempit sebagai perangkap, umpannya berupa kacang-kacangan dan buah-buahan dengan warna dan aroma yang menarik. Umpannya diletakkan di dalam botol dengan tujuan agar monyet dapat ditangkap hidup-hidup tanpa terluka. Pagi hari botol-botol tersebut diletakkan di dalam hutan, lalu esoknya para pemburu datang untuk mengecek monyet yang tertangkap.

Para monyet yang tertarik dengan aroma dan warna umpan akan mendatangi botol perangkap, mereka lalu coba meraih kacang atau buah tersebut dengan memasukkan tangannya ke dalam botol.

Hasilnya mereka tidak bisa menarik tangannya keluar botol selama tangannya masih menggenggam kacang atau buah. Mereka juga tidak mampu untuk membawa lari botol itu karena berat.

Barangkali kita akan mentertawakan betapa tololnya monyet-monyet itu. Padahal tanpa sadar kita sering berperilaku seperti mereka, memegang erat-erat problem hidup yang kita hadapi. Ibaratnya menenteng-nenteng “botol problem” kemana-mana.

Artinya, kita membiarkan diri kita terperangkap dalam botol problem itu, mengasihani diri seolah merasa sebagai manusia yang paling menderita, paling sengsara, paling tidak beruntung, paling miskin, dan sebagainya. Ke sana kemari pasang muka memelas, meminta belas kasihan dari orang lain. Berdoa siang malam memohon pertolongan-NYA.

Padahal kita tahu dan sadar, TUHAN tidak akan memberi beban yang tidak bisa kita tanggung.

Berdu'a itu adalah mendengar dengan penuh kyusu'.

Bukan melulu berdoa meminta agar sesuatu menjadi baik, tetapi melihat sesuatu dengan sebaik-baiknya. Mengamati sesuatu dari tempat yang tinggi, agar kita mampu melihat “lebih dari sekedar yang tampak”. Dengan begitu kita akan bisa menemukan jalan keluar, tidak perlu harus terperangkap dengan tangan di dalam botol.

Dengan begitu kita akan bisa selalu bersyukur.

Dipetik dari -http://zionist-killer.blogspot.com/2009/01/praying-is-listening.html

Saturday, 8 August 2009

DOA BUAT KAMU, CINTA UNTUK KAMU

Apa yang lebih indah
dari harumnya mawar berembun
yang tumbuh di tepi danau,
ketika dinginnya pagi beranjak dengan sopan
saat semburat tipis mentari mengintip di cakrawala?

Waktu purnama semalam permisi untuk pergi,
meninggalkan senyum tipisnya yang cantik dalam hatimu?

Yaitu saat engkau tahu
di balik semua keindahan pagi itu,
ada bahagia dari seorang sahabat
yang sedang tersenyum mengingatmu.

Ia antarkan harimu itu dengan lantunan doa indah
yang menghubungkan engkau, dia,
dan Tuhanmu,
dalam satu tali cahaya yang menyala.

Kemudian ia biarkan doa itu terbang berarak dengan riang ke langit.

Maka purnama, embun, mawar, danau, dingin, dan semburat mentari
saat itu berbicara bersama:

Hari ini engkau akan tersenyum,
sebagaimana Tuhan tersenyum pada engkau dan dia, saat itu.


Herry Mardian, 7 Mei 2006,
http://suluk.blogsome.com/2006/05/07/doa-untuk-sahabat/#more-98

Friday, 3 July 2009

YAHYA BIN MUADZ

Salam Pembaca yang dimuliakan,

Bismillah hir-Rahman nir-Rahim,

Semoga Allah memberkati kita (ameeen), Semoga Allah melembutkan hati kita (ameeen), semoga Allah menjauhkan kita dari fitnah dunia, fitnah akhirat, fitnah jin dan manusia.

Saya suka quotation ini...owh, boleh kah dipanggil quotation? :D Dipetik dari Ibnu Abas @ Firus Fansuri

Yahya bin Muadz berkata,

“Maaf Allah itu bisa menenggelamkan dosa-dosa.

Bagaimana dengan keredhaan Allah?
Keredhaan Allah itu bisa memenuhi semua harapan.

Bagaimana dengan cinta-Nya?
Cinta Allah itu bisa mengatasi logik akal.

Bagaimana dengan kasih sayang-Nya?
Kasih sayang Allah itu
dapat menjadikan seseorang
tidak memerlukan apapun.

Maka, barang siapa yang mencintai selain Allah
(lebih dari cintanya kepada Allah,
atau cinta yang dilarang Allah),
itu (hanyalah) kerana
jahil dan sedikit pengetahuannya
tentang Allah.”