Saturday, 30 April 2011

Belajar Dari Seorang Nenek Renta


Minggu, 27/02/2011 14:09 WIB | email | print

Oleh Fathelvi Mudaris

Subhanallaah…sungguh kagum aku pada seorang nenek tua yang umurnya mungkin sudah mencapai angka 80 atau 90 itu. Benar-benar mengagumkan.

Semua ini kemudian mengajarkanku tentang kebiasaan dan kita sebagai manusia yang menjadi ‘budak’ dari kebiasaan tersebut.

Setelah lebih dari tiga hari membersamai beliau, aku menjadi semakin mengenali sosok itu. Nenek tua itu berwajah bersih. Memiliki kebiasaan yang selalu rapi, dan sangat rajin.

Ia sangat mencintai mesjid dan selalu tepat waktu dalam sholatnya. Jika saja sudah terdengar adzan berkumandang, ia bersegera untuk melaksanakan sholat. Sering kali ia menunaikan sholat ke mesjid.

Tapi, belakangan anak dan cucunya sudah melarang karena ketuaannya itu. Dikhawatirkan beliau akan terjatuh jika berjalan sendirian ke mesjid. Osteoporosis telah merenggut kebebasannya untuk melangkah. Tapi, meski dengan punggung yang bungkuk begitu, ia selalu berupaya untuk ke mesjid. Ia selalu menjadi yang pertama di seantero penghuni rumah itu untuk berwudhu’ dan sholat jika saja adzan telah berkumandang.

Dan ia pula yang menjadi orang yang paling berlama-lama bersama Al Qur’an dan melafadzkan huruf demi hurufnya. Ia juga masih turun ke dapur dan ikut memasak sesuatu meski hanya sayur bening, walaupun anak cucunya sudah mencegat.

Ia pun masih senantiasa bersih dan rapi dengan kamarnya yang tak terlihat berantakkan sedikitpun, di saat orang-orang seusianya banyak yang mengabaikan hal ini.

Kemudian aku bertanya pada anak dari nenek itu. Bagaimana bisa nenek itu melaksanakannya di saat orang-orang seumuran beliau mungkin tak banyak yang bisa seperti itu?

Anaknya menjawab, bahwa beliau telah melakoni ini semua semenjak ia kecil dulunya. Semenjak ia mulai mengerti tentang kehidupan. Masya Allah…

Semua ini mengajarkan kepada kita, bahwa kita memang menjadi ‘budak’ dari kebiasaan kita. Ketika kita membiasakan suatu keburukan, maka, kita akan menjadi budak dari keburukkan tersebut.

Kita akan senantiasa melakoninya. Pun sebaliknya, ketika kita terbiasa melakoni sesuatu kebaikan. Kita pun menjadi ‘budak’ dari kebiasaan tersebut yang akan senantiasa pula kita lakukan.

Seperti kata sebuah pepatah Minang, “Ketek taraja-raja, gadang tabawo-bawo, lah tuo tarubah tido.” (Di waktu kecil mulai belajar untuk melakukannya, ketika dewasa mulai menjadi kebiasaan, ketika tua tidak dapat diubah lagi.)

Sebuah penelitian membuktikan bahwa otak kita akan mereduksi segala sesuatu yang sangat jarang digunakan, diulang maupun dibiasakan. Itu sebabnya, jika kita sudah lama tidak mengulangi sesuatu semisal pelajaran maka kita akan melupakannya.

Apalagi hafalan Al Qur’an, yang ketika sudah lama tidak diulang, ia-nya begitu cepat lenyap dari ingatan, bahkan lebih cepat dari kuda yang lepas dari tali kekangannya. Astaghfirullaah… astaghfirullaah…

Maka sebab itu pulalah, Rasulullaah perintahkan kepada kita untuk menjaga kebiasaan baik ini. Tentang menjaga amalan baik kita. Sungguh Allah menyukai amalan yang istimror. Berkelanjutan. Dari Aisyah ra., Rasulullah bersabda : “Amal perbuatan agama yang paling disukai Allah yaitu amal perbuatan yang terus dikerjakan oleh orang yang mengerjakannya.” (Al Hadits)

Ini semua menjadi ‘reminder’ bagi kita, bagi diriku terutama. Sebab, aku pun sesungguhnya masih sangat jauh dari ini semua. Aku pun masih belum bisa melaksanakan yang demikian itu.

Semoga ini semua menjadi pengingat bagi diri kita tentang ke-istimror-an amalan-amalan yang kita kerjakan. Astaghfirullaah lii wa lakum ajma’in.

www.fathelvi.blogspot.com

LAGI-LAGI aLLAH MENJAWAPNYA DENGAN PERINTAH PUASA

Puasa pertengahan bulan itu sering disebut dengan AYYAMUL BIDH. Rasulullah selalu melaksanakan Ayyamul Bidh setiap 3 hari pada tengah bulan, yaitu setiap tanggal 13, 14, dan 15 (pada bulan Hijriyah).

Dalam sebuah riwayat disebutkan: Ibnu Abbas ra. berkata :

“Adalah Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan berpuasa pada hari putih (tanggal 13, 14, dan 15) baik dalam bepergian atau di rumah.” (HR. Thabrani)

Dalam riwayat lain disebutkan pula, Dari Abu Dzar ra. berkata, Rasulullah bersabda :

“Jika kamu berpuasa tiga hari dari satu bulan maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15.” (HR. Nasa’, Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Apakah rahasia dari Ayyamul Bidh ini sehingga Rasulullah tak pernah luput dari mengerjakannya? Dan mengapa pula dianjurkan pada tanggal-tanggal itu?

Sudah kita ketahui bahwa pertengahan Bulan Hijriah adalah waktu munculnya bulan purnama. Nah, saat bulan purnama bersinar , terjadilah yang namanya pasang air laut. Letak bulan yang dekat dengan bumi menyebabkan gaya gravitasi bulan mempengaruhi ketinggian air laut dimuka bumi, dan terjadilah pasang air laut. Ternyata, gravitasi dari bulan ini tak hanya mempengaruhi kondisi bumi (benda mati) tetapi juga benda hidup. Terutama manusia. Seorang peneliti berkebangsaan Amerika pernah mengadakan penelitian mengenai kondisi kejiwaan manusia ketika terjadi bulan purnama. Penelitian itu menyimpulkan bahwa kondisi kejiwaan manusia saat bulan purnama cenderung lebih labil, emosional, dan tidak terkendali. Semua perasaan menjadi mudah membuncah dari dalam diri. Mudah marah, mudah tersinggung, mudah senang, mudah sedih, pokoknya semua sifat yang ada pada dirinya menjadi lebih mudah ter‘upload’ dari dirinya. Mungkin inilah salah satu penyebab banyak mitos dan film yang mengaitkan antara monster atau hantu dengan bulan purnama

Coba kita perhatikan dua fenomena ini. Puasa, pada dasarnya menuntun kita agar menundukkan nafsu kita. Ketika kita berpuasa, kita dituntut untuk dapat mengendalikan emosi kita dan menjaga syahwat kita. Ketika ilmu sains modern mengungkapkan adanya kelabilan emosi manusia saat bulan purnama, Islam telah menganjurkan untuk melaksanakan puasa tepat saat munculnya sang bulan purnama. Islam telah memberi jalan pada umatnya agar tidak terkena pengaruh kelabilan emosi yang terjadi pada tanggal tersebut. Rasulullah menganjurkan kita berpuasa, agar hati kita selalu terjaga dari amarah, nafsu, dan segala sifat buruk lain yang cenderung lebih meluap pada saat itu dibanding saat-saat lainnya.

Subhanallah… Inilah hikmah di balik sunnah. Tak heran jika Rasul tak pernah meninggalkan Ayyamul bidh. Tak heran pula jika Rasulullah menganjurkan kita untuk berpuasa 3 hari setiap bulan, terutama pada pertengahan bulan. Ternyata anjuran tersebut memiliki rahasia yang tak disangka-sangka. Memang segala amalan yang dianjurkan dalam Islam ini selalu memiliki hikmah yang tersembunyi yang luar biasa dahsyatnya. Lalu, masihkah kita ragu dan malas-malasan melaksanakan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah?

Picking up the Pieces: The Love-Drug Syndrome and Dealing With Lost Love


Love is a powerful, compelling emotion. It can make you laugh and it can make you cry. It can lift you up to the clouds and it can hurl you into an abyss. One of the dilemmas Muslims face, especially Muslim sisters, is the situation in which they get to know a prospective spouse and for some reason it does not work out.

This article is not discussing the fiqh behind getting to know your prospective spouse, as it is common for a couple to have a few “halaal” meetings and still fall deeply in love. Rather, this article deals with how to get over someone and moving on after the falling in love stage. After you have decided that this person is the one for you and then due to circumstances - be it parents, finances, etc., the two of you cannot get married. Insha Allah this article will be a guide on how to get over that person and move on with your life.

Step 1: Accepting Allah’s Qadr

This has got to be one of the toughest tests of qadr. Love muddles your mind and when all you see are the good characteristics of someone it is difficult to see why it is not working out, especially if this is your first real love. How can this brother who is practicing his deen, has a nice beard, soft and caring be wrong for me? How can this sister who is attractive, fun and religious not be my perfect partner?

The key concept to remember here is: you do not know someone until you have lived with them for a substantial time. Even that person does not know what they are like and how they will react in certain situations. Just because you have these elated feelings of love does not necessarily mean this is the right person. Marriage is a struggle and people develop themselves and change with the experience. Only Allah knows your compatibility, only Allah knows what situations you will face and your reactions. Only Allah knows whether or not this marriage will bring you closer to Him or distract you from the real purpose in life. It is only Allah who knows. Have trust in Allah that He has made the right choice for you. For no matter how much this person claims their love for you or vice versa, know that no one can love you as much as Allah.

So firstly, make dua to Allah to ease your pain and help you be content with His qadr. The following is my favorite Hadith regarding qadr as it really fills you with the awe of Allah and His infinite wisdom.

“Allah `azza wa jall said: ‘Verily, from amongst My slaves is he whose faith cannot be rectified except by being inflicted with poverty, and were I to enrich him, it would surely corrupt him. Verily, from amongst My slaves is he whose faith cannot be rectified except by wealth and affluence, and were I to deprive him, it would surely corrupt him. Verily, from amongst My slaves is he whose faith cannot be rectified except by good health, and were I to make him sick, it would surely corrupt him. Verily, from amongst My slaves is he whose faith cannot be rectified except by disease and illness, and were I to make him healthy, it would surely corrupt him. Verily, from amongst My slaves is he who seeks worship by a certain act but I prevent that from him so that self-amazement does not enter his heart. Certainly, I run the affairs of My slaves by My Knowledge of what is in their hearts. Certainly, I am the All-Knower, All-Aware’.” [Tabarani]

Step 2: Awareness of the love-drug syndrome

An interesting study was conducted comparing drug users to people who claimed to be “madly in love”. They found that brain scans showed people who are in the first stages of love and people who are high on cocaine have the same areas of the brain stimulated while looking at a picture of their “beloved”. In other words, being in the first stage of love is similar to being high on drugs! With drugs, you are not in love with the powder itself – you are in love with the feelings that it gives you.

Similarly, the thing that we love is the special attention, the butterflies in the stomach, the acknowledgment that someone cares about us in a special way, looks at us in a special way, thinks about us in a special way – the constant day dreaming about the future and daily scenarios. So it is not that this person is perfect, it is that this person allows us to feel all these emotions which are addictive. In reality we are not in love with the person, we are in love with Love itself.

Being in love with Love explains how some people overlook major faults in their prospective spouse. I knew a practicing sister who wanted to marry someone who had a drug and alcohol problem. This was because in both cases these “faults” were discovered during the first butterfly phase of love and not before. Alhamdulilah, by the qadr of Allah the marriage did not take place, but it was due to circumstances, not because the sister had realised that they were not a suited match.

Awareness of this love-drug syndrome has two major benefits. Firstly, awareness is power and it breeds hope. Once you are aware that it is the feelings you are attached to, realise you can actually get them elsewhere.

These feelings are not specific to this one person; you will get these feelings with your new, more suitable prospective partner – the one that Allah will put into your life at the right time insha Allah. Love clouds your mind and makes you think that you will not find this strong love and passion with anyone else. But this is simply not true. You will find this love to be even stronger and more passionate with the right person (the one that is written for you in the Lahw al Mahfooz).

The second benefit is knowing that just like a drug-user naturally has withdrawal symptoms when they stop, you too will naturally have withdrawal symptoms, and it will be difficult. Getting over someone is emotionally painful so don’t be too hard on yourself, validate your feelings and allow yourself time to heal. Know that this is common – nearly everyone goes through heartache at some point in their lives, and eventually recover with time.

As a side point: It is not a sin to fall in love; it is a natural emotion which the human species depends on! If you did sin in the process then repent to Allah, He is the Most Forgiving, Most Merciful. Love is a powerful emotion, which is why there are boundaries in Islam. If you have fallen outside those boundaries, repent and move on.

Step 3: Be proactive

Allow yourself time but also get proactive! Marriage is just one of the many aspects of your life; it is not the be all and end all of things. What are your aspirations? What do you want to achieve in your life? Write down a list of goals you want to achieve by the end of the month and get started on them right away. As Muslims, our continuous goal is striving to get closer to Allah, so working on your eman and your relationship with Allah must be included in some way. Focus your attention on moving forward rather than wasting time with something that “could have been”.

Step 4: Move on

In the spirit of being proactive, the last stage is to actively open your heart and mind to someone else. This could be difficult, as naturally comparisons will creep in, but again realise the fact that it has not worked out means that Allah has someone better suited for you. As illustrated in the famous Hadith of the birds:

“If you depend on Allah with due reliance, He would certainly give you provision as He gives it the birds who go forth hungry in the morning and return with a full belly at dusk.” [Tirmidhi]

Allah will provide for you but you have to get up and get moving again. Just like the birds, go out and seek. Make the effort on your part and leave the rest to Allah and His infinite wisdom.

**Taken from: http://muslimmatters.org/2011/01/25/picking-up-the-pieces-how-to-deal-with-lost-love/

Monday, 25 April 2011

LONGKANG

Salams,

Sahabat-sahabat yang ku muliakan, semoga Allah swt memuliakan anda sebagai seorang tetamu, yang datangnya membawa rahmah, perginya membawa dosa tuan rumah.


1
Innalillah.

Abang saudara saya meninggalkan kami sebulan lepas. Mungkin kurang dari sebulan, saya tidak berapa ingat. Accident. Masih sangat muda. Antara abang saudara saya yang paling kacak, dan baik hati, terutamanya terhadap ibu bapa nya, serta kedua ibu bapa saya.

Semasa berita pemergian beliau dimaklumkan kepada saya, saya sedang bersiap sedia untuk solat. Bonda menyabarkan saya, dan saya masih ingat lagi kemudiannya betapa saya menangis teresak-esak sepanjang malam. Lantasnya saya menelepon isterinya, hanya sempat berbalas salam dan kemudiannya saya tidak mampu berkata apa-apa, cuma teresak-esak dihujung talian. Kak Noli, isterinya, lantas menyabarkan saya.

Kemudiannya saya tergelak, siapa yang patut menyabarkan siapa? How funny.

Kematian itu, sungguh, tidak diduga.



2
Semalam saya berbual dengan Alex (the German lady, tall, blond, blue eyes, beautiful). Kami berbicara mengenai racism, religion dan immigration. Sungguh, baru saya tahu pandangan sebenar dari seorang wanita bukan Islam. Alex berkata, setiap kali melihat wanita berjilbab, perkara pertama yang difikirkan adalah kasihan wanita itu, dipaksa oleh keluarganya memakai jilbab. Dia selalu berbicara mengenai perkara ini dengan Fady dan teman wanitanya yang muslim tetapi tidak bertudung. Saya hanya tersenyum kelat (manis jua rasanya), sepanjang hidup saya, saya ngga pernah berjumpa dengan wanita yang dipaksa memakai tudung. Saya terangkan padanya, kebanyakan kami, ya, mostly, memakai tudung kerana Allah swt. Percayalah, panas mentari di waktu musim panas tidaklah sepanas yang disangka, malahan rasanya sejuk-sejuk sahaja.

Kami jua berbicara mengenai Hitlers, tentang kegilaannya yang membunuh 12 juta manusia atas nama pembersihan ethnic. Alex menyatakan bahawa, kalau dia mengaku dia adalah seorang yang berbangsa German, ramai sekali manusia berkulit putih memandang serong padanya. Saya katakan, kita sekapal, tapi mereka memandang serong kepada saya atas nama Islam.

Alex jua berkata, terlalu ramai extremists in Islam. Tidak dapat tidak, saya hanya mengangguk. Adakah hukum Islam yang membunuh wanita atas nama tidak mahu mengikut kata ayah bonda dalam 'arranged marriage'? Tidak masuk akal. Meletupkan diri atas nama jihad? (Anda pasti punya pendapat sendiri, sayangnya saya tidak berminat untuk berdebat dalam hal ini).

Saya terangkan padanya, akhlak kami dalam peperangan adalah, antaranya, tidak boleh membunuh haiwan, wanita, kanak-kanak dan orang tua, kecuali mereka yang mendakwa tentera. Tidak boleh merosakkan harta awam, hatta mematahkan ranting-ranting dan kayu-kayan. Alex terpana.

Alex jua mengatakan bahawa lelaki muslim di tempatnya, kebanyakannya Turkish, yang tidak punya pelajaran dan pekerjaan, sentiasa sahaja mengacau, menghina dan mencerca beliau dan rakan-rakan, sehingga menaiki bas awam di Mainz tidak lagi menjadi satu kebiasaan buat Alex. Sungguh, saya katakan padanya, itu bukan akhlak kami kaum mukmin. Tuhan kami (iaitu Allah swt) telah memerintahkan bahawa kaum lelaki mukmin hendaklah menundukkan pandangan terdahulunya dari kaum wanita mukmin. Alex terpana lagi, dia tidak tahu bahawa itu adalah satu perintah dari Tuhan Alam Semesta. A code of conduct that is sent directly from the Above.

Fuh. Penat menulis. Sambung nanti. Saya suka berbicara, bukan berdebat, terutamanya dengan non-muslims. Walaupun pengetahun saya sangat cetek, sama-samalah kita menyebarkan ilmu dan salam kepada semua. Bantulah saya untuk menjadi wanita mukmin.

Bak kata pensyarah Macroeconomic saya - help me, to help you.

Awoh, dan Alex dengan beraninya mengajak saya ke pub menonton bola! Pub itu, yang samanya seperti longkang.








MAKAN

Salams,


Saya biasanya makan enam kali sehari, ya, sila bulatkan biji mata anda. Saya budak asrama, yang makannya enam kali sehari. Tidak kiralah kalau cuma makan sebiji (ke sekeping) karipap atau kuih onde-onde, ia tetap dikira sekali makan.

Kalau disini, ya ampun, sangat malas mahu memakai pakaian yang lengkap dan berjalan ke dapur. Ya, perlu tudung dan pakaian yang menutup aurat. Penat. Dan kalau tiba-tiba rakan-rakan satu flat masuk ke dapur, walah, saya malu bukan kepalang. Tiba-tiba English saya seakan seperti budak darjah satu. "You", erk, "me", erk, cabut lari masuk ke dalam bilik.

Dan natijahnya, saya akan makan sekali sehari, atau dua kali sehari, dan kudap-kudapan sudah tidak berminat lagi.

Saya tidak biasa makan pedas. Cili sos cap Aminah Hassan (tak ingat), atau cap Life pun dah dikira pedas bagi saya. Kalau cili potong, setakat hirisan halus pun tak mampu den nak makan eih. Rakan-rakan terbaik saya sangat suka masak pedas-pedas, mentang-mentang ada darah nogori. Walaupun saya pun ada darah nogori, saya lebih sukakan masakan/makanan yang manis-manis. Pelik. Dan kemudiannya mereka akan mentertawakan saya yang menggelupur mencari air. Haish, sabor je la.

Kalau disini, saya terikut-ikut pola pemakanan rakan-rakan yang suka pedas-pedas. Natijahnya, ya, kasihan perut saya menjadi mangsa. Kepedihan ulu hati dan sebagainya, medical term yang saya malas nak google dan tak tau pun.

Kesimpulannya, kenalilah diri anda, dengan mengenali diri anda, anda akan lebih bahagia dan ceria.

Sekian, terima kasih.



Sunday, 24 April 2011

NIKMATNYA

Salams,

Taken from here. Please take care.

____________________________________



Nikmat Mengenal Allah s.w.t

Wahai Allah Dzat Yang Maha Mengetahui segala ilmu, Yang Maha Menciptakan Dinul haq, sesungguhnya hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui Islam yang sebenar-benarnya. Karena itu, tuntunlah kemampuan hamba-Mu ini untuk mengutarakan kebenaran-Mu.

Jadikan siapa pun yang ikut menyimak kebenaran-Mu ini, Kau bersihkan hatinya dengan sebersih-bersihnya, sehingga tidak ada satu niat pun, kecuali ingin mencari kebenaran-Mu dan bertemu dengan-Mu.

Tidak ada kenikmatan yang lebih besar di dunia ini daripada nikmat mengenal Allah. Bahkan bagi orang yang sudah mengenal-Nya, nikmat dunia dan seisinya ini tidak akan mampu menandinginya. Alam semesta ini hanya sebahagian kecil saja dari nikmat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya.

Seseorang tidak akan dapat mengukur nikmat Allah dengan dunia yang ada di tangannya. Bahkan, alam semesta berikut isinya pun tidak akan mampu mendatangkan kenikmatan Allah yang tiada tandingannya. Bagi orang yang mengenal Allah, segala sesuatu kejadian yang menimpa dirinya hanyalah nikmat yang diberikan oleh-Nya semata.

Kurang wang adalah nikmat karena ia akan selalu berikhtiar di jalan Allah, sehingga menambah pahala ikhtiar dan kesabaran jika dirinya tawakkal kepada-Nya. Banyak wang pun merupakan nikmat, karena dapat lebih banyak mempunyai kesempatan untuk beramal di jalan Allah.

Badan sihat adalah nikmat, karena ia lebih mampu untuk melakukan ibadah, beramal, dan berjihad di jalan Allah. Sakit pun merupakan nikmat, karena akan melebur segala dosa jika dirinya tabah dan sabar menerimanya dengan tidak meninggalkan ikhtiar zahir; mencari obat penyembuh.

Dipuji adalah nikmat, karena dapat mendengarkan kebesaran Allah dan merasakan bagaimana hebatnya Allah menutupi aibnya. Dihina pun merupakan nikmat karena dapat melihat keaiban-keaiban diri sendiri di samping dapat menjadi ladang pahala sabar bagi dirinya sendiri.

Bagi orang yang mengenal Allah, semua kejadian adalah nikmat semata. Subhanallah! Mudah-mudahan kita semua digolongkan oleh-Nya menjadi ahli makrifat seperti itu. Namun sayang, ternyata hanya sedikit sekali orang yang mengenal Allah (arifbillah). Kebanyakan hanya tahu nama saja, tidak merasakan kelazatan nikmat bersama-Nya.

Padahal, barangsiapa sudah merasa bersama-Nya, tidak mungkin merasa kesepian karena Allah 'Azza wa Jallaa senantiasa bersama hamba-Nya, bahkan lebih dekat dari urat lehernya sendiri. Bagi orang yang sudah mengenal Allah, tidak mungkin lupa barang sedetik pun kepada-Nya!

Bagaimana akan lupa, kalau setiap mata memandang segala sesuatu, yang terbayang dalam benaknya adalah hasil pekerjaan-Nya. Kalau setiap telinga mendengarkan sesuatu, niscaya segala yang berbunyi itu buah tangan-Nya. Kalau setiap mulut memakan dan meminum sesuatu, mutlak segala makanan dan air itu ciptaan-Nya.

Tidak akan merasa kesepian di kala sepi dan terlena di kala ramai bagi orang yang sudah makrifat kepada-Nya. Karena, Allah-lah Dzat yang selalu memelihara dan mengawasi setiap makhluk-Nya dengan tanpa mengenal lupa. Di tengah orang banyak, di tengah pertempuran, di mana saja, mesti ingat kepada-Nya!

Allah pun pasti akan mencabut rasa takut dari hati orang yang telah makrifat kepada-Nya. Bagaimana akan takut, sedang segala yang ditakuti juga diurus oleh-Nya dan pasti akan musnah. Tiada daya dan kekuatan, kecuali atas izin dan inayah-Nya. Laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah!

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. At Taghabun (64): 11]

Lantas, adakah ahli makrifat atau arifbillah takut miskin? Pasti tidak! Karena, Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya. Bukankah jagad raya dan alam semesta ini semuanya milik Allah? Bagaimana mungkin takut miskin kalau sudah kenal dengan Dzat Yang Menguasai segalanya? Makhluk, sedikit pun tidak memiliki kekuasaaan untuk mempunyai apa-apa, bahkan tubuhnya sendiri pun mutlak milik-Nya.

Takut miskin itu karena kita belum kenal akan kehebatan dan kekayaan Allah, ragu terhadap pembahagian kekayaan dari-Nya. Allah-lah Yang Maha Berkehendak dan Maha Bijaksana. Tiada sedikit pun tandingan bagi-Nya. Allahu Akbar...!

Sungguh, dunia ini tiada ertinya. Karena yang hebat dan indah itu hanyalah Allah semata. Oleh sebab itu, tatkala mata terpesona kepada dunia, sebenarnya bukanlah kepada dunianya, melainkan kepada kehebatan perbuatan-Nya. Dengan demikian, tidak ada sedikit pun kekurangan dan keburukan di dunia ini jika dikaitkan kepada Allah.

Kendati mata melihat binatang yang menjijikkan penuh kuman penyakit sekalipun, pandangannya akan tetap penuh syukur kepada-Nya. Maha Suci Engkau ya Allah, segala puji bagi-Mu yang telah mentakdirkan kami sebagai makhluk ciptaan-Mu yang sempurna.

Itulah golongan orang yang sudah merasakan kelezatan dunia. Ternyata kebahagiaan di dunia ini tidak semata dilihat dari bentuk duniawinya. Karena, kalau cuma itu yang dijadikan sebatas tanda kebahagiaan, bererti lebih banyak orang kafir yang hidupnya bahagia, karena mereka lebih banyak dilimpahi kekayaan dunia.

Alhamdulillah, ternyata yang namanya bahagia adalah jika kita senantiasa bersama Allah dalam segala keadaan. Imam Al Ghazali menulis dalam bukunya bahwa akan sedikit di antara umat Muhammad yang masuk kedalam golongan 'Aarifiin (golongan yang mengenal Allah).

Sebagian besar orang sebelum hatinya ingat kepada-Nya, telah terlebih dahulu ditutupi dengan selalu ingat kepada dunia dan segala isinya. Dunia yang hanya sebagian kecil dari alam semesta saja sudah dapat menutupi hatinya, bagaimana mungkin boleh memasuki tingkat makrifat kepada Allah yang menguasai segala jagad raya alam semesta ini.

Sebahagian besar dari kita lebih suka kepada dunia daripada mengharapkan bertemu dengan-Nya. Kita lebih suka dipandang mulia oleh sesama manusia daripada mencari kemuliaan yang telah dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang bertaqwa. Padahal Allah-lah Dzat yang memiliki dan menguasai kebesaran dan kemuliaan. "Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan." (QS. Ar Rahman [55]: 27)

TOTAL SERVITUDE

Salams,

Taken from the E-Productive Muslim Newsletter.

Have a great week ahead.

_________________________________________________


Quran

TOTAL SERVITUDE
"Thee (alone) we worship; Thee (alone) we ask for help." Surat Al-Fatiha, Verse No.5

Scholars say that the secret of the Quran lies in Surat Al-Fatiha, and the secret of Surat Al-Fatiha lies in this verse: "You Alone We Worship; and You Alone we ask for help".

This one verse summarises what true servitude to Allah(Subhanahu Wa Ta'ala) means: We need to worship Allah (Subhanahu Wa Ta'ala) because that's our purpose in life, yet we cannot worship Him without His permission or help.

Similarly from a productivity point of view, we need to be constantly productive in order to better serve our deen, our brothers and sisters and ourselves, yet we cannot be productive without His permission and help.

So as a ProductiveMuslim, you should constantly ask Allah (Subhanahu Wa Ta'ala) for his help and support and never believe that your actions and productivity are yours, but they are from Allah (Subhanahu Wa Ta'ala).