Saturday, 13 November 2010

JANGAN KUATIRKAN REZKIMU

http://bangaziem.wordpress.com/2010/11/04/jangan-kuatirkan-rizkimu/


Menurut riset, sebagian besar waktu manusia tersita dengan persoalan harta. Sejak bangun tidur sampai menjelang tidur, manusia selalu mempersoalkan harta. Bahkan, mimpinya pun kerap dihiasi persoalan harta. Tak heran, hatinya gelisah manakala ia tidak berharta dan berlaku angkuh manakala ia berpunya.

Saya hanya ingin berkisah kepada Anda.

Abu Manshur as-Samarqandi berkata, ‘Imam yang zuhud, Abu Abdullah, ingin meyakinkan dirinya tentang sebab-sebab mendapat rizki. Maka, ia pun mendaki gunung dan masuk ke sebuah gua. Ia bergumam sendiri, ‘Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku, bagaimana Engkau memberikan rizki kepadaku’. Tiba-tiba hujan lebat mengguyur dan menyebabkan jalan-jalan di gunung tidak terlihat. Namun, orang-orang lain yang ada di sekitar gunung itu pun menemukan gua tersebut. Mereka masuk ke gua itu dan melihat Abu Abdullah sedang meringkuk di dalamnya.

Mereka mengajaknya berbicara, namun ia tidak menyahut sepatah kata pun, sepertinya ia tidak menghiraukan pertanyaan mereka. Mereka berkata, ‘Mungkin orang ini kedinginan, sehingga ia tidak bisa berbicara’. Kemudian, mereka menyalakan api di mulut gua hingga hawa panasnya merasuk ke dalam gua. Mereka mengajak Abu Abdullah berbicara, namun tetap saja ia diam seribu bahasa. Mereka berkata lagi, ‘Mungkin orang ini telah lama tidak makan apapun. Karena itu, ia butuh makanan ringan yang panas, sehingga pencernaannya kembali normal’.

Lalu mereka memasakkan sesuatu untuk Abu Abdullah dan menyuguhkan makanan itu kepadanya. Namun, ia tetap tidak bergeming. Mereka berkata lagi, ‘Mungkin gigi-giginya telah rapat’. Lalu, dua orang dari mereka berdiri dan mengambil dua buah pisau untuk membuka mulutnya dan memasukkan makanan ke dalamnya.

Tiba-tiba, Abu Abdullah tertawa. Mereka pun heran dan berkata, ‘Kamu gila ya?’. Ia menjawab, ‘Tidak, saya bukan orang gila. Hanya saja, saya sedang membuktikan bahwa Tuhanku akan memberikan rizki kepadaku, ternyata benar. Tuhan telah memberikan rizki kepadaku dan akan memberikan rizki kepada semua hamba-Nya, di manapun mereka berada’.

Hatim al-Asham rahimahullah pernah ditanya, ‘Apa yang membuatmu kukuh dengan tawakal?’. Ia menjawab, ‘Ada empat hal yang membuatku selalu tawakal. Pertama, saya mengetahui bahwa rizkiku tidak akan dimakan orang lain, karena itu jiwaku tenang. Kedua, saya mengetahui bahwa pekerjaanku tidak akan dapat dilakukan oleh orang lain, karena itu saya sibuk dengan pekerjaanku. Ketiga, saya mengetahui bahwa kematian datang secara tiba-tiba, karena itu saya harus menyiapkan bekalnya. Keempat, saya mengetahui bahwa saya tidak akan luput dari pengawasan Allah di mana pun saya berada, karena itu saya merasa malu kepada-Nya’.

Ibnu Athaillah as-Sukandari dalam al-Hikam berkata, ‘Salah satu tanda akan suksesnya seseorang dalam akhir perjuangannya adalah menyerah pada Allah sejak awal perjuangannya’.

Anda masih tidak percaya bahwa Allah adalah ar-Razaq, Sang Pemberi Rizki? Lihatlah bagian atas uang dollar. Di situ tertulis, ‘In God We Trust’, yang artinya ‘Hanya Kepada Tuhan Kita Percaya’. Jadi, buat pemburu dollar (harta), percayalah bahwa Allah yang mengatur rizki. Biarlah Allah yang mengatur hidup kita. Jangan kita mengatur Diri-Nya.

MAGIS ISTIGHFAR

Khasiat “Magis” Istighfar

Kita teramat dimanja oleh Allah SWT. Sadarkah kita? Curahan kasihnya kepada kita tak tepermanai. Ia menggadang-gadang kehadiran kita di firdaus-Nya. Ya, ia merindukan kita.

Kala kita melesat jauh dari dekapannya, Ia sigap. Ayat-ayatnya segera berseru memanggil kita, sabda-sabda RasulNya akan lantang mengajak kita kembali.

Dan, kala kita terasuki dosa, ia memberikan penawar. Penawar yang sangat mujarab membersihkan ruhani kita dari gumpalan-gumpalan dosa. Penawar itu teracik dan terkemas cantik dalam kalimat-kalimat sakti “istighfar”.

Habib Umar bin Segaf as-Segaf, dalam karyanya, Tafrihul Qulub wa Tafrijul Kurub, mendedah keagungan istighfar dengan mengalirkan seuntai kalimat ringkas sebagai mukaddimah, “Istighfar adalah instrumen pemantik rizki”. Sudah barang tentu, kalimat ini multi tafsir. Dalam pandangan salaf sekaliber Habib Umar, kata “rizki” memuat berjuta makna, ada rizki ruhani, ada rizki ragawi. Wallahu a’lam.

Beliau kemudian melanjutkan kalamnya, “Kitabullah dan hadis-hadis Rasul SAW menyebutkan fadhilah-fadhilah istighfar berulang kali. Diantara fadhilahnya adalah melebur dosa-dosa, menetaskan jalan keluar dari pelbagai persoalan, dan menyingkirkan kegalauan serta kesumpekan dari dalam hati.”

“Memang, kesumpekan dan deraan persoalan, lazimnya berpangkal dari perbuatan dosa. Oleh karena itu, seyogianya diobati dengan istighfar dan taubat yang tulus ikhlas. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa melazimi istighfar, maka untuknya, Allah memberikan kebahagiaan dari kemasyghulan, jalan keluar dari kesulitan-kesulitan, dan Ia akan melimpahkan rizki kepadanya dengan cara-cara yang tak pernah diperhitungkannya.”

Seolah hendak menegaskan, Habib Umar menyebutkan lagi fadhilah istighfar, “Khasiat istighfar adalah menghapus dosa-dosa, memendam aib-aib, memperderas rizki, mengalirkan keselamatan pada diri dan harta, mempermudah capaian cita-cita, menyuburkan berkah pada harta, dan mendekatkan diri pada-Nya.”

“Logikanya, untuk menyucikan baju yang terciprat lumpur, kita bilas dengan sabun, bukan malah didekatkan pada asap-asap tungku. Pun demikian hati kita. Agar kian bersih dan molek, kita poles dengan istighfar, serta kita hindarkan dari lumuran-lumuran maksiat.”

“Dulu kala, seseorang mengadu kepada Imam Hasan Bashri mengenai kekeringan yang melanda negerinya. Sang Imam, dengan kearifannya, memberikan resep sederhana, “beristighfarlah!”. Lalu datang seorang lainnya. Kali ini ia mengeluhkan kefakiran yang terus menggelayutinya. Sang imam memperlakukannya sama dengan yang pertama. Ia memberikan resep istighfar kepadanya. Lalu datanglah orang ketiga. Yang terakhir ini menyambat nestapa bahtera rumah tangganya karena tak kunjung dianugerahi buah hati. Sikap sang imam masih seperti sebelumnya. Ia memberikan resep istighfar. Kepada ketiga-tiganya, Imam Hasan memberikan obat yang sama, yakni istighfar, untuk problematika yang beragam. Ia juga menjelaskan dalil-dalil al-qur’an dan hadisnya kepada mereka.”

“Suatu waktu, kemarau panjang menerpa negeri muslimin. Amirul mukminin, Umar bin al-Khattab tak mau tinggal diam. Ia segera berinisiatif memohonkan hujan. Akan tetapi, bukannya salat istisqa’ yang dicanangkan Umar seperti pada galibnya. Kali ini, ia, seorang diri, hanya melafalkan kalimat-kalimat istighfar.”

“Istighfar Umar bukan sembarang istighfar. Tapi istighfar yang penuh ijabah. Tak lama kemudian, hujan deras menggerojok tanah muslimin. Seseorang yang keheranan langsung melempar tanya, “bagaimana bisa Anda memohon hujan hanya dengan menggumamkan istighfar?”. Dengan enteng, Umar menukasi, “Aku memohon hujan dengan kunci-kunci langit.”

Kalam-kalam Habib Umar benar adanya. Kita perlu memaknainya dengan bijak. Barangkali, berondongan musibah yang mendera tanah tumpah darah kita ini adalah getah dari perbuatan kita sendiri. Tinggal bagaimana kita menyikapi?

Sejatinya, kita membutuhkan figur Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Tapi, mengharap sosok Umar, di era seporak-poranda kini, ibarat kerdil merindukan bulan, Sia-sia saja. Jadi, alangkah layaknya bila kita mulai membudayakan taubat dan istighfar di tengah-tengah rutinitas kita. Mari kita basahi bibir-bibir kita dengan istighfar, dengan pengharapan, barangkali Allah SWT berkenan menyetarakan istighfar kolektif kita ini dengan sebiji istighfar Umar bin al-khattab. Astaghfirullah rabbal baraya, astaghfirullah minal khathaya.

http://www.forsansalaf.com

Thursday, 11 November 2010

YANG WAJAHNYA SELALU KU INGAT


Yang wajah-wajahnya selalu kuingat. Yang tiap wajah punya ruang di dalam hatiku. Yang masing-masing wajah punya cerita bersamaku. Setiap wajah selalu punya sesuatu untuk dibagi bersamaku. Yang tiap wajah selalu kurindu. Merekalah yang kurindu.


Yang smsnya selalu kutunggu. Yang smsnya selalu mebuatku tersenyum. Yang isi smsnya terkdang membuatku tertawa hingga terjengkang. Yang smsnya selalu membuatku semakin merindukan mereka. Merekalah yang kurindu.


Yang suaranya selalu bergema di telingaku. Yang tiap kali bicara denganku selalu meneduhkan hatiku yang bagai riam. Mereka itu yang kurindu.

Yang ketiadannya membuatku sepi, sepi yang mengiris hingga ke ulu hati. Yang rasa sepinya selalu membuatku menangis di tiap kali sujud. Yang dalam tiap kali tangis, nama merekalah yang terucap dan doa kupanjatkan. Mereka semua yang kurindu.


Yang tiap kebaikannya selalu kukenang. Yang tiap amarahnya selalu menyadarkan. Yang doa mereka selalu mengiringku berjalan. Yang selalu ada maaf setiap kali aku salah. Mereka adalah orang-orang yang kurindu.


Yang selalu temaniku di tiap langkahku di jalan-jalan yang asing. Yang selalu meramaikan hidupku yang terkadang sendiri. Yang selalu bercerita tentang cinta. Yang selalu membuatku bahagia. Mereka itu yang kurindu.


Yang selalu ada di hati dan takkan pernah mati. Yang tiap kejadian bersama mereka akan selalu abadi. Yang tak pernah benci walau sudah kusakiti. Yang siap setiap saat tiap kali kumencari. Yang mengajariku tentang cinta yang hakiki. Mereka semua sangat kurindu.


Yang mendukungku tiap kali aku mulai lompatan besar. Yang menyokongku dengan doa, cinta dan kasih sayang. Yang menggandengku di masa-masa gelap, dan melepasku kala aku siap. Yang menangkapku tiap kali aku jatuh. Yang mengobatiku tiap kali aku sakit. Yang memelukku tiap kali aku menangis. Sungguh, mereka semua yang kurindu.


Yang menertawaiku tiap kali aku melakukan hal-hal bodoh. Yang bercanda bersamaku. Yang merasakan apa yang kurasa. Yang ikut menangis bila aku menangis, yang ikut bahagia tiap kali aku menang. Yang menjadi tempatku mengadu tiap kali aku kalah. Yang dengan seluruh tenaga akan mendorongku untuk kembali berjuang. Mereka-mereka itulah yang kurindu.


Yang seiring sejalan bersamaku. Yang setia menemaniku mengarungi hidup. Yang menegurku tiap aku silap. Yang banyak mengajariku hal-hal yang berguna. Yang selalu menegarkanku. Yang selalu menjagaku dari segala yang mungkin menyakitiku. Yang selalu melindungiku selama aku tumbuh. Yang membuatkanku benteng penuh cinta agar kudapat tumbuh dan hidup dengan nyaman dan aman. Mereka-merekalah yang kurindu.


Yang akan kuberikan terbaik dari yang kumiliki. Yang akan selalu kubagi apa yang kupunya. Yang seluruh cinta dan rasa sayangku kuberi untuk mereka. Yang ingin kulindungi dan selalu kujaga. Yang ingin selalu kubuat bahagia, tersenyum dan tertawa. Yang ingin selalu kuiringi. Yang akan kuhibur tiap takut mencekam. Aku merindukan mereka.



-Oleh : Meikha Azzani-

Monday, 4 October 2010

Takahashi, 5 Menit Menuju ke Surga


dakwatuna.com – Kuringgu… kuringgu …. kuringgu!!! (kring …kring …kring..). Suara telepon rumah Muhammad berbunyi nyaring.

Muhammad: Mosi mosi? (Hallo?)

Takahashi: Mosi mosi, Muhammad san imasuka ? (Apakah ada Muhammad?)

Muhammad: Haik, watashi ha Muhammad des. (Iya saya).

Takahashi: Watashi ha isuramu kyo wo benkyou sitai desuga, osiete moraemasenka? (Saya ingin belajar agama Islam, dapatkah Anda mengajarkan kepada saya?)

Muhammad: Hai, mochiron. (ya, sudah tentu.)

Percakapan pendek ini kemudian berlanjut menjadi pertemuan rutin yang dijadwalkan oleh dua manusia ini untuk belajar dan mengajar agama Islam.

Setelah beberapa bulan bersyahadat, Takahashi kian akrab dengan keluarga Muhammad. Dia mulai menghindari makanan haram menurut hukum Islam.

Memilih dengan hati-hati dan baik, mana yang boleh di makan dan mana yang tidak boleh dimakan merupakan kelebihannya. Terkadang tidak sedikit, keluarga Muhammad pun mendapatkan informasi makanan-makanan yang halal dan haram dari Takahashi.

Pizza wo tabenaide kudasai. cheese ni ra-do wo mazeterukara.. (Jangan makan pizza walau pun itu adalah cheese, karena di dalamnya ada lard, lemak babi)”, nasihatnya di suatu hari. Takahashi mengetahui informasi semacam ini karena memang kebiasaan tidak membeli pizza, atau makanan produk warung di Jepang memang sudah terpelihara sebelumnya di keluarga Muhammad.

Toko kecil makanan halal milik keluarga Muhammad, menjadi tumpuan Takahashi dalam mendapatkan daging halal. Suatu ketika Takahashi ingin makan daging ayam kesukaannya, tapi dia ngeri kalau melihat daging ayam bulat (whole) mentah yang ada di plastik, dan tidak berani untuk memotongnya. Dengan senang hati, Muhammad memotong ayam itu untuk Takahashi. Dia potong bagian pahanya, sayapnya, dan badannya menjadi beberapa bagian.

Setiap pekan, Takahashi terkadang memesan sosis halal untuk lauk, bekal makan siang di kantor. Setiap pagi ibunya selalu menyediakan menu khusus (baca: halal) untuk pergi ke kantor tempat dia bekerja. Sebagai ukuran muallaf Jepang yang dibesarkan di negeri Sakura, luar biasa kehati-hatian Takahashi dalam memilih makanan yang halal dan baik. Terkadang Muhammad harus belajar dari Takahashi tentang keimanan yang dia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Pernah dalam suatu percakapan tentang suasana kerja, Takahashi menggambarkan bagaimana terkadang sulitnya menjauhi budaya minuman sake di lingkungan tempat kerjanya. Di Jepang, suasana keakraban hubungan antara atasan dan bawahan atau teman bekerja memang ditunjukkan dengan saling memberikan minuman sake ke gelas masing-masing.

Dalam kondisi hidup ber-Islam yang sulit, Takahashi ternyata terus melakukan dakwah kepada ibunya. Beberapa bulan kemudian akhirnya ibunya pun menjadi muallaf dengan nama Qonita, nama pilihan Takahashi sendiri buat ibu yang dia cintainya. Sampai saat ini, bagaimana dia mendapatkan nama itu, tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali Takahashi.

Beberapa bulan berlalu, pertemuan kecil-kecilan berlangsung …terlontar dari mulutnya suatu kalimat.

Watashi ha kekkon simasu (Saya mau menikah)….”, ujarnya.

Dengan proses yang panjang, akhirnya dia mendapatkan jodohnya, wanita Jepang yang cantik, yang dia Islamkan sebelumnya. Setahun kemudian, suatu hari Takahashi datang ke rumah Muhammad dengan istrinya yang berkerudung, ikut serta juga buah hati mereka yang telah hadir di dunia ini.

Pada suatu hari, iseng-iseng Muhammad bertanya kepada Takahashi, “Apa yang menyebabkan Takahashi lebih tertarik dengan Islam?”

“Sebenarnya saya belajar juga Kristen, Budha dan Todoku (Agama moral) selain Islam,” Takahashi menjelaskan.

“Masih ingat dengan telepon kita dulu? Waktu pertama kali aku telepon ke Muhammad beberapa bulan dulu”, sambungnya.

“Iya ingat sekali”, jawab Muhammad.

“Kita waktu itu membuat perjanjian untuk bertemu di suatu tempat bukan?”, tanya Takahashi.

“Iya benar sekali”, sambung Muhammad lagi sambil mengingat-ingat kejadian saat itu.

“Saya sungguh ingin mantap dengan Islam, karena Muhammad datang 5 menit lebih dulu dari pada waktu yang kita janjikan, dan Muhammad datang terlebih dahulu dari pada aku. Muhammad pun menungguku waktu itu”, jawab Takahashi beruntun.

“Karena itu aku yakin, aku akan bersama dengan orang-orang yang akan memberikan kebaikan”, sambungnya lagi.

Jawaban Takahashi membuat Muhammad tertegun, Astaghfirullah sudah berapa kali menit-menitku terbuang percuma, gumam Muhammad.

Begitu besar makna waktu 5 menit saat itu untuk sebuah hidayah dari Allah SWT. Subhanallah, 5 menit selalu kita lalui dengan hal yang sama, akan tetapi 5 menit waktu itu sungguh sangat berharga sekali bagi Takahashi.

Bagaimana dengan 5 menit yang terlewat barusan, milik Anda?

Sunday, 3 October 2010

Terbang Mengelilingi Jagat Raya [Episode Three]


Ya Tuhan, jadikan perjalanan ini sebagai zikir kami kepada-Mu. amin

Mari Sahabatku, kita terbang mengelilingi cakrawala semesta-Nya.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS 1:1)

jagat-raya1

*

jagat-raya2

*

jagat-raya3

*

jagat-raya4

*

jagat-raya5

*

jagat-raya6

*

*

*

*

*

*

*

*

jagat-raya14

*

*

*

*

*

Apakah dengan menyaksikan ini membuat Sahabat menjadi merasa kecil?

*

Semua bintang-bintang yang berada dalam “Ukuran rasional kita” dan bintang-bintang yang kita saksikan di langit masih berada di dalam Galaksi kita!

Apa yang terhampar di luar Galaksi kita?

Kita simak berita di bawah ini sejenak…

*

Pada 3 September 2003…

*

Teleskop Angkasa Hubble mulai bergerak mengarahkan cermin teleskopnya pada sebuah titik kecil di cakrawala langit malam.

*

Titik kecil tersebut berukuran 1/10 dari ukuran bulan dan yang terlihat hanyalah ruang hitam tanpa ada satu bintang pun yang dapat terlihat oleh mata telanjang.

*

Hubble tetap menjaga arah cermin teleskopnya pada titik tersebut selama 4 bulan, mengumpulkan semua cahaya yang bisa diperoleh.

Inilah yang dilihat oleh Hubble…

*

*

Setiap titik pada gambar di atas adalah sebuah Galaksi.

Setiap Galaksi mengandung 1 trilliun bintang (1.000.000.000.000)

Setiap bintang memungkinkan memiliki sistem tata surya.

PADA FOTO DI ATAS, TERDAPAT LEBIH DARI 10.000 GALAKSI

*

Ini adalah objek terjauh yang pernah difoto.

Jaraknya lebih dari 13 milyar tahun cahaya.

*

Gambar Galaksi yang difoto pada gambar di atas berukuran 8 kali lebih besar dari Galaksi kita Milky Way (Bima Sakti). Begitu besarnya hingga seharusnya ia tidak mungkin eksis menurut hukum fisika saat ini.

*

Dibutuhkan 13 milyar tahun cahaya bagi cahaya untuk melakukan perjalanan dari Galaksi-galaksi di atas untuk sampai ke bumi, sehingga gambar yang kita saksikan di atas sebenarnya merupakan waktu dimana Jagat Raya masih berusia 800 juta tahun. (Big Bang Theory)

*

Semuanya bermula dari sesuatu yang sepertinya terlihat TIDAK BERARTI.

***

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” (QS 1:2)

*********

Saturday, 2 October 2010

Dari Laundry Mendulang Hidayah



dakwatuna.com - “Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.” (QS. al-Baqarah:266)

Ayat ini menerangkan, bahwa akhirat bagi seorang mukmin adalah segala-galanya. Sebagaimana dalam kehidupan dunia, masa tua adalah masa penentu kebahagiaan seseorang. Setidaknya seperti itulah –walau tidak sama persis–perjalanan menemukan Islam yang dialami seorang wanita lansia yang sehari-hari berprofesi sebagai petugas laundry pada sebuah asrama mahasiswa di Inggris.

Tidak ada sisi menarik pada wanita ini, tua renta, pegawai rendahan dan hidup sendirian. Setiap kali bertemu dia selalu membawa kantong plastik berukuran besar yang terisi penuh dengan pakaian kotor. Untuk pekerjaan kasar seperti ini penghuni rumah jompo ini terbilang cekatan di usianya yang sudah terbilang uzur. Di Inggris, masyarakat yang memiliki anggota keluarga lansia biasanya cenderung memasukkan mereka ke panti jompo. Dan tentu saja keadaan miris ini harus diterima kebanyakan para orangtua dengan besar hati agar tidak membebani anak mereka. Namun di tengah kondisi seperti itu sepertinya tidak membuat kecil hati tokoh kita ini yang justeru begitu getol mengisi hari-harinya bergelut dengan cucian kotor.

Wanita baya itu lebih suka dipanggil auntie atau bibi. Dia sudah bekerja sebagai petugas laundry hampir separuh usianya. Beruntung baginya masih ada instansi yang bersedia mempekerjakan para manula.

“Aku merasa dihargai meski sudah tua. Lagipula, orang-orang seperti aku ini sudah tidak ada yang mengurus, kalau bukan diri sendiri. Anak-anakku sudah menikah dan tinggal bersama keluarga mereka masing-masing. Suamiku sudah meninggal. Walaupun anak-anak suka menjenguk, tapi aku tetap ingin punya kegiatan sendiri untuk mengisi masa tua,” ujarnya

“Bukan untuk kerja yang berat memang, tapi setidaknya, selain menambah penghasilan juga mengisi hari tua. Mungkin itu lebih baik daripada harus tinggal diam di panti jompo.” Ujarnya lagi dengan wajah sendu.

“Sedih juga kalau harus tinggal sendirian. Seperti seorang temanku. Dia juga dulu bekerja sebagai petugas laundry bersamaku. Sampai akhirnya, anak perempuan satu-satunya menikah. Namun setelah menikah, anak perempuannya itu tidak pernah menghubunginya,” bibi berkisah.

Bagi sang Bibi profesinya sebagai petugas laundry justeru membuatnya lebih dekat dengan sepak terjang, liku-liku penghuni asrama yang rata-rata adalah mahasiswa dari luar Inggris. Sang Bibi paham betul kebiasaan para mahasiswa yang tinggal di asrama ini selain belajar sehari-hari, adalah pergi clubbing sekedar “having fun”. Banyak asrama memiliki bar, café, ruang duduk untuk menonton televisi, ruang musik dan fasilitas olahraga sendiri.

Dan salah satu sisi negatif pergaulan dengan orang Inggris adalah bila mereka sudah dekat botol miras, biasalah mereka sampai benar-benar mabuk. Dan dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi. Muntah merata di sebarang tempat, kencing dalam celana dan sebagainya. Inilah perbuatan paling bodoh yang pernah dilakukan oleh manusia sejak terciptanya minuman beralkohol. Bukan saja menghilangkan akal sehat, tetapi juga si pemabuk akan merasa kelelahan dan sakit kepala yang teramat sangat (hangover).

Saat para penghuni asrama masih dibuai mimpi karena kelelahan habis clubbing semalaman suntuk. Tinggalah sang Bibi memunguti pakaian kotor itu setiap hari. Dan terkadang harus diangkut dari kamar, jauh sebelum mereka bangun dari tidur. Kemudian disortir dengan teliti satu persatu berdasarkan jenis bahan, ukuran, warna dan yang lebih spesifik lagi dipisahkankannya pakaian dalam dari yang lain. Begitu pekerjaan rutin itu dilakukan dengan penuh dedikasi tinggi walau diujung usianya yang semakin menua.

Waktu terus berjalan, sementara sang Bibi tanpa putus asa terus bergelut dengan ‘dunia kotor’nya. Idealnya di penghujung usianya itu seharusnya masa bagi seseorang menuai hasil kerja payahnya di masa muda. Namun situasilah yang menyebabkan dia harus menanggung berbagai persoalan hidup, maka sungguh itu merupakan masa tua yang tidak membahagiakan. Di dalam kondisi yang sudah tidak mampu banyak berbuat, dia justru dituntut harus banyak berbuat. Dalam kondisi produktivitas menurun ia justru dituntut untuk berproduksi tinggi.

Entah sampai kapan dia harus melakoni pekerjaan itu. Maka sampailah suatu saat asramanya kedatangan penghuni baru yaitu beberapa mahasiswa muslim dari Timur Tengah yang mendapat tugas belajar dari negaranya. Mereka sudah terdaftar akan menempati salah satu kamar di asrama tempat sang Bibi bekerja.

Bagi kebanyakan pelajar timur tengah sangat langka memilih tinggal di asrama. Mereka biasanya membeli rumah atau flat yang sudah disesuaikan untuk menampung kelompok kecil siswa, pasangan atau keluarga. Ada juga beberapa pemilik tempat perorangan mengijinkan rumah-rumah mereka dikelola dan disewakan.

Tinggal di asrama merupakan cara terbaik untuk bertemu orang-orang baru dan menjalin persahabatan yang langgeng. Inilah salah satu pertimbangan mereka memilih tinggal di asrama. Kesadaran inilah yang menepis kekhawatiran akan terjadinya gegar budaya atau “cultural shock“.

Hidup dalam komunitas non muslimlah justeru kita dituntut untuk membuktikan nilai-nilai Islam yang tinggi ini sebagai sebuah solusi bagi manusia. Tentunya ini adalah pekerjaan dakwah yang merupakan tanggungjawab setiap muslim dimana saja berada. Dengan tetap menjaga keistimewaan kita sebagai muslim yaitu kesalehan.

Hari-hari terus berlalu, tampaknya si Bibi ini betul-betul perhatian dengan apa yang dicucinya. Sampai-sampai dia tahu ini pakaian si A, ini si B dan seterusya. Tidak terkecuali dengan pakaian kotor milik mahasiswa dari Timur Tengah tadi. Namun saat dilakukan sortir pakaian dalam, si Bibi merasa ada sesuatu yang tidak biasa, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaian muslim arab saja yang terlihat tidak kotor, tidak berbau, tidak kumuh dan tidak banyak noda dipakaiannya.

Kejadian langka ini semakin mendorong rasa penasaran si Bibi. Lagi-lagi pencuci pakaian di asrama ini selalu merasa aneh saat mencuci celana dalam mereka. Berbeda dengan yang lain, kedua pakaian dalam mereka selalu tak berbau.

Maka masih dalam keadaan penasaran, si Bibi memutuskan bertanya langsung dengan ‘pemilik celana dalam’ itu. Saat ditanya kenapa. Dua orang ini menjawab, ”Kami selalu istinja setiap kali kencing.” Pencuci baju ini bertanya lagi, ”Apakah itu diajarkan dalam agamamu?”

“Ya!” Jawab dua orang pelajar muslim tadi.

Merasa belum yakin 100% dengan jawaban itu, akhirnya si Bibi datang menemui salah seorang tokoh muslim yaitu Doktor Sholeh– Pengajar di sebuah perguruan Tinggi Islam di Saudi, saat ditugaskan ke Inggris– Wanita tua ini menceritakan keheranannya selama bertugas perihal adanya pakaian dalam yang ‘aneh’.

Ada beberapa pakaian dalam yang tidak berbau seperti kebanyakan mahasiswa umumnya, apa sebabnya? Maka ustadz ini menceritakan karena pemiliknya adalah muslim, agama kami mengajarkan bersuci setiap selesai buang air kecil maupun buang air besar, tidak seperti mereka yang tidak perhatian dalam masalah seperti ini.

Betapa terkesan ibu tua ini jika untuk hal yang kecil saja Islam memperhatikan apatah lagi untuk hal yang besar, pikir pencuci baju itu. Dan tidak lama kemudian ia mengikrarkan syahadat, masuk Islam dengan perantaraan pakaian dalam!

Tidak disangka ternyata diam-diam si tukang cuci masuk Islam, gemparlah para mahasiswa yang tinggal di asrama tersebut, yang kebanyakan adalah non muslim. Mereka berusaha ingin tahu sebab musabab si Bibi masuk islam. Dia menjawab dengan yakin bahwa dirinya sangat kagum dengan kawan muslim Arab ini, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaiannya sajalah yang terlihat tidak macam-macam. Dan dengan hidayah Allah Swt, dirinya dapat membedakan antara pakaian seorang muslim dan non muslim.

Hidayah memang bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Selama ini mungkin kita lebih sering mendengar masuk Islamnya seorang non muslim ke dalam Islam lebih disebabkan pada hal-hal luar biasa dan penting. Tapi yang ini benar-benar tidak biasa. Mendapat hidayah di penghujung usia gara-gara pakaian dalam! Sungguh takdir Allah benar-benar telah jatuh berketepatan dengan kegigihannya selama ini mengisi hari-hari di sisa hidupnya sebagai petugas laundry. Disinilah letak rahasia nikmat Allah yang agung yang mempertemukan antara takdirNya dan ikhtiar manusia. Sungguh Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal seorang hambaNya.

Monday, 27 September 2010

Perjalanan Hati di Wollongong (1000 dollar dan Kebahagiaan)


Pemandangan di salah satu sudut kota Wollongong, Australia.



Pagi yang cerah membuatku memutuskan untuk pergi ke kota Wollongong dan mengambil uang di ATM, karena aku ingat bahwa aku mempunyai janji kepada seseorang untuk membayar uang kos besok lusa. Minggu ini adalah pekan terakhir aku menumpang untuk tinggal di unit (rumah kontrakan) milik Pak Hudaya dan Pak Lukman di Graham Avenue.

Unit di Graham avenue ini adalah tempat tinggalku yang kedua setelah selama lima hari aku menumpang tinggal di rumah Bapak Novera di Graduate House (Nama salah satu unit milik University of Wollongong). Aku merencanakan untuk pindah kost ke tempat baru, karena Pak Lukman akan kembali dari Indonesia, dan kamar yang sekarang kutempati adalah kamar beliau.

Tiga minggu sudah aku tinggal dikota Wollongong ini. Kota yang terletak di New South Wales (negara bagian Australia) ini merupakan salah satu kota tempat tujuan para pelajar dari seluruh dunia untuk menuntut ilmu. Hampir semua tetangga unit di Graham Avenue ini adalah international student dari University of Wollongong.

Hari ini aku putuskan untuk mengambil uang sebanyak seribu dollar Australia. Aku harus mengambil uang lebih banyak dari biasanya karena besok lusa aku rencanakan untuk pindah ketempat kost yang baru, dan aku harus membayar uang sewa kost yang baru tersebut sebesar 890 dollar Australia.

Akomodasi atau penginapan disini memang tergolong mahal, karena kebanyakan harus dibayar dimuka minimal untuk 6 minggu kedepan. Setelah mengambil uang aku kembali kekampus karena aku harus mengikuti kuliah. Hari ini aku kuliah di kelas besar, dengan kapasitas mahasiswa sebanyak lebih dari 150 mahasiswa.

Bentuk ruang kelas yang mirip dengan theatre (gedung bioskop) membuat materi perkuliahan dapat didengar dan disaksikan oleh seluruh mahasiswa yang hadir, mulai dari depan sampai bangku paling belakang. Tak terasa kuliah berakhir lebih cepat dari biasanya,akupun bergegas keluar dari ruang kelas dan berjalan pulang berbarengan dengan teman-teman dari Indonesia.

Namun tanpa aku sadari, aku kehilangan dompet yang aku taruh di saku belakang celana, aku baru sadar ketika akan menaiki bis. “Astaghfirulloh Haladziim….”, dompetku hilang! Teriakku pelan Aku coba untuk mengecek di dalam tas dan saku yang lain. ..

Aku lalu berlari kembali kekelas dengan harapan menemukan dompet yang hilang tersebut, karena dalam dompet tersebut terdapat uang yang akan aku pakai untuk membayar kost besok lusa.

Dengan dibantu Bapak Zaka (teman satu kelas yang berasal dari Indonesia) aku teliti satu persatu kursi, meja dan lantai kelas. Aku berputar-putar didalam kelas dan mencoba menyisir jalan tempat lewatku. Tapi akhirnya aku menyerah, dan harus memasrahkan semuanya pada Alloh SWT.

Badanku lemas, karena baru kali ini aku kehilangan uang sebanyak ini, dalam hati aku “protes” pada Alloh SWT, Yaa Alloh, kenapa engkau begitu kejam padaku, uangku tidak banyak, dan aku harus membayar uang kost besok lusa, kenapa Engkau ambil juga uang yang aku punyai…”.

Rasa sedih dan penyesalan terus menyelimuti setiap langkahku hingga ke unit dimana aku tinggal untuk sementara waktu. Belum selesai juga kesedihan dan penyesalanku hari ini, aku teruskan “protesku” pada Alloh SWT , kugelar sajadah dan kuteruskan dengan sholat ashar.

Dalam doa kusampaikan kembali “protesku pada Alloh SWT, aku tidak tahu kenapa aku belum bisa ikhlas menerima semua itu. Setelah sholat, kubuka laptop dan kublokir seluruh transaksi melalui ATMku.

Rasa gundah masih terus menyelimutiku hingga keesokan harinya, kurebahkan tubuhku ditempat tidur, dan berfikir bagaimana aku akan membayar uang kost besok. Hingga tak berapa lama hpku berdering, ternyata Mr. Gopal Raj sipemilik rumah kost baru yang akan kutempati.

Tanpa aku sadari, dia menelpon dan membatalkan kamar kostnya untuk kusewa karena sudah ada mahasiswa dari India yang lebih dulu menempati kamar tersebut. “Sorry Redi, You are late” itulah kata-kata yang diucapkan olehnya . Oh…. Kenapa dia membatalkan secara sepihak, bukannya dia dulu sudah janji mau memberikan kamar kost itu untukku…

Tak henti-hentinya aku berfikir dan bertanya pada diriku sendiri. “Yaa Alloh, apa tidak cukup uang yang kau ambil dengan paksa itu?” ucapku dalam hati. Sekali lagi aku protes pada Alloh. Aku duduk termenung dan Akhirnya kuputuskan untuk berbicara sama pak Hudaya tentang keadaanku. Beliau lalu menyarankan untuk tetap tinggal di unitnya dan menunggu pak lukman sampai datang dari Indonesia.

Lalu kuputuskan untuk menelfon pak Lukman yang berada di Indonesia, ternyata beliau juga menyarankan aku untuk tetap tinggal di unitnya dan tidak usah pindah. Ya sudahlah, pikirku, mungkin ini memang sudah nasibku untuk harus tinggal disini. Seminggu kemudian Pak Lukman datang dari Indonesia, dan karena tidak ada kamar lagi maka kamipun tinggal sekamar.

Sebenarnya tinggal sekamar dengan orang lain adalah sesuatu yang tidak aku sukai, karena menurutku hal itu bisa mengurangi privasi, tetapi apalah daya, uangku tak mencukupi untuk menyewa unit ataupun kamar kost yang baru.

Akhirnya semuanya aku nikmati dan kucoba untuk jalani dengan sabar. Hari berganti hari, minggu dan bulan pun berlalu. Kulihat ada sesuatu yang lain dari aktifitas pak Hudaya dan Pak Lukman yang membuatku merasa iri dan malu pada diriku sendiri, yaitu kecintaan mereka terhadap masjid.

Gelap, hujan, panas, debu dan dinginnya udara yang menusuk sluruh pori-pori kulit tak membuat mereka mengurungkan niat untuk selalu pergi kemasjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. Sekali kali aku ikut dengan mereka, dalam hatiku kubertanya, apa yang mereka cari hingga udara yang amat dingin dan hujan ini tak mampu menghentikan langkahnya untuk pergi ke Masjid.

Padahal jarak dari Masjid Omar (Omar Mosque) lumayan jauh dari unit kami, kami harus berjalan sekitar 800 meter dengan harus melewati jembatan freeway yang agak menanjak. Ah sudahlah, aku ikut saja, yang jelas aku yakin bahwa setiap langkahku akan dicatat oleh Alloh SWT. sebagai amal kebaikan untukku. Bukankah semakin susah perjuanganku, semakin besar pula pahala yang akan kudapatkan, pikirku menghibur diri.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, kurasakan sesuatu yang yang lain dalam diriku, sekarang aku merasa aneh kalau diriku tidak pergi kemasjid dan melaksanakan sholat berjamaah. Ada suatu kebahagiaan yang kurasakan ketika kulangkahkan kakiku kemasjid, ada suatu kebanggaan dalam jiwaku, bahwa serasa diriku “hidup kembali”.

Sholat berjamaah dan pergi ke masjid menjadi suatu ukuran dalam keseharianku untuk menentukan aktifitasku. Dari situ pula akhirnya aku mengenal banyak teman dari luar Indonesia, ada dari Libya, Irak, Palestina, Arab Saudi, Malaysia, dan masih banyak yang lainnya. Tidak jarang ketika aku berjalan pulang dari masjid beberapa saudara itu menawari untuk mengantarku sampai keunitku.

Mereka tidak memandang dari mana asal atau kebangsaan yang berbeda, bahkan pernah pula mereka menolongku untuk membawakan barang-barang saat aku membantu saudara dari Indonesia yang sedang pindah rumah.

Dari situ timbullah suatu rasa persaudaraan dan kedekatan yang tidak bisa dibeli dan diganti dengan apapun. Serasa aku telah menemukan The power of Islam yang selama ini hanya kuketahui sebagai suatu teori belaka.

Aku sadar, ternyata benar bila ada yang mengatakan bahwa masjid adalah tolok ukur kekuatan umat Islam. Bagaimana tidak kuat, bila seluruh jamaah yang hadir adalah orang-orang yang peduli dan mempunyai keinginan yang besar untuk bersaudara dan membantu saudara yang lain.

Ada suatu keindahan tersendiri ketika cinta kepada rumah Alloh telah terbentuk dihati. Tidak hanya itu saja, aku juga sering ikut pengajian baik di masjid Omar di Wollongong ini, maupun di Masjid Tempeh di Sydney. Pengetahuanku tentang Islampun berkembang dan fikirankupun terbuka. Dari sini aku sadar bahwa Islam adalah sebenar-benar pemersatu umat dari seluruh penjuru dunia dan bukan negara, bahasa, ataupun warna kulit.

Berjabat tangan untuk menjalin persaudaraan.

Astaghfirulloh hal adziim…, ucapku dalam hati, ketika aku ingat akan protes dan penyesalan yang selalu aku ajukan kepada Alloh SWT. Aku sadar bahwa kehilangan uang seribu dollar bukanlah musibah bagi diriku, tetapi malahan sebaliknya, ternyata itulah bentuk kasih sayang Alloh kepadaku.

Alloh masih menginginkan diriku untuk “dekat” denganNya, Alloh masih menyelamatkanku untuk tetap dalam keimanan dan kebahagiaan dalam Islam. Karena rasanya tak mungkin ini semua akan kudapatkan bila dahulu aku pindah kost dan tidak tinggal dengan Pak Lukman dan Pak Hudaya.

Kuteringat satu ayat dalam Alquran yang berbunya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S Al Baqarah;216).

Subhanalloh, satu ayat yang sangat indah, bila kita mengetahui maknanya. Sesungguhnya manusia tak akan pernah merasa sedih apabila memahami ayat ini, mereka akan senantiasa bersyukur akan apapun yang ditakdirkan terhadap mereka, dan mereka akan senantiasa bersabar akan cobaan yang menimpa mereka.

Redi Bintarto
(POLTEKOM)