Saturday, 11 September 2010

Tiga Pondasi Umat

Tiga Pondasi Umat

12/1/2009 | 14 Muharram 1430 H | Hits: 7.647

Kirim Print

dakwatuna.com – Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat ihsan, serta memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (An-Nahl: 90).

Ayat ini merupakan diantara sekian ayat yang terbilang paling akrab di telinga kaum muslimin karena biasa dijadikan ayat penutup yang dibaca oleh khatib sebelum mengakhiri khutbah jum’at atau khutbah hari raya. Secara cermat ditemukan bahwa redaksi ayat ini bersifat umum, karena perintah Allah dalam ayat ini tidak ditujukan kepada sasaran tertentu, misalnya “Ya’murukum” (memerintah kalian) seperti dalam ayat-ayat yang lain, tetapi cukup dengan kata “Ya’muru” (memerintah). Sehingga ayat ini harus dipahami sebagai ayat universal yang mengikat seluruh hamba Allah tanpa ada beban fanatisme golongan, ideologi, suku bangsa dan sebagainya. Karena secara fithrah memang manusia dilahirkan membawa prinsip-prinsip kebaikan yang diperintahkan dalam ayat ini dan membenci perilaku keburukan yang dicegah dalam ayat ini. Bahkan dengan tegas -karena melihat kandungan yang terangkum di dalam ayat ini- Abdullah bin Mas’ud ra sampai menyimpulkan bahwa ayat ini adalah ayat yang paling komprehensif (yang paling luas cakupannya) di dalam Al-Qur’an tentang kebaikan-kebaikan yang diperintahkan dan keburukan-keburukan yang harus dicegah.

Bagi Utsman bin Madh’un, ayat ini memiliki keistimewaan dan kesan tersendiri. Pada mulanya, ia memeluk Islam hanya karena malu dengan Rasulullah saw. Namun ketika ia berada di sisi Rasulullah saw dan ikut menyaksikan peristiwa saat ayat ini turun, ia merasakan satu kekuatan iman yang menembus ke dalam hatinya. Ia mulai yakin akan keagungan prinsip-prinsip hidup dan kehidupan yang akan ditegakkan oleh Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bahkan berbangsa dan bernegara.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad mengenai sebab turun ayat ini, bahwa Abdullah bin Abbas menceritakan, “Ketika Rasulullah saw sedang duduk di halaman rumahnya, tiba-tiba Utsman bin Madh’un melintas di depan. Maka Rasulullah memanggilnya dan mengajaknya duduk bersama. Namun ketika sedang berlangsung pembicaraan diantara keduanya, tiba-tiba Rasulullah menengadahkan pandangannya ke langit beberapa saat, kemudian menundukkan kepalanya dan bergeser dari tempat duduknya ke sebelah kanan. Beliau menganggukkan kepala seakan-akan mengiyakan apa yang disampaikan kepadanya. Selang beberapa saat, beliau kembali mengangkat pandangannya ke langit seperti yang terjadi pada kali pertama, lantas beliau kembali ke tempat duduknya di samping Utsman bin Madh’un. Maka melihat kejadian yang tidak biasa tersebut, Utsman bertanya kepada Rasulullah saw, “Hai Muhammad, kenapa aku melihat engkau tadi mengangkat pandanganmu ke langit dan mengangguk-anggukan kepala seakan-akan mengiayakan sesuatu dan engkau bergeser menjauh dariku?”. Rasulullah balik bertanya, “Apakah engkau tadi memperhatikan apa yang terjadi?”. Utsman menjawab singkat, “Ya”. Rasulullah berkata, “Telah datang kepadaku tadi seorang Rasul Allah”. Dengan nada terkejut Utsman bertanya, “Seorang Rasul Allah?”. Rasulullah menjawab, “Benar”. Utsman bertanya lagi, “Apakah yang ia sampaikan kepadamu?”. Rasulullah menjelaskan, “Ia datang membawa wahyu kepadaku” Lantas Rasulullah membacakan surah An-Nahl ayat 90″.

Dalam riwayat Al-Qurthubi, setelah kejadian ini, dengan modal keyakinan yang mendalam Utsman bin Madh’un lantas membacakan ayat ini kepada Al-Walid bin Al-Mughirah, seorang yang sangat dikenal piawai dalam dalam bidang sastra di kalangan orang-orang Arab pada masa itu. Demi mendengar ayat tersebut dibacakan kepadanya, spontan keluar dari lisannya pernyataan yang memeranjatkan semua orang, termasuk para pemuka Quraisy yang memang menaruh dendam kepada Rasulullah, “Demi Allah, sungguh Al-Qur’an ini memiliki kelezatan dan keindahan. Di atasnya berbuah dan di bawahnya berakar, dan ini bukanlah kata-kata manusia”. Bahkan diriwayatkan bahwa Al-Walid meminta Utsman untuk mengulangi bacaan ayat ini.

Berdasarkan komprehensifitas kandungan ayat ini, terdapat tiga prinsip yang terangkum di dalamnya yang ditawarkan oleh Al-Qur’an agar dijadikan landasan dalam upaya membangun umat dan menata sebuah masyarakat, yaitu prinsip keadilan, prinsip ihsan dan prinsip takaful yang dicontohkan dalam skala mikro dengan memberi bantuan kepada kaum kerabat. Ketiga sendi ini merupakan landasan aplikatif untuk membendung dan mengantisipasi gerak Al-Fahsya’ yaitu segala perbuatan yang didasarkan pada pemenuhan hawa nafsu, seperti zina, minuman yang memabukkan dan sebagainya. Al-Munkar, yaitu perbuatan buruk yang bertentangan dengan akal sehat, seperti mencuri, merampok dan tindakan aniaya lainnya. Al-Baghyu, yaitu tindakan yang mengarah kepada permusuhan, seperti kezaliman, tindakan sewenang-wenang dan sebagainya. Ketiga kekuatan perusak ini merupakan penyakit masyarakat yang akan senantiasa merongrong keutuhan dan eksistensi umat. Karenanya, sebuah masyarakat tidak mungkin bisa tegak di atas dasar kekejian, kemungkaran dan permusuhan. Demikian juga, sebuah masyarakat yang telah tersebar di tengah-tengahnya perbuatan keji dengan segala warna dan kemasannya, kemungkaran dengan segala daya tariknya dan permusuhan dengan segala bentuknya tidak akan mungkin bangkit dari keterpurukan dan senantiasa berada dalam kesengsaraan.

Ibnu Katsir mengomentari bahwa dalam ayat ini Allah memerintahkan semua hamba-hambaNya agar menjunjung tinggi nilai keadilan dan keseimbangan dalam semua urusan dan selanjutnya menganjurkan bersikap ihsan dalam setiap perbuatan. Maka ayat ini merupakan dalil akan perintah berlaku adil dan anjuran untuk bersikap ihsan. Sedangkan hubungan yang ketara antara adil dan ihsan adalah bahwa keadilan merupakan sebuah kewajiban syariat, sedangkan ihsan merupakan sikap yang lebih di atas sikap adil. Karenanya berusaha mencapai derajat ihsan dalam semua perbuatan merupakan satu hal yang sangat dianjurkan.

Berbeda dengan Syekh Abu Hamid Al-Ghozali. Ia menuturkan pandangannya tentang konsep adil dan ihsan sebagai sebuah perintah yang harus dilaksanakan secara bersamaan. Ia menyatakan bahwa melalui ayat ini, Allah memerintahkan hambaNya agar bersikap adil dan ihsan secara bersamaan. Karena sikap adil hanya akan membawa kepada keselamatan. Seperti halnya dalam aktifitas perniagaan, hanya mengembalikan modal. Sedangkan sikap ihsanlah yang akan memberikan kemenangan dan kebahagiaan. Yaitu keuntungan yang lebih dari modal dalam konteks perniagaan. Sehingga, sepatutnya seorang hamba Allah tidak cukup berpuas hati karena hanya mampu melaksanakan adil tanpa dibarengi dengan ihsan. Oleh karenanya, Allah menggandengkan kedua sikap ini dalam ayatNya. Bahkan, Allah justru banyak memuji sikap ihsan di dalam ayat-ayatNya. Diantaranya, “Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan ihsan”. (Al-Kahfi: 30). “Dan berbuat ihsanlah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat ihsan kepadamu”. (Al-Qashash: 77)

Dalam konteks ini, Sayid Qutb memaparkan pemahaman tafsirnya dengan pendekatan ijtima’i yang menjadi ciri khas tafsirnya, bahwa di ayat inilah Al-Qur’an datang dengan membawa mabadi’ (prinsip-prinsip) yang akan menguatkan simpul-simpul yang terjalin di dalam sebuah masyarakat yang akan menjadi penenang bagi setiap individu, umat dan bangsa. Allah mengawalinya dengan prinsip Al-Adl yang harus dijadikan penopang sebagai kaidah yang baku dalam pergaulan sehari-hari. Terlebih lagi, prinsip Al-Adl di dalam ayat ini digandengkan dengan Al-Ihsan untuk melembutkan ketajaman keadilan yang solid. Karena kata Ihsan lebih luas penunjukannya. Maka ihsan mencakup seluruh sendi-sendi kehidupan dari hubungan seorang hamba dengan Rabbnya, hubungan dengan keluarganya, masyarakatnya dan dengan kemanusiaan dalam arti yang luas.

Menurut susunan kalimat dalam ayat ini, penyebutan “Ita’idzil Qurba” (memberi kepada kaum kerabat) setelah Al-Adl dan Al-Ihsan adalah untuk menunjukkan bentuk konkret salah satu dari perbuatan ihsan. Penyebutan khusus kalimat ini hanyalah dalam konteks ta’dzim (pengagungan) terhadap hubungan dengan kaum kerabat dan sebagai ta’kid (penegasan) terhadap konsep ihsan tersebut yang bisa dilakukan secara bertahap, dari wilayah yang paling dekat sampai ke wilayah yang jauh yang meliputi seluruh anggota masyarakat.

Betapa paksi keadilan, ihsan dan takaful dalam struktur bangunan masyarakat ini terasa semakin lenyap dan hilang dari kesehariannya, baik dalam skala pribadi, keluarga maupun masyarakat. Kalaupun ada, masih sangat terbatas dan sangat rapuh. Sedangkan tiga kekuatan penghancur yang tampil dalam kemasan kekejian, kemungkaran dan permusuhan justru semakin menunjukkan eksistensi kekuatannya di tengah umat yang sedang berusaha bangkit dari keterpurukan. Tiga kekuatan ini muncul serentak dalam beragam bentuk dan warnanya. Cukuplah ayat ini menjadi wejangan yang sangat berharga untuk mengembalikan izzatul Islam wal Muslimin. “Dia (Allah) memberi pengajaran kepadamu (dengan ayat ini) agar kamu dapat mengambil pelajaran.” Allahu a’lam

Friday, 10 September 2010

Rahasia Keadilan

Rahasia Keadilan

15/2/2010 | 29 Shafar 1431 H | Hits: 3.492

Kirim Print

dakwatuna.com - Suatu hari seseorang mengusulkan kepada Umar bin Abdul Aziz, agar dibangun pagar yang tinggi demi keamanan. Umar bin Abdul Aziz menjawab: “Bangunlah keadilan kau akan merasa aman. Sebab dengan bersikap demikian, seorang pemimpin telah memberikan hak-hak rakyatnya secara benar dan proporsional. Bila rakyat mendapatkan haknya maka otomatis kejahatan tidak ada. Bila kejahatan tidak ada maka akan tercapai rasa aman.”

Kisah ini mengingatkan kepada Umar bin Khatthab saat menjabat sebagai khalifah. Umar sangat terkenal dengan keadilannya. Umar pernah berkata suatu hari: ”Lain nimtunnahaar dhayya’tur ra’iyyah, wa lain nimtullail dhayya’tu nafsii (jika aku tidur di siang hari aku telah mengkhianati rakyatku, dan jika aku tidur di malam hari, aku telah mengkhianati diriku sendiri”).

Umar selama manjadi khalifah tidak sempat enak tidur siang maupun malam. Setiap saat selalu bersama rakyatnya. Bukan hanya dari wilayah ke wilayah tetapi bahkan dari rumah ke rumah. Umar setiap hari membantu langsung para janda yang tidak mampu berbelanja ke pasar. Di malam hari Umar masih menyempatkan diri membantu para jumpo dengan menyediakan makan untuk mereka. Karenanya Umar merasa aman. Di mana saja ia bisa istirahat. Suatu hari Umar ditemukan tidur berbaring di bawah pohon. Pada saat itu sedang datang utusan dari kerajaan Romawi. Para utusan itu kaget ketika mereka menemukan Umar demikian sederhana. Tidak seperti yang mereka bayangkan tentang seorang raja sekaliber Umar. Salah seorang sahabat mengungkapkan Umar ketika dalam kondisi seperti itu: ”Umar, adalta fanimta (Umar, engkau telah berbuat adil, maka engkau enak tidur di mana-mana”).

Benar keadilan adalah fondasi sebuah kepemimpinan. Dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan: ”I’diluu huwa aqrabu littaqwa (berbuatlah adil sesungguhnya ia lebih dekat kepada ketakwaan”). Al-Maidah:8

Perhatikan ayat ini betapa Allah swt. memerintahkan agar kita berbuat adil. Lalu Allah memberikan alasan bahwa dengan berbuat adil seseorang akan terhantar kepada level takwa. Dari sini kita belajar bahwa tidak akan bertakwa seorang yang berlaku dzalim. Sebab para pelaku kedzaliman akan selalu bergelimang dosa dan harta haram. Maka dengan kedzalimannya seseorang akan semakin terjauhkan dari Allah. Sungguh tidak mungkin bertakwa seorang yang jauh dari Allah swt.

Perlu digaris bawahi juga bahwa kata i’diluu dalam ayat tersebut berupa perintah. Dan dalam kaidah pada dasarnya perintah itu berarti wajib. Dengan demikian bertindak adil adalah kewajiban, lebih-lebih bagi seorang pemimpin.

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. menceritakan bahwa kelak di hari Kiamat di padang mahsyar, di saat manusia di bawah terik yang tak terhingga, lebih dari itu tidak ada sedikitpun rindang seperti yang diceritakan Rasulullah saw.: ”Yawma laa dzilla illaa dzilluhu (tidak tempat berteduh sama sekali kecuali keteduhan dari Allah swt), ada sekelompok manusia pada saat itu mendapat perlindungan khusus dari Allah, di antaranya –kata Rasulullah saw- al imaamul ’aadil (pemimpin yang adil). Dari sini sudah jelas bahwa berbuat adil bagi seorang pemimpin adalah kenikmatan yang sangat menguntungkan, tidak saja di dunia melainkan lebih dari itu di akhirat.

Kini bila kita perhatikan, justru kedzaliman banyak kita temukan dalam kepemimpinan umat Islam. Berbagi bukti korupsi atau kediktatoran sangat mencolok dilakukan oleh para pemimpin yang justru mengaku diri sebagi seorang muslim. Karenanya kestabilan politik selalu tidak tercapai.

Sampai kapan umat ini akan terus tercekam dalam kedzaliman yang dilakukannya sendiri?.

Sampai kapan Islam yang kita yakini hanya akan menjadi ibadah ritual yang mati di pojok-pojok masjid, sementara di kantor-kantor, di pasar-pasar dan bahkan di lembaga-lembaga pemerintahan tidak ada Islam?.

Bukankah sudah saatnya Umat ini kembali kepada komitmen semula. Komitmen untuk menjalankan Islam secara kaaffah, seperti yang Allah firmankan: udkhuluu fissilmi kaaffah. (QS. Al baqarah : 208). Ingat bahwa nilai-nilai Islam sejak dini telah dipraktekkan di barat, sekalipun mereka tidak mau menyebut itu Islam. Dan karena itu mereka maju. Sungguh Islam adalah fitrah. Dan berislam artinya berbuat adil. Maka dengan berbuat adil seorang pemimpin akan aman, seluruh rakyat akan sejahtera dan sebuah negeri akan kokoh. Wallahu ’alam bishshawab.

Thursday, 9 September 2010

Meraih Pahala dari Fitnah Harta dan Anak

Meraih Pahala dari Fitnah Harta dan Anak

7/3/2007 | 19 Shafar 1428 H | Hits: 8.869

Kirim Print

”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)

Terdapat dua ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebut harta dan anak sebagai fitnah, yaitu surah Al-Anfal ayat 28 dan surah At-Taghabun ayat 15, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Perbedaannya: pada surah Al-Anfal, Allah menggunakan redaksi pemberitahuan “ketahuilah”, sedangkan pada surah At-Taghabun menggunakan redaksi penegasan “sesungguhnya”. Namun ungkapan yang mengakhiri kedua ayat tersebut sama, yaitu “di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Sehingga bisa dipahami bahwa fitnah harta dan anak bisa menjerumuskan ke dalam kemaksiatan, namun di sisi lain justru bisa menjadi peluang meraih pahala yang besar dari Allah swt. Dan makna yang kedua itulah yang dikehendaki oleh Allah, sehingga Allah mengingatkannya di akhir ayat yang berbicara tentang fitnah anak dan harta “dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Fitnah dalam kedua ayat ini bukan dalam arti Bahasa Indonesia, yaitu setiap perkataan yang bermaksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik atau merugikan kehormatannya. Tetapi fitnah yang dimaksud dalam konteks harta dan anak seperti yang dikemukakan oleh Asy-Syaukani adalah bahwa keduanya dapat menjadi sebab seseorang terjerumus dalam banyak dosa dan kemaksiatan, demikian juga dapat menjadi sebab mendapatkan pahala yang besar. Inilah yang dimaksud dengan ujian yang Allah uji pada harta dan anak seseorang. Fitnah di sini juga dalam arti bisa menyibukkan atau memalingkan dan menjadi penghalang seseorang dari mengingat dan mengerjakan amal taat kepada Allah, seperti yang digambarkan oleh Allah tentang orang-orang munafik sehingga Dia menghindarkan orang-orang beriman dari kecenderungan ini dalam firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Munafiqun: 9). Rasulullah saw juga menyebut kedua kemungkinan ini dalam hadits Aisyah ra ketika beliau memeluk seorang bayi, ”Sungguh mereka (anak-anak) dapat menjadikan seseorang kikir dan pengecut, dan mereka juga adalah termasuk dari haruman Allah swt”.

Fitnah anak dalam arti bisa mengganggu dan menghentikan aktivitas seseorang pernah dirasakan juga oleh Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Daud dari Abu Buraidah bahwa ketika Rasulullah saw sedang menyampaikan khutbahnya kepada kami, tiba-tiba lewatlah kedua cucunya Hasan dan Husein mengenakan baju merah sambil berlari dan saling kejar mengejar. Begitu melihat kedua cucunya, Rasulullah kontan turun dari mimbar dan mengangkat keduanya seraya mengatakan, ”Maha Benar Allah dengan firman-Nya, ”Sesungguhnya harta dan anak-anak kamu adalah fitnah”. Aku tidak sabar melihat keduanya sampai aku menghentikan ceramahku dan mengangkat keduanya”. Dalam konteks ini, Ibnu Mas’ud mengajarkan satu doa yang tepat tentang harta dan anak. Beliau mengungkapkan, ”Janganlah kalian berdoa, dengan doa ini, ”Ya Allah, lindungilah kami dari fitnah”. Karena setiap kalian ketika pulang ke rumah akan mendapati harta, anak dan keluarganya bisa mengandungi fitnah, tetapi katakanlah, ”ya Allah aku berlindung kepada engkau dari fitnah yang menyesatkan”.

Secara korelatif tentang fitnah harta dan anak dalam surah At-Taghabun, Imam Ar-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir menyebutkan, karena anak dan harta merupakan fitnah, maka Allah memerintahkan kita agar senantiasa bertaqwa dan taat kepada Allah setelah menyebutkan hakikat fitnah keduanya, ”Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (At-Taghabun: 16). Apalagi pada ayat sebelumnya, Allah menegaskan akan kemungkinan sebagian keluarga berbalik menjadi musuh bagi seseorang, ”Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghabun: 14)

Sedangkan tentang fitnah harta dan anak dalam surah Al-Anfal, Sayyid Quthb menyebutkan korelasinya dengan tema amanah ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (Al-Anfal: 27), bahwa harta dan anak merupakan objek ujian dan cobaan Allah swt yang dapat saja menghalang seseorang menunaikan amanah Allah dan Rasul-Nya dengan baik. Padahal kehidupan yang mulia adalah kehidupan yang menuntut pengorbanan dan menuntut seseorang agar mampu menunaikan segala amanah kehidupan yang diembannya. Maka melalui ayat ini Allah swt ingin memberi peringatan kepada semua khalifah-Nya agar fitnah harta dan anak tidak melemahkannya dalam mengemban amanah kehidupan dan perjuangan agar meraih kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Dan inilah titik lemah manusia di depan harta dan anak-anaknya. Sehingga peringatan Allah akan besarnya fitnah harta dan anak diiringi dengan kabar gembira akan pahala dan keutamaan yang akan diraih melalui sarana harta dan anak.

Lebih jauh, korelasi ayat di atas dapat ditemukan dalam beberapa ayat yang lain. Al-Qurthubi misalnya, menemukan korelasinya dengan surah Al-Kahfi: 46 yang bermaksud, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”, bahwa harta kekayaan dan anak wajar menjadi perhiasan dunia yang menetramkan pemiliknya karena pada harta ada keindahan dan manfaat, sedangkan pada anak ada kekuatan dan dukungan. Namun demikian kedudukan keduanya sebagai perhiasan dunia hanyalah bersifat sementara dan bisa menggiurkan serta menjerumuskan. Maka sangat tepat jika ayat “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (At-Taghabun: 15) dan ayat “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”.(Al-Munafiqun: 9) menjadi pengingat jika kemudian terjadi harta dan anak justru menjauhkan pemiliknya dari Allah swt.

Berbeda dengan At-Thabari, ia memahami korelasi kontradiktif ayat ini dengan surah Ali Imran ayat 38, “Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Menurut Ath-Thabari, secara tekstual ayat ini bisa dipahami bertentangan dengan ayat yang memberi peringatan akan kemungkinan bahaya dan fitnah yang ditimbulkan dari harta dan anak. Padahal nabi Zakaria sendiri berdoa agar dikaruniakan keturunan yang banyak. Maka pemahaman yang cenderung kontradiktif ini diluruskan sendiri oleh Ath-Thabari dengan mengemukakan bahwa anak yang di pohon oleh Zakaria adalah anak keturunan yang shaleh yang bisa memberi manfaat di dunia dan akhirat. Sedangkan yang dikhawatirkan adalah kriteria harta dan anak yang justru melalaikan dari mengingat Allah swt seperti yang Allah tegaskan dalam salah satu firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Munafiqun: 9). Dalam konteks ini, Nabi Muhammad sendiri pernah mendoakan harta dan anak yang banyak kepada sahabat Anas bin Malik ra, “Ya Allah perbanyaklah untuknya harta dan anak, dan berkahilah setiap apa yang Engkau anugerahkan kepadanya”.

Demikian keseimbangan yang diajarkan oleh Allah swt dalam menyikapi fitnah harta dan anak yang menduduki posisi tertinggi dari titik lemah manusia. Harta dan anak memiliki potensi yang sama dalam menghantarkan kepada kebaikan atau menjerumuskan seseorang kepada dosa dan kemaksiatan. Sudah sepantasnya peringatan Allah dalam konteks fitnah harta dan anak senantiasa yang sering kita ingat karena hanya peringatan Allah yang mencerminkan kasih sayang-Nya yang layak untuk diingat, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim:6).

Wednesday, 8 September 2010

Antrian Masuk Al-Quds

Antrian Masuk Al-Quds

E-mail Print PDF
Untuk bisa shalat di Al-Aqsa, warga Palestina harus berjuang sejak keluar rumah


Foto1: Warga Palestina harus melewati pos pemeriksaan Betlehem di pinggiran Tepi Barat untuk masuk ke Al-Quds (Yerusalem).

Foto2: Para jamaah berharap bisa melakukan shalat pada 3 September 2010, Jumat terakhir di bulan Ramadhan tahun ini.


Foto3: Semua pos penjagaan di Tepi Barat dipenuh puluhan ribu warga Palestina pria dan wanita serta anak-anak sejak dini hari, dengan tujuan Al-Quds.


Foto4: Penjagaan tidak hanya ketat di pintu masuk Al-Quds, tapi juga di seluruh pos pemeriksaan Israel. Wanita di bawah usia 40 dan pria di bawah 50 tahun dilarang melintas.[di/maan/hidayatullah.com]

Tuesday, 7 September 2010

Indahnya Ramadhan di Bumi Para Nabi

Indahnya Ramadhan di Bumi Para Nabi

E-mail Print PDF

Di Mesir saat Ramadhan masyarakatnya sibut beramal dan berinfak sebanyak-banyaknya. Sementara di Indonesia, sibuk jualan atau ngabuburit

JANGAN ditanya kebahagiaanku berpuasa di bumi kinanah, bumi seribu menara ini. Sangat jauh apa yang kurasakan dengan berpuasa di negeri sendiri, Indonesia.

Aku pernah merasakan berpuasa di Indonesia, tahun 2008. Duh,..indahnya berpuasa di negeri sendiri tidak begitu kurasakan. Apakah yang kurang di negeriku ini? Entahlah, tapi “rasa” itu yang belum kelihatan, seperti ada yang kurang.

Siangnya suasana biasa-biasa saja, malamnya pas kebetulan aku tinggal di Bukittinggi, tepatnya di sebuah kampung bernama Biaro. Mungkin suasana yang kurasakan ini tidak semuanya ada di setiap daerah. Malamnya, shalat di masjid, dengan cuaca yang kadang hujan, kadang-kadang mati lampu, dan tak jarang terasa gempa kecil-kecilan. Dan kadang disertai perasaan cemas, jangan-jangan ada gempa. Perasaan seperti ini masih terbawa sampai sebulan aku di Kairo, Mesir.

Akibat bawaan seringnya gempa di Sumatera Barat, seakan-akan bumi Kairo pun bergoyang-goyang terus.

Undangan maidaturrahman kebiasaan negeri para nabi ini, misalnya, di mana-mana ada suguhan berbuka puasa bersama. Di jalanan, di masjid-masjid dan di mana saja, bahkan saat dalam bis, saat naik taksi, kita di stop hanya sekedar untuk mendapat bagian makanan kotak buat buka puasa. Pokoknya banyak yang menawarkan makanan untuk buka puasa. Hal-hal seperti ini, tak pernah kurasakan di Indonesia.

Di Indonesia yang ada tawaran untuk membeli makanan buat buka puasa. Beda dengan di Mesir, tak ada yang berjualan makanan, paling minuman juice segar. Namun, yang banyak adalah tawaran gratis makanan, plus minuman buat buka puasa, dan tak jarang sekaligus buat sahur.

Bulan Ramadhan di Mesir adalah ajang buat beramal, beribadah, berinfak sebanyak-banyaknya, sementara di Indonesia adalah ajang buat berjualan, berbisnis, atau ngabuburit.

Suara imam yang syahdu, dengan isak tangis para jamaah, kekhusyukan jamaah saat mendengarkan imam membaca al-Quran, adalah tradisi Ramadhan di Mesir. Tak ada yang ayat-ayat pendek saat tarawih, kebanyakan ayat panjang, dan tak jarang satu juz dihabiskan dalam satu malam.

Aku suka mengikuti yang satu juz satu malam ini, sebab imamnya syahdu, persis Imam Masjidil Haram, di mana ada para jamaah yang sambil memegang al-Quran mengikuti bacaan Imam, ada yang berdiri, dan tak sedikit para orangtua mengikutinya dengan hidmat sambil duduk.

Jamaahnya sangat ramai, mulai awal sampai akhir. Bahkan semakin terakhir semakin ramai, karena mereka meyakini akan datangnya 10 terakhir malam Lailatul Qadar. Hal-hal semacam inilah yang tak kurasakan di Indonesia. Di Indonesia, semakin akhir Ramadhan, jamaahnya makin sepi pengunjung. Kayak ekor tikus, yang semakin ke ujung semakin menciut, mungkin sibuk mempersiapkan kue dan baju-baju lebaran. Sementara di Mesir, kesibukan semacam itu tak kelihatan. Bukan tak ada kue lebaran. Bahkan sangat banyak, tapi mereka tak membuatnya, karena akan mengurangi ibadah shalat tarawih di masjid.

Masjid Penuh

Suasana Ramadhan di Kairo begitu indah kurasakan, sampai-sampai aku rasanya tak memiliki waktu buat melihat FB, email kecuali sesaat. Saat pas aku lagi ingin tahu berita di Indonesia, atau teman-teman dan saudara, baru aku membuka internet.

Waktuku lebih banyak aku habiskan di dalam masjid, mulai dari pukul 9-10 pagi, sampai pukul 11 malam, kadang sampai pukul 1 dini hari, kalau pas keesokan harinya hari libur sekolah anak-anakku, karena pagi-malam diisi dengan tadarrusan bersama.

Di masjid Kairo, anak-anak remaja juga sibuk bertadarrusan selesai shalat tarawih, bapak-bapaknya pun tak ketinggalan. Termasuk ibu-ibu juga bikin kelompok tersendiri, sehingga penuhlah semua masjid dengan kelompok jamaah tadarrusan. Di masjid Mesir, banyak yang i’tikaf sambil membaca al-Quran dengan khusyuknya.

Aku pernah shalat di samping ibu-ibu Mesir. Mereka benar-benar khusyu’ saat shalat, sampai air mata mereka berlinang-linang mendengarkan imam membaca al-Quran, dan tak jarang kulihat mulutnya juga mengikuti bacaan al-Quran tersebut, mungkin mereka sudah hafal.

Alhamdulillah, karena secara umum aku paham arti dan makna isi kandungan al-Quran, aku suka mengikuti bacaan shalat 1 juz satu malam itu. Rasanya tak begitu sulit memahami dan tak perlu capek harus berlama berdiri mendengarkan imam membacanya. Ini pun dilaksanakan oleh Rasulullah, di mana setiap bulan Ramadhan tiba, Malaikat Jibril bersama Rasulullah membaca/mengkaji al-Quran.

Mungkin ini sebabnya kenapa orang Mesir jiwa sosialnya cukup tinggi, karena setiap tahun mereka mengkaji ulang al-Quran secara keseluruhan, bukan di bulan suci Ramadhan saja. Di bis-bis pun mereka membaca al-Quran, dan ini tak kurasakan sama sekali di Indonesia, yang ada malah lantunan musik yang kadang memekakkan telingaku.

Jangan pernah takut tak akan makan di negeri para Kinanah di bulan suci Ramadhan ini, orang Mesir sangat suka mendermakan hartanya buat fakir miskin, terutama mahasiswa/mahasiwa penuntut ilmu fi sabilillah. Mereka sangat care akan hal ini, terutama di bulan suci Ramadhan ini. Dan yang aku salutkan di sebahagian besar orang Mesir, merasa dirinya akan dekat waktu ajalnya, sehingga biasanya mereka berwasiat untuk mewakafkan hartanya di jalan Allah. Apakah itu untuk pembangunan masjid atau apa saja.

Bukan seperti kita, kalau mau meninggal, yang difikirkan adalah apakah yang akan kutinggalkan dari hartaku buat anak-anakku? Tak terfikir, apakah harta yang akan kuwakafkan kelak saat aku meninggalkan dunia fana ini?

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah di Mesir ini. Khusus bagi masyarakat Indonesia yang ada di daerah Dokki, setiap malam selesai tarawih, ada makanan ringan disediakan, semacam bakso, empek-empek, dll. Setiap malam, sponsor makanan tersebut bergantian. Misalnya pihak Dubes hari pertama, sampai local staff KBRI Kairo, dan juga berasal dari sebahagian masyarakat yang mau ikut serta menyumbang menjadi sponsor.

Malamnya sebagian bapak, remaja, dan ibu, melakukan tadarrusan 1 juz dalam satu malam. Kalau ibu-ibunya ditambah pagi harinya 2 juz satu hari, dan para anak serta remaja hanya beberapa lembar saja, karena mereka harus belajar.

Di luar Ramadhan selesai shalat zhuhur di sekolah Indonesia Kairo selalu membaca al-Quran. Semua dengan suasana ibadah, kekeluargaan, dan tak jarang buka bareng bersama-sama. Mengkaji al-Quran cukup diminati oleh masyarakat Mesir dan Indonesia yang ada di Mesir ini, terlebih lagi bulan penuh berkah ini. Seakan-akan bulan suci Ramadhan adalah bulannya al-Quran, dan bulannya bertebaran para dermawan yang menyumbangkan sebahagian hartanya buat fakir miskin, fisabilillah.

Mudah-mudahan, pengalaman hidup di negeri para Nabi ini bisa bermanfaat bagiku, keluarga, dan umat Islam lain. [Rakhimah, Mesir/hidayatullah.com]

Monday, 6 September 2010

Ramadhan di Makkah: Hari-hari al-Qur’an

Ramadhan di Makkah: Hari-hari al-Qur’an

E-mail Print PDF
Jika Ramadhan, semua penghafal al-Qur’an ‘turun gunung’ ke masjid-masjid atau mushollah

Hidayatullah.com—Tahun ini, usia saya sudah hampir 51 tahun. Tidak terasa, saya sudah berada Tanah Haram, sekitar 33 tahun lamanya. Pertama kali menginjakkan kaki di Makkah, tujuan saya ada mengaji. Saya akhirnya kuliah di Umul Qura’ di jurusan Ushuluddin.

Namun karena semenjak kuliah saya sudah berurusan dengan jamaah haji dan umrah, akhirnya lambat laun saya menjadi mutawwif (pembimbing umrah dan haji) dan menghandle jamaah. Kini, saya, istri, anak-anak, dan orangtua, sudah tinggal di sini.

Ramadhan di bumi kelahiran Nabi Muhammad ini sudah saya rasakan lebih dari seperempat abad lamanya. Meski demikian, suasana ibadahnya kayaknya hampir sama saja. Tetap indah dan tak pernah membosankan. Bahkan dari tahun ke tahun, suasana kemudahan semakin banyak.

Suasana orang yang ingin beribadah di Haram hampir sama dengan jamaah Haji. Ini terjadi karena banyak orang melakukan umrah, sebagaimana ada targhib (janji) dari Rasulullah. Akibatnya, jamaah membludak dan hotel ikut jadi mahal. Wajar saja, ini karena permintaan lebih banyak dari persediaan kamar. Banyak orang mampu ingin menikmati suasana indah Ramadhan di Masjidil Haram.

Hanya saja, di bulan Ramadhan, suasanya jauh lebih teratur, sebab manusianya jauh lebih ngerti agama. Agak berbeda sekali dengan musim haji yang boleh dikatakan lebih kacau balau.

Sekedar contoh, di Bulan Ramadhan, tidak ada perempuan berdiri satu saf dengan laki-laki. Sebaliknya di haji itu menjadi pemandangan biasa. Sebab umumnya, kalau haji yang datang banyak orang kampung dan sebagian besar belum pernah kenal teknologi tinggi. Seperti naik lift yang dikhususkan wanita. Selain itu, tingkat bekal ilmu syar'inya belum memadai. Sedang bulan Ramadhaan sebaliknya.

Saat Ramadhan Masjidil Haram jauh lebih bersih, tapi tidak saat di musim haji. Susana seperti ini bukan hanya ada di Masjidil Haram saja, namun hampir terjadi di kota Makkah secara umum.

Selama lebih dari 30 tahun, baru sekali saya Ramadhan di Indonesia. Tapi di Indonesia sangat keterlaluan. Di Jakarta, misalnya, siangnya tidak terlihat suasana shaum Ramadhan sama sekali. Banyak orang makan dan minum minum. Warung juga buka seperti biasa di mana-mana. Pokoknya tidak ada suasana yang mendukung ibadah. Hanya malamnya saja yang kelihatan karena masjid-masjid menyelenggarakan tarawih.

Pernah menjelang buka saya singgah di salah satu mushollah. Mengagetkan, orangnya cuma satu. Dia yang adzan, dia yang iqomah dan dia pula yang menjadi imam. Sungguh memprihatinkan.

Saya sempat mampir ke masjid Ma'had Alhikmah di Jalan Bangka, Kemang. Di situ tarawihnya hampir satu juz. Atau di masjid jamaah Tablig di Hayam Wuruk, Alhamdulillah, imamnya huffaz dan bagus.

Di Indonesia, jika Ramadhan, mall dan TV sangat ramai, masjid malah sepi, apalagi jika menjelang i'tikaf. Di Makkah sebaliknya. Untuk mencari stasiun TV luar harus menggunakan parabola.

“Banjir” Infaq dan al-Qur’an

Ramadhan di Makkah tidak ada dukanya. Hampir semua saya rasakan sebagai suka. Dari semua sisinya, baik urusan dunia dan akhirat.

Ini terjadi karena nuansa Ramadan di Makkah memang sangat kental nuansa ibadahnya. Apalagi kalau berada di sekitar Masjidil Haram. Tak ada yang kita saksikan kecuali semua orang berlomba-lomba beribadah dan bersedekah.

Selama Ramadhan, tak akan kita saksikan satu orangpun tidak berpuasa, layaknya di Indonesia. Selain itu, Ramadhan di sini, ibarat bulan infak. Hampir semua orang kita saksikan begitu semangat berinfak.

Setiap hari, semua orang –tak peduli orang Asli Arab atau pendatang-- membagi-bagi uang, makanan untuk iftar (buka puasa) dan lain-lain.

Seandainya ada orang datang ke Tanah Haram di Bulan Ramadhan tanpa uang sepeser pun, dipastikan ia tidak akan kelaparan dan pasti kenyang. Orang membagi iftar ada di mana-mana. Termasuk bekal sahur. Ibaratnya, hanya dengan bekal badan saja, orang sudah dijamin kenyang. Bahkan kalau berani, malah bisa pulang bisa membawa 1 kwintal kurma terbagus.

Sekedar catatan, di bulan Ramadhan, semua kurma yang terbaik di Saudi akan dikeluarkan. Dari yang harganya cuma 5 real (sekitarRp. 45 ribu) per kilo sampai yang harga 100 real (hampir 300 ribu) per kilo.

Keindahan yang tidak ada di tempat lain adalah semangat beribadah di masjid-masjid, khususnya di Masjidil Haram. Meski demikian, hampir di semua masjid, walau masjid kecil sekalipun, semua penuh orang untuk dzikir, baca al-Quran atau shalat.

Satu lagi yang juga tak kalah indah di Makkah, para huffaz (penghafal al-Quran), betul-betul memanfaatkan Ramadhan untuk memuraja'ah (melancarkan) hafalannya.

Hampir semua imam tarawih di masjid kecil sekalipun, termasuk para imam baru, sengaja diterjunkan oleh guru-guru mereka untuk memurajaah hafalannya. Ibaratnya, mereka ‘turun-gunung’ ke masjid-masjid kecil atau mushollah.

Huffaz yang saya maksud di sini adalah anak-anak yang baru belasan tahun. Usianya setingkat SMP atau SMU. Meski demikian, mereka adalah anak-anak yang sudah khatam hafalannya. Subhanallah, rata-rata di semua masjid, anak-anak muda yang ditugaskan menjadi imam tarawih itu memiliki suara yang luar biasa bagus, tartil dan lancar hafalannya. Sungguh luar biasa indah!

Pemandangan ini, bukan sebuah pemandangan aneh. Bahkan pernah, di sebuah masjid kecil di Tanah Haram, yang menjadi imam anak berusia 6 tahun. Tapi jangan keliru, ia memiliki suara luar biasa bagus. Memang belum baligh, namun mereka sudah mumayyiz (yang telah mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk).

Sementara itu, di Masjidil Haram, banyak orang menanti para huffaz, yang umumnya imam senior menjadi imam secara bergantian, sampai selesai satu juz.

Meski di Masjidil Haram shalatnya tarawihnya 23 rakaat (20+3), rata-rata jamaah menikmati dan sangat merindukan. Bacaan 1 juz yang membutuhkan waktu sekitar dua jam tak membuat orang bosan atau beranjak.

Ini karena orang begitu menikmati beribadah. Bacaan yang indah dan mengasyikkan ikut membawa suasana jamaah bersemangat. Tak sedikit jamaah menangis karena mereka menghayati makna bacaan imam. Ada juga yang ikut menangis karena di samping kiri dan kanan mereka sudah menangis,.

Dengan kata lain, bulan Ramadhan di Tanah Haram itu seperti bulan al-Quran. Bulan Ramadhan, adalah hari-harinya demo keindahan al-Quran.

Sunday, 5 September 2010

Allah Itu Dekat

Allah Itu Dekat

16/7/2010 | 05 Sya'ban 1431 H | Hits: 10.657

Kirim Print

dakwatuna.com – “Dan Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka katakanlah sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka memenuhi (panggilan/perintah)Ku, dan beriman kepadaKu agar mereka mendapat petunjuk (bimbingan)”. (Al-Baqarah: 186)

Ayat ini meskipun tidak berbicara tentang Ramadhan seperti pada tiga ayat sebelumnya (Al-Baqarah: 183-185) dan satu ayat sesudahnya (Al-Baqarah: 187), namun keterkaitannya dengan Ramadhan tetap ada. Jika tidak, maka ayat ini tidak akan berada dalam rangkaian ayat-ayat puasa seperti dalam susunan mushaf. Karena setiap ayat Al-Qur’an menurut Imam Al-Biqa’I merupakan satu kesatuan (wahdatul ayat) yang memiliki korelasi antar satu ayat dengan yang lainnya, baik dengan ayat sebelumnya atau sesudahnya. Disinilah salah satu bukti kemu’jizatan Al-Qur’an.

Kedekatan Allah dengan hambaNya yang dinyatakan oleh ayat di atas lebih khusus daripada kedekatan yang dinyatakan dalam surah Qaaf ayat 16: “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” yang bersifat umum. Kedekatan Allah dengan hambaNya dalam ayat di atas merupakan kedekatan yang sinergis, kedekatan yang aplikatif, tidak kedekatan yang hampa dan kosong, karena kedekatan ini terkait erat dengan doa dan amal shalih yang berhasil ditunjukkan oleh seorang hamba di bulan Ramadhan, sehingga merupakan motifasi terbesar yang memperkuat semangat ber Ramadhan dengan baik dan totalitas.

Dalam konteks ini, korelasi ayat doa dan kedekatan Allah yang khusus dengan hambaNya dengan ayat-ayat puasa (Ayatush Shiyam) paling tidak dapat dilihat dari empat hal berikut ini: Pertama, Salah satu dari pemaknaan Ramadhan sebagai Syahrun Mubarok yang menjanjikan beragam kebaikan adalah Syahrud Du’a dalam arti bulan berdoa atau lebih jelas lagi bulan dikabulkannya doa seperti yang diisyaratkan oleh ayat ini. Karenanya Rasulullah saw sendiri menjamin dalam sabdanya: “ Bagi orang yang berpuasa doa yang tidak akan ditolak oleh Allah swt.” (HR. Ibnu Majah). Kondusifitas ruhiyah seorang hamba di bulan Ramadhan yang mencapai puncaknya merupakan barometer kedekatannya dengan Allah yang juga berarti jaminan dikabukannya setiap permohonan dengan modal kedekatan tersebut. Dalam kitab Al-Ma’arif As-Saniyyah Ibnu Qayyim menuturkan: “Jika terhimpun dalam doa seseorang kehadiran dan keskhusyuan hati, perasaan dan kondisi kejiwaan yang tunduk patuh serta ketepatan waktu yang mustajab, maka tidaklah sekali-kali doanya ditolak oleh Allah swt. Padahal di bulan Ramadhanlah kondisi dan situasi ‘ruhiyah’ yang terbaik hadir bersama dengan keta’atan dan kepatuhannya dengan perintah Allah swt.

Kedua, Ungkapan lembut Allah “ Sesungguhnya Aku dekat” merupakan komitmen Allah untuk senantiasa dekat dengan hambaNya, kapanpun dan dimanapun mereka berada. Namun kedekatan Allah dengan hambaNya lebih terasa di bulan yang penuh dengan keberkahan ini dengan indikasi yang menonjol bahwa hambaNya juga melakukan pendekatan yang lebih intens dengan berbagai amal keshalihan yang mendekatkan diri mereka lebih dekat lagi dengan Rabbnya. Padahal dalam sebuah hadits qudsi Allah memberikan jaminan: “Tidaklah hambaKu mendekat kepadaku sejengkal melainkan Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Tidaklah hambaKu mendekat kepadaKu dengan berjalan melainkan Aku akan mendekat kepadanya dengan berlari dan sebagainya”. (Muttafaqun Alaih)

Ketiga, Istijabah (falyastajibu li) yang dimaknai dengan kesiapan hamba Allah untuk menyahut dan melaksanakan setiap panggilanNya merupakan media dikabulkannya doa seseorang. Hal ini pernah dicontohkan dalam sebuah hadits Rasulullah saw yang menceritakan tiga orang yang terperangkap di dalam gua. Masing-masing dari ketiga orang tersebut menyebutkan amal shalih yang mereka lakukan sebagai media dan wasilah mereka berdoa kepada Allah. Dan ternyata Allah swt serta merta memenuhi permohonan masing-masing dari ketiga orang itu dengan ‘jaminan amal shalih yang mereka lakukan’. Padahal bulan Ramadhan adalah bulan hadirnya segala kebaikan dan berbagai jenis amal ibadah yang tidak hadir di bulan yang lain; dari ibadah puasa, tilawah Al-Qur’an, Qiyamul Lail, Zakat, infaq, Ifthorus Shoim dan beragama ibadah lainnya. Kesemuanya merupakan rangkaian yang sangat erat kaitannya dengan pengabulan doa seseorang di hadapan Allah swt. Dalam hal ini, Abu Dzar menyatakan: “Cukup doa yang sedikit jika dibarengi dengan kebaikan dan keta’atan seperti halnya garam yang sedikit cukup untuk kelezatan makanan”.

Keempat, Kata ‘la’alla secara bahasa menurut pengarang Tafsir Al-Kasyaf berasal dari kata ‘alla’ yang kemudian ditambah dengan lam di awal yang berarti ‘tarajji’ merupakan sebuah harapan yang langsung dari Zat Yang Maha memenuhi segala harapan. Logikanya, jika ada harapan maka ada semangat, apalagi yang berharap adalah Allah swt terhadap hambaNya sehingga tidak mungkin hambaNya menghampakan harapan Tuhan mereka. Karenanya rangkaian ayat-ayat puasa diawali dengan khitab untuk orang-orang yang beriman: “hai orang-orang yang beriman”. Dalam konteks ini, setiap hamba yang selalu mendekatkan diri dengan Allah tentu besar harapannya agar senantiasa mendapat bimbingan dan petunjuk Allah swt. Demikian redaksi ‘La’alla’ yang selalu mengakhiri ayat-ayat puasa termasuk ayat doa ini, menjadi korelasi tersendiri dalam bentuk keseragaman dengan ayat-ayat puasa sebelum dan sesudahnya ‘La’allakum Tattaqun, La’allakum Tasykurun, La’allahum Yarsyudun, dan La’allahum Yattaqun’.

Demikian pembacaan terhadap satu ayat yang disisipkan dalam rangkaian ayat-ayat puasa. Tentu tidak semata untuk memenuhi aspek keindahan bahasa. Namun lebih dari itu, terdapat korelasi dan hikmah yang patut diungkap untuk memperkaya pemaknaan terhadap Ramadhan yang terus akan mendatangi kita setiap tahun. Karena pemaknaan yang komprehensif terhadap ayat-ayat puasa akan turut mewarnai aktifitas Ramadhan kita yang berdampak pada peningkatan kualitas keimanan kita dari tahun ke tahun. Saatnya momentum special kedekatan Allah dengan hamba-hambaNya di bulan Ramadhan dioptimalisasikan dengan doa yang diiringi dengan amal shalih dan keta’atan kepadaNya.