Monday, 27 December 2010

SADAR DENGAN SEBUAH KEHILANGAN

Sadar dengan Sebuah Kehilangan

19/10/2008 | 18 Syawal 1429 H | Hits: 8.344
Oleh: Muhammad Nuh
Kirim Print

dakwatuna.com - “Orang yang pandai adalah yang senantiasa mengoreksi diri dan menyiapkan bekal kematian. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan berangan-angan kepada Allah.” (At-Tirmidzi)

Maha Besar Allah Yang menghidupkan bumi setelah matinya. Air tercurah dari langit membasahi tanah-tanah yang sebelumnya gersang. Aneka benih kehidupan pun tumbuh dan berkembang. Sayangnya, justru manusia mematikan sesuatu yang sebelumnya hidup.

Tanpa terasa, kita sudah begitu boros terhadap waktu

Trend hidup saat ini memaksa siapapun untuk menatap dunia menjadi begitu mengasyikkan. Serba mudah dan mewah. Sebuah keadaan dimana nilai kucuran keringat tergusur dengan kelincahan jari memencet tombol. Dengan bahasa lain, dunia menjadi begitu menerlenakan.

Tidak heran jika gaya hidup perkotaan menggiring orang menjadi manja. Senang bersantai dan malas kerja keras. Di suasana serba mudah itulah, waktu menjadi begitu murah. Detik, menit, jam, hingga hari, bisa berlalu begitu saja dalam gumulan gaya hidup santai.

Sebagai perumpamaan, jika seseorang menyediakan kita uang sebesar 86.400 rupiah setiap hari. Dan jika tidak habis, uang itu mesti dikembalikan; pasti kita akan memanfaatkan uang itu buat sesuatu yang bernilai investasi. Karena boleh jadi, kita tak punya apa-apa ketika aliran jatah itu berhenti. Dan sangat bodoh jika dihambur-hamburkan tanpa memenuhi kebutuhan yang bermanfaat.

Begitulah waktu. Tiap hari Allah menyediakan kita tidak kurang dari 86.400 detik. Jika hari berganti, berlalu pula waktu kemarin tanpa bisa mengambil waktu yang tersisa. Dan di hari yang baru, kembali Allah sediakan jumlah waktu yang sama. Begitu seterusnya. Hingga, tak ada lagi jatah waktu yang diberikan.

Sayangnya, tidak sedikit yang gemar membelanjakan waktu cuma buat yang remeh-temeh. Dan penyesalan pun muncul ketika jatah waktu dicabut. Tanpa pemberitahuan, tanpa teguran.

Allah swt. berfirman, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari Allah swt.).” (Al-Anbiya’: 1)

Tanpa terasa, kita kian jauh dari keteladanan Rasul dan para sahabat

Pergaulan hidup antar manusia memunculkan tarik-menarik pengaruh. Saat itulah, tanpa terasa, terjadi pertukaran selera, gaya, kebiasaan, dan perilaku. Semakin luas cakupan pergaulan, kian besar gaya tarik menarik yang terjadi.

Masalahnya, tidak selamanya stamina seseorang berada pada posisi prima. Kadang bisa surut. Ketika itu, ia lebih berpeluang ditarik daripada menarik. Tanpa sadar, terjadi perembesan pengaruh luar pada diri seseorang. Pelan tapi pasti.

Suatu saat, orang tidak merasa berat hati melakukan perbuatan yang dulunya pernah dibenci. Dan itu bukan lantaran keterpaksaan. Tapi, karena adanya pelarutan dalam diri terhadap nilai-nilai yang bukan sekadar tidak pernah dicontohkan Rasul, bahkan dilarang. Sekali lagi, pelan tapi pasti.

Anas bin Malik pernah menyampaikan sebuah ungkapan yang begitu dahsyat di hadapan generasi setelah para sahabat Rasul. Anas mengatakan, “Sesungguhnya kamu kini telah melakukan beberapa amal perbuatan yang dalam pandanganmu remeh, sekecil rambut; padahal perbuatan itu dahulu di masa Nabi saw. kami anggap termasuk perbuatan yang merusak agama.” (Bukhari)

Tanpa terasa, kita jadi begitu asing dengan Islam

Pelunturan terhadap nilai yang dipegang seorang hamba Allah terjadi tidak serentak. Tapi, begitu halus: sedikit demi sedikit. Pada saatnya, hamba Allah ini merasa asing dengan nilai Islam itu sendiri.

Ajaran Islam tentang ukhuwah misalnya. Kebanyakan muslim paham betul kalau orang yang beriman itu bersaudara. Saling tolong. Saling mencintai. Dan, saling memberikan pembelaan. Tapi anehnya, justru nilai-nilai itu menjadi tidak lumrah.

Semua pertolongan, perlindungan, pengorbanan kerap dinilai dengan kompensasi. Ada hak, ada kewajiban. Ada uang, ada pelayanan. Tiba-tiba seorang muslim jadi merasa wajar hidup dalam karakter individualistik. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, seorang dai merasa enggan berceramah di suatu tempat karena nilai bayarannya kecil. Sekali lagi, tak ada uang, tak ada pelayanan.

Firman Allah swt. “Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami, kecuali karena rahmat dari Tuhanmu….” (Al-Isra’: 86-87)

Tanpa terasa, kita tak lagi dekat dengan Allah swt.

Inilah sumber dari pelunturan nilai keimanan seorang hamba. Kalau orang tak lagi dekat dengan majikannya, sulit bisa diharapkan bagus dalam kerjanya. Kesungguhan kerjanya begitu melemah. Bahkan tak lagi punya nilai. Asal-asalan.

Jika ini yang terus terjadi, tidak tertutup kemungkinan, ia lupa dengan sang majikan. Ketika seorang hamba melupakan Tuhannya, Allah akan membuat orang itu lupa terhadap diri orangnya sendiri. Ada krisis identitas. Orang tak lagi paham, kenapa ia hidup, dan ke arah mana langkahnya berakhir.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)

Sunday, 26 December 2010

KISAH ORANG GILA #2

Salams,

Atas permintaan seorang blogger yang amat saya hormati, meminta dipanjang-panjang kan, semoga ianya bermanafaat hingga ke akhir hayat.Ayat-ayat beliau pantas sahaja menusuk jiwaku. Meminta bloggers sekalian memanjang-manjangkan jua di dalam apa jua bentuk komunikasi. Semoga Allah swt merahmati kita, insyaAllah. Jangan putus asa, sahabat-sahabat yang dimuliakan, dalam mengejar cinta Allah swt. Hanya Dia, hanya Dia lah segala-galanya.


Salam sayang.

______________________________________________________________________


Kisah Orang Gila #2


oleh Irfan SangPelangi


Dihantar melalui emel buat Ahli Sahabat SangPelangi SangPelangi.com



Urkh. Rasa tercucuk-cucuk dengan telatah dia ini. Tidak sampai senafas ikamat dilontar Bilal, An-Nas juga belum dilafaz. Orang tua ini terjerit-jerit,


"Rapat! Rapat! Rapat!"


Berlari anak dia melingkari baris saf, melangkahi susun-susun manusia yang menyerupai platun. Sesekali dia berhenti, menepuk bahu seorang dua tentera yang terkandas dari barisan.


"Hah, kau! Bahu! Sentuh bahu!"


Bukan sahaja kami, sang imam turut panas punggung dengan gelagat orang tua 'gila' ini. Masakan tidak, adakala larut sepuluh minit menantikan sang sarjan gila ini, memberi arahan itu dan ini. Sudahlah botak, seluar berceloreng, baju hijau siap paku pangkat yang dicat sendiri.


Setelah berpuas hati, dia kembali ke ruang kosong miliknya. Seisi perut masjid memerhatikannya. Seolah-olah menunggu arahan seterusnya oleh dia.


"Hah. Imam? Bila nak mula?"


Setelah faham angkatan cukup bersedia, lantas Imam Muda pun menjulang takbir.


Sudah tiga hari begitu. Genap 15 waktu orang tua ini menyiagakan kami, jemaah dan kariah kawasan ini. Masjid yang dibina dalam kompleks, percikan idea Tan Sri Ali, mantan Johor Corporation, memberi senyum pada pendakwah jalanan. Peniaga di kompleks tiada alasan lagi menebuk-nebuk Jumaatnya.


Kehadiran orang tua ini amat menggusarkan aku secara peribadi. Caranya yang sedikit garang, atau tegas barangkali, mungkin saja tidak disenangi sesiapa. Hari demi hari, sedikit demi sedikit, jemaah mendikit. Dari tiga barisan penuh, tinggal dua separuh.


Esoknya, aku sedikit lewat ke Zuhur. Tidaklah masbuk, sempat juga makmum selapis jika diistilahkan di zaman asrama dulu. Berlari anak mencapai wuduk di gigi paip. Aku terpacak menanti imam bangkit bersama tentera di rakaat keempat. Tertoleh-toleh di kiri kanan, tercari-cari kelibat orang tua gila semalam.


Tiada. Cemas. Tertanya-tanya. Tidur di mana. Makan apa. Diambil Jabatan Kebajikan Masyarakat mungkin. Lebih cemas, ahli-ahli yang memeriahkan rumah Allah ini tidak bertambah. Adakah mereka mula menjauhi masjid ini? Kecewanya...


Masuk hari kelima, Zuhur juga. Saat bersalam-salam jemaah-imam, aku membelek wajah semua. Tiada juga yang kurang. Sama saja. Ada juga muka baru. Manusia yang berbondong-bondong ke pintu luar masih seperti sebelumnya. Namun kepanjangan saf berkurang. Dari dua separuh, tinggal dua baris.


Masuk hari keenam, masih Zuhur. Orang tua itu tidak muncul-muncul. Aku terfikir, bahu-bahu kami tetap saling ketat. Kelingking kaki terus bersentuhan rapat. Aku tersedar, juga akui, bukan bilangan manusia yang hilang sekerat-sekerat. Hanya dirian kami yang kian padat. Dari dua baris semalam, kini jadi satu setengah saf.


Hari ini, genap berbelas-belas hari pemergian orang tua gila. Tiada yang bertanya, apatah yang bercerita jauh sekali. Lebih mendukacita, baris turus hamba-Nya kembali ke sediakala. Tidak lagi bersempit-sempitan. Waktu demi waktu, tiga saf pula bagai asal.


Terlintas di kepala, siapalah orang tua gila ini. Mungkin dia itu memang berpindah-pindah. Sebelumnya di masjid dan surau lain, dan memang kerjanya memang mengatur manusia. Ah, aku syak, memang dia berlakon gila. Biar tindak-tanduknya dimaaf orang, biar arahannya diturut semua. Wah. Gaya dakwah yang tidak difikir dengan norma dan logik segala. Kagum.


Namun sedih juga. Rindu akan keadaan kami berhari-hari yang lalu. Barangkali, beginilah keadaan angkatan solat di zaman Nabi dan sahabat dulu-dulu. Agaknya inilah punca kemenangan Badar, Khandak dan lain-lain yang dikurnia Dia, selain doa diaminkan ukhwah berkumpulan.


Terduduk dan diam. Memikirkan hakikat manusia 'gila' yang bagai diutus Allah, buat diriku dan jemaah waras yang lainnya.


Maha benarlah kata-kata sang pujangga itu, bahawa sesungguhnya manusia itu, perlu disusun manusiawinya, oleh manusia juga.


Memujuk diri sendiri, agar tidak letih dan berhenti di jalan yang saling mengingatkan.


Sabda Baginda Muhammad SAW,


“Hendaklah kamu merapatkan saf-saf kamu, atau Allah akan memecah-belahkan hati-hati kamu.” (Bukhari, Muslim).


Sabda baginda lagi,


“Sesungguhnya aku selalu melihat syaitan masuk ke dalam saf.”(Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban).


Mohon pada kamu, Nur, sebar-sebarkan kisah ini pada teman kita. Bukannya demi mencari orang tua gila itu. Bagiku, dia tidak hilang.


Hanya kesetiaan, kasih sayang, dan ukhwah berpasukan yang telah hilang daripada diri kita.


Sebarkan, Nur. Dan ayuh bersama-samaku. Biar penuh rumah Allah. Biar rapat pejuang-pejuang Dia. Biar menang perang kita yang satu ini, wahai sang buih-buih di pantai dunia. Ombak zaman makin menduga.




Saturday, 25 December 2010

AMBOI, SOMBONGNYA

Salams,

Kerja ngga siap lagi, tapi mahu menunaikan Hak Allah swt supaya menyebarkan peringatan:

"Demi massa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal sholih dan saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam (menetapi) kesabaran.” "[ al-Ashr [103]: 1-3 ]



Saya masih belajar cara apa yang paling efektif dalam memberikan peringatan. Saya sangat pasti ada sahaja tulisan saya yang ngga dapat diterima, tapi niat saya satu, insyaAllah, saya mahu kita saling ingat mengingati. Kerana saya hanya manusia. Tolongi lah saya dalam menggapai syurga.

Sedang menelaah, saya tiba-tiba terfikir, bahawa dosa pertama adalah engkar, sombong dan angkuh, mirip sekali dengan perbuatan Iblis semasa disuruh sujud kepada Adam. Bahawa aku dari api, kata Iblis, berani sekali memberitahu Allah swt, apa kelas sujud pada Adam yang di buat dari tanah yang hina, hitam?


“Dan apabila Kami berkata kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali Iblis. Ia enggan, dan ia sombong, dan ia menjadi antara orang-orang yang tidak percaya (kafir).” [surah Al-Baqarah, ayat 34]


Bukankah kejadian ini berlansung terus menerus? Dari kejadian pembunuhan pertama, Qobil membunuh Habil, sehinggalah sekarang. Sombong, angkuh. Saya lebih baik dari engkau, makanya engkau ngga berhak mendapatkan apa-apa dari saya, waima penghormatan. Yang tua menyangka dirinya lebih baik dari yang muda, yang kaya menyombongkan diri kepada yang miskin, yang kuat angkuh sekali pada yang lemah, yang guru menyangka lebih hebat dari anak murid, yang berilmu sombong pada yang jahil, yang pemimpin bongkak sekali pada rakyat. Yang pakai tudung menyangka lebih baik dari yang tidak. Yang solat menyangka lebih bagus dari yang tidak. The list goes on.


“Dan janganlah engkau memalingkan mukamu (kerana memandang rendah) kepada manusia, dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan berlagak sombong; sesungguhnya Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi membanggakan diri.” [surah Luqman, ayat 18]


Ya, kadang-kadang saya jua tidak dapat lari dari perasaan 'aku lebih baik'. Saya ini benar-benar fakir. Syaitan itu benar-benar bijak, dan bukan kah iblis sudah berjanji akan mendatangi kita dari segenap arah? Kalau diteliti dengan ayat-ayat quran balasan untuk si sombong, ah, kecut perut saya, sahabat-sahabat sekalian:


'Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedangkan kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong' - Al Mukmin: 76


Aduhai, syukurlah kita ada 'taubat' dan 'istigfar'. Ini hadiah yang sangat bernilai dari Allah swt. Ini adalah senjata yang sangat ampuh untuk mematahkan serangan syaitan, iblis dan manusia-manusia keji. Jangan sesekali, sahabat-sahabat sekalian, berputus asa pada rahmat-Nya, keaampunan-Nya, cinta-Nya. Selagi hayat di kandung badan, selagi nafas tidak sampai ke kerongkong, pintu taubat itu masih terbuka lebar. Seluas-luas langit dan bumi. Kalau luas bumi sudah diketahui, luas langit, subhanAllah, hanya Allah swt sahaja yang Maha Mengetahui.


'Dan hendaklah engkau memohon ampun kepada Allah, kerana sesungguhnya Allah adalah amat Pengampun, lagi amat Mengasihani' - An-Nisaa: 106.


Istigfarlah, kerana makna istigfar itu luas sekali, tidak hanya memohon ampun, bahkan menghilangkan kesan-kesan bahaya dari dosa-dosa lampau. Dan kita ngga tahu apa kesan dari perbuatan angkuh, sombong dan engkar yang pernah kita lakukan. Ya, sahabat-sahabat yang dimuliakan, semoga rintihan kita ini, di dengari Allah Maha Mendengar. Dan Dia, Dia itu amat suka mengampuni, Maha Pengampun dan Maha Mengasihani. Ah, hebat sekali. Manis sekali.









Friday, 24 December 2010

MULAI SAJA APA YANG BISA DILAKUKAN

Salams,

Tanpa disedari, air mata mengalir. Gambattee, untuk mu, sahabat-sahabat sekalian, untuk apa jua yang akan terjadi.



Mulai Saja Apa yang Bisa Dilakukan

Posted: November 6, 2010 by muliahati in my days

Kalau apa yang membuat saya belajar jadi dewasa adalah semua keterbatasan dan masalah, maka saya tidak keberatan itu semua ada. Saya tidak keberatan bertanggung jawab menyelesaikannya meski masalah itu bukan saya yang buat tapi mendatangi saya begitu saja. Apalagi jika saya yang buat kekacauan itu. Karena dengan demikian, saya tahu, bahwa masih ada fase hidup yang terus bisa dijalani. Masih bisa naik level, masih bisa tambah senjata, masih bisa punya surviving skill yang update. Itu perjalanan yang mesti ditempuh, menuju ke satu titik. Dan harus saya pastikan bahwa kilas balik di titik itu akan menyatakan saya menang.

Untuk semua ada masanya. Begitulah yang saya pahami dari pengalaman selama ini. Ada masa dimana saya harus belajar rendah hati saat keluarga mampu berdiri sendiri dan membantu keluarga lain. Ada masa dimana saya harus belajar berani ketika dimusuhi seisi SD mulai dari kepala sekolah sampai teman-teman saat menolak permintaan guru untuk memberikan contekan agar rata-rata NEM tinggi. Ada masa dimana saya harus belajar bagaimana menyandarkan kepercayaan diri pada sesuatu yang lebih hakiki daripada materi saat saya dikucilkan karena miskin. Ada masa dimana saya belajar berbagi ketika menyaksikan ibu tetap membantu orang lain di tengah segala keterbatasan kami. Ada masa dimana saya belajar kerja keras dari keseharian ayah. Ada masa dimana saya harus belajar sabar ketika ayah mulai sakit, belajar memahami kenapa, mulai dari kenapa ayah sakit sampai kenapa ayah harus pergi di saat itu. Saat saya hampir bisa memberikan hadiah terbaik yang telah saya usahakan empat tahun lamanya. Saat ayah masih belum bisa berdamai dengan kesedihan dan kekecewaannya. Itu semua adalah masa-masa yang saya syukuri. Termasuk penyesalan yang mengiringi berbagai kesalahan langkah. Karena, dengan itu semua saya menjadi lebih baik. Lalu kondisi pun membaik sedikit demi sedikit.

Saya hanya tidak boleh jalan ditempat. Karena ketika saya mulai berjalan ke depan sambil terus berdoa, mengucapkan harapan-harapan saya, mimpi-mimpi saya kepada yang bersemayam di arsy dan juga tinggal di hati saya, hari itu memang ada. Hari itu, mimpi-mipi saya, saya sudah hidup di dalamnya. Insya Allah.

———-

Painting The Sky, terimakasih sudah menginspirasi :)

ME'MUHRIM'KAN

Me-“muhrim”-kan orang lain? Ya, istilah itu baru saya dapat sore tadi. Bukan dalam artian menikah sehingga menjadi muhrim. Melainkan, saking seringnya berinterkasi kemudian mengetahui “kacrut” (kacau carut marut) dari sifat masing-masing dan merasa tidak mungkin jatuh cinta lalu menganggap biasa setiap interaksi dengan orang itu. Hijab menjadi longgar. Bercanda lebih sering. Bahkan kadang menceritakan hal-hal yang seharusnya hanya diceritakan pada saudara sesama jenis. Menjaga pandangan pun tersimpan rapi dalam teori. Apakah ini semua dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya?

Tentu saja, tidak! Kita memang harus menjaga hati, agar senantiasa mencintai Allah dan mencintai karena Allah. Tapi, Allah yang kita cintai juga memerintahkan untuk menjaga pandangan dan hijab. Allah yang kita cintai juga mengatur bagaimana kita berinterkasi dengan lawan jenis. Jika kita memang mencintai-Nya, mengapa muncul dalih : “Yang penting kan bisa menjaga hati”?

“Yang pertama itu adalah bagimu dan yang kedua itu adalah dosa atasmu”.Hadits itu jelas. Begitupun dengan surat Ghafir/Al Mu’min ayat 19, “Allah mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan oleh hati”.

Maka menangislah gadis itu sore ini mengingat hijabnya. Ia bahkan tidak lagi bisa membedakan sedang berinterkasi dengan perempuan atau laki-laki.Dan hatinya telah berkomplot dengan setan untuk tak mengingatkan. Ia memang masih terjaga dari bersentuhan dan berdekatan, tapi bagaimana cara ia bicara, bercanda, marah, sesungguhnya tak pantas jika ditujukan juga untuk lawan jenisnya. Padahal, dulu ia sangat menjaga iffah dan izzah sebagai muslimah. Tak pernah berinteraksi dengan lawan jenis jika tak ada urusan, apalagi bercanda. Tapi kini begitu berbeda. Dan hatinya tambah perih mengingat keinginannya dulu, “Saya ingin menjadi seorang muslimah yang menyimpan tatapan matanya di surga”

Allah, rahmati ia … dan siapapun yang membaca tulisan ini, tolong turut doakan ia. Karena mendoakan saudara saat terpisah jarak akan dikabulkan. Dan apa yang kita doakan untuk saudara akan didoakan malaikat untuk kita.





SO SWEET

Mon Cheri - 6

Matahari kalah terang dengan hatinya,
Bulan kalah indah dengan senyumannya,
Air kalah jernih dengan jiwanya,
Bumi kalah subur dengan amalnya,
Langit kalah cerah dengan akhlaknya,
Batu kalah keras dengan imannya,
Dan aku pun kalah hati kepadanya…

(taken from Angga Kusumadinata)

1,2,3,4, (ii)


Salams,

Bismillahir-rahman nir-rahim.

Pembaca yang dimuliakan, ada yang kucintai sesungguh hati, ada yang ku rindu bagai separuh mati, ada yang ku ingat separuh sedar, ada yang tidak mahu ku ingat tetapi tetap menjelma di bawah pemikiran ku, tapi semuanya berada dalam du’aku. Moga-moga kita berada dibawah lembayung Rahmat-NYA yang tiada taranya.


1

Mahu pulang ke kampung, hati saya berdendang sayang, Sayupnya terbang hingga ke langit ke tujuh. Ah, walaupun kampung saya itu tidak ada apa-apa, tapi ianya tetap di hati. Sungguh, Kuala Lumpur ini mengajar hati saya menjadi keras. Dalam perjalanan ke cafe untuk membeli ikan cencaru yang diminta oleh Abah, tiba-tiba satu lintasan pemikiran hadir lantas membingungkan saya. Adakah 'KL' ini, adalah dunia, dan 'kampung' itu adalah akhirat? Banyak hadis-hadis dan ayat-ayat Quran yang boleh di interpretasikan seperti ini, bahawa dunia ini hanya debu nilainya di mata Ar-Rahman itu. Kalau begitu, sahabat-sahabat sekalian, I'll try my best, my hardest, to retain this kind of feelings.

2

Edensor. Derbyshire. Setelah membaca buku Andrea Hirata, saya punya satu keinginan yang tiba-tiba menggila untuk ke sana. Adakah tempat yang menjadi sumber inspirasi itu, benar-benar memukau dan menyihir segala deria ? Yuk, London friend, kalau kamu punya masa dan kesempatan, mari kita ke sana?

3

Dalam hidup ini, semua rakan yang saya anggap sahabat, adalah wanita-wanita pahlawan. Yang bertarung hebat dengan kekerasan hidup. Dengan kelemahan hati. Dengan segala seteru yang di akhir petang sungguh melelahkan. Tapi kamu, sahabat-sahabat yang ku cintai lillahi Ta'ala, adalah benar-benar seorang wanita pejuang. Kerana jihad itu, sahabat-sahabatku, adalah mengangkat senjata menentang segala pertentangan yang akan menyeret kita ke jalan yang salah. Angkatlah senjata itu, dan bidiklah setepat-tepatnya.

4

Esok adalah Hari Natal, dan lusa adalah Boxing Day. Owh I miss the shopping trips. And you. I wonder, always, do you remember me? A friend told me that if we remember someone, for sure we send that a person a kind of 'wave'. And by Allah's will, that person will receive it and remember us in return. If you, dears, remember me, even in a littlest time, please send me a du'a. Kerana saya, saya tidak membutuhkan apa-apa kecuali du'a.